
Setelah kejadian itu, kehidupan percintaan mereka yang sesungguhnya pun akan di mulai dan diuji.
Hari ini, rupanya pihak sekolah dalam waktu dekat akan mengadakan sebuah acara dan masing-masing kelas diminta untuk menyiapkan satu kegiatan yang akan mereka tampilkan.
Kelas Kania yang juga ikut serta dalam acara ini pun telah menyiapkan sebuah pertunjukan.
Namun sebelum pertunjukan itu terlaksana, tentunya ada hal yang harus mereka siapkan. Salah satunya adalah Anggaran dan Kania lah yang bertugas mengatur semua pengeluaran keuangan agar cukup dengan anggaran mereka.
“Mas, entah mengapa aku merasa kok kaya' ada sesuatu hal yang bakalan terjadi ya?!” ucap Kania saat dalam perjalanan menuju sekolah.
“Maksud kamu apa, Kan?” tanya Arya sambil fokus dengan kemudinya.
“Mas ingat gak kalau di kehidupan lalu aku akan mendapatkan masalah di sekolah hingga aku di skors dari sekolah?” tanya Kania.
“Emangnya ada kejadian kaya' gitu ya waktu itu?” tanya Arya yang memang saat kejadian sedang tidak ada di sekolah melainkan sibuk di kantornya.
Kania pun mengangguk dan berkata, “Tapi aku merasa aneh karena semenjak jalan cerita di saat sekarang udah sedikit banyak berubah, bayangan tentang detail kejadian masa itu pun seakan-akan juga ikut memudar.”
Mendengar ucapan Kania, Arya pun menyahut, “Bagus donk kalau begitu. Berarti kita dan khususnya kamu gak akan merasakan kesedihan seperti waktu itu lagi.”
“Iya sih. Tapi aku jadi merasa kalau saat ini tingkat kewaspadaanku benar-benar menjadi tinggi. Apalagi saat ini aku merasa akan mengalami suatu kejadian yang aku sendiri gak tahu apa itu,” ucap Kania.
“Sudahlah. Kamu gak usah khawatir kaya' begini. Biar bagaimana pun, di kehidupanmu yang sekarang kan kamu udah benar-benar punya aku. Aku akan menjagamu, Ok?!” ucap Arya sambil mengelus rambut Kania.
Sementara itu di sekolah, Sintia tiba-tiba saja menemui Novi di kelas. Awalnya mereka berselisih paham karena Novi mengira kalau Sintia adalah orang yang Arya maksud waktu itu.
Namun setelah melakukan sedikit perdebatan, akhirnya Novi tahu kalau dia bukanlah orang yang dia pikirkan.
“Terus sekarang mau lo apa?” tanya Novi.
“Hayolah, Nov. Kita berdua sama-sama menyukai orang yang sama dan itu berarti kita juga memiliki musuh yang sama juga, kan?! Bagaimana kalau kita bekerja sama menjebaknya aja?!” ucap Sintia.
Mendengar tawaran Sintia, Novi pun bertanya, “Gimana caranya?”
“Caranya cukup mudah, sebentar lagi kan sekolah akan mengadakan acara dan dengar-dengar kalau di kelas ini yang menjadi bendahara kan Kania, bagaimana kalau kita buat seolah-olah dia lha yang memakai uang anggaran tersebut secara pribadi sehingga membuat dia menjadi di benci oleh semua siswa di kelas lo. Gimana?!” jelas Sintia.
Novi yang mendengar penjelasan Sintia tersebut pun tampak diam dan kemudian berpikir dalam hati, “Benar juga ya?!”
Sementara itu, Sintia yang melihat Novi terdiam seperti ini pun langsung kembali mengulangi pertanyaannya, “Bagaimana, Nov?”
__ADS_1
“Baik. Kita akan melakukannya,” sahut Novi pada akhirnya.
“Bagus. Kalau begitu kita mulai susun rencana,” ucap Sintia.
Padahal di saat yang bersamaan, dalam hati Sintia, dia berkata, “Dasar bodoh. Mau-maunya gue manfaatin.”
***
Kelas pun di mulai dan pagi itu Arya lha yang masuk ke dalam kelas.
Melihat Arya yang masuk, seluruh siswa pun menjadi bingung dan ini disadari oleh Arya.
“Baik anak-anak. Kalian sepertinya bingung kenapa saat ini aku yang masuk ke kelas kalian. Ok. Begini. Satu Minggu lagi tentunya kalian semua sudah tahu kalau sekolah kita akan mengadakan acara dan setiap kelas wajib menyertakan satu buah penampilan. Nah, untuk melakukan hal itu, tentunya kita harus melakukan persiapan terlebih dahulu. Coba sekarang kalian tentukan, kira-kira apa yang akan kalian tampilkan,