
Arya yang mendengar ini pun langsung berkata, “Kenapa? Apa kamu tidak penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah ini?”
Mendengar ucapan Arya, Kania pun berhenti meronta dan langsung menatap tajam ke arah Arya.
“Pak, mau sampai kapan Bapak akan bersikap seperti ini terhadapku?” tanya serius Kania.
“Sampai kamu menyerah dan bisa mencintaiku,” sahut Arya.
“Mencintaimu!? Rasanya itu gak akan mungkin bisa terjadi jika sikapmu selalu seperti ini terus padaku,” ucap Kania.
Setelah mendengar ucapan Kania, Arya pun langsung terdiam sesaat dan kemudian bangun.
“Cepatlah pakai pakaianmu. Setelah itu kita akan pergi ke suatu tempat,” ucap Arya yang kemudian langsung pergi meninggalkan Kania begitu saja.
Sesaat setelah meninggalkan Kania di kamarnya, Arya pun langsung duduk termenung di ruang tamu sambil menyalakan televisi.
Walau televisi menyala, tapi dalam pikirannya selalu dipenuhi oleh ucapan Kania. Sehingga tanpa sadar dia pun bergumam, “Lalu aku sekarang harus memperlakukanmu bagaimana?”
Sesaat setelah itu, Kania pun telah selesai memakai pakaiannya dan keluar. Di saat itu pula dia melihat Arya yang sedang terdiam dengan tatapan kosong.
“Ehm,” ucapnya.
Arya yang awalnya sedang termangu ini pun langsung menengok ke arah Kania. Saat itu dalam hatinya terasa sangat sedih di tambah dengan melihat Kania yang juga tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya.
Sambil sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya, Arya pun berkata, “Sudah siap?”
Kania pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Memang kita sebenarnya mau ke mana?”
Sambil berdiri dan melangkah mengambil kunci mobil, Arya pun menyahut, “Nanti kamu juga akan tahu sendiri.”
Kania yang mendapatkan jawaban seperti itu pun melihat punggung Arya dengan tatapan bingung.
Karena tidak mendapatkan jawaban dan dirinya pun sudah terlanjur sangat penasaran, akhirnya Kania hanya bisa mengikuti ke mana pun Arya akan membawanya.
Di perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang memulai obrolan melainkan mereka hanya larut dalam pikirannya masing-masing.
Hingga suatu ketika Kania pun merasa bingung kenapa dia di bawa ke sebuah pelabuhan.
“P—Pak, kita mau apa ke sini?” tanya Kania.
Arya pun hanya terdiam dan tidak menanggapi ucapan Kania. Tak menunggu sampai lama, mobil pun dia masukkan ke dalam sebuah kapal pesiar.
__ADS_1
Lalu, tanpa banyak bicara, saat itu dia langsung membukakan pintu mobil tempat Kania duduk dan kemudian langsung menggenggam tangan Kania sambil setelah itu membawanya ke sebuah kamar yang sudah dia pesan.
Melihat ini, Kania lagi-lagi bertanya, “Kita mau apa sih sebenarnya, Pak?”
Arya pun langsung duduk di tepi tempat tidur dan kemudian menyahut, “Kita akan melakukan bulan madu kita.”
“Ha!?”
Kania pun langsung melangkah mundur ke belakang sambil berkata, “P—Pak, Bapak gak mungkin berniat melakukan i—itu kan?”
Mendengar pertanyaan Kania itu, Arya pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Belum tahu. Kita lihat aja nanti. Masih ada sisa banyak waktu buat kita melakukan itu.”
‘Blush'
Mungkin saat ini, rona wajah Kania terlihat memerah karena di saat itu dia teringat kejadian masa lalu saat Arya membuatnya susah berjalan.
Mengingat hal itu, Kania pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian dengan spontan tanpa sadari Kania berkata, “Gak. Aku gak mau kaya’ dulu lagi.”
‘Deg’
Arya yang mendengar ucapan Kania itu pun langsung bangun dan langsung memegang kedua bahu Kania sambil berkata, “Kan, tadi kamu bilang apa? Coba ulangi.”
Dengan wajah pura-pura bingung, Kania pun bertanya, “Memangnya aku tadi bilang apa?”
“Gawat. Hampir aja,” gumam Kania dalam hati.
Sementara itu Arya yang merasa takut salah dengar ini pun tetap kekeh meminta Kania untuk mengulangi ucapannya.
Sedangkan untuk Kania, dia justru berusaha sebisa mungkin untuk mengelak dan mengalihkan pembicaraan.
***
Di kediaman Mama Kiran dan Papa Aditya. Tampak seorang gadis seusia Kania yang barusan saja pulang dari luar negeri.
Ya, dia adalah Sintia. Yang di kehidupan Arya dan Kania sudah membuat kehidupan keduanya berakhir.
“Ma!” teriak Sintia.
Mama Sintia yang mendengar suara Sintia ini pun langsung keluar dan mendatangi Sintia.
“Sintia!? Kamu pulang?” tanya Mama Kiran yang pura-pura terkejut karena sebenarnya dirinya dan juga Papa Aditya sudah diberi tahu semuanya oleh Arya saat itu.
__ADS_1
Sintia pun mengangguk dan kemudian berkata, “Ma, adain pesta kedatanganku donk. Aku pingin banget ngundang teman-teman lamaku sekaligus ngundang cowok yang aku sukai.”
‘Deg’
Seketika hati Mama Kiran pun merasa gelisah. Karena ini sangat sama persis dengan yang diceritakan oleh Arya.
“Ehm, Sin. Sebelum kita bahas pesta, mama mau tanya, kenapa kamu tiba-tiba pulang dan tidak kasih kabar terlebih dahulu ke Mama dan Papa? Kan bisa kami jemput kamu di bandara,” ucap Mama Kiran.
Sintia pun tersenyum dan kemudian menyahut, “Iya, Ma. Maaf. Aku juga mendadak kok. Soalnya aku tiba-tiba baru dapat kabar kalau Arya sekarang juga ikutan mengajar di sekolahnya. Jadi aku berniat ingin bersekolah di sana aja biar bisa dekat dengan Arya terus.”
Mendengar ucapan Sintia, Mama Kiran pun hanya bisa tersenyum. Dia sama sekali tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
Dan sesaat setelah itu, lagi-lagi Sintia pun merengek dan berkata, “Ya Ma!? Kita buat pesta, ya!?”
Mendapatkan desakan seperti itu, Mama Kiran pun hanya bisa menjawab, “Kita coba rundingkan dulu dengan Papamu, ya?”
“Yaaaaaa... Mama,” keluh Sintia.
***
Malam pun semakin larut dan Kania yang sebenarnya baru kali pertama naik kapal pesiar ini pun ingin rasanya berkeliling. Tapi dia tidak berani bilang ke Arya.
Namun walau begitu, Arya bisa menangkap sinyal apa yang diinginkan oleh Kania.
“Kan, ayo kita keluar untuk makan,” ajak Arya yang langsung mematikan televisinya dan kemudian bangun.
Kania yang melihat sikap Arya ini pun langsung melongo terkejut. Dalam hatinya bergumam, “Kenapa kok sepertinya dia bisa menebak apa yang aku inginkan ya!?”
Dengan segera Kania pun langsung membuntuti Arya.
Namun di tengah perjalanan, karena posisi jalan antara Arya dan Kania ini agak jauh, sehingga membuat salah satu pengunjung kapal pun datang mendekati Arya.
“Tuan, Anda sendirian?” tanya salah satu pengunjung wanita yang terlihat sangat genit sekali.
Kania yang melihat adegan ini pun merasa jijik dan dengan segera datang langsung menghampiri Arya.
“Maaf. Tante ini mau apa ya!?” tanya Kania.
Merasa tidak terima Dipanggil dengan sebutan Tante, wanita itu pun emosi dan langsung berkata, “Tante!? Siapa yang kamu panggil Tante hah?”
“Ya dirimu lha. Siapa lagi. Dirimu kan seperti Tante-tante girang. Berani-beraninya deketin suami orang. Kaya’ gak ada laki-laki lainnya aja,” ucap Kania tak kalah ketus.
__ADS_1
“A—apa kamu bilang!?”
Bersambung...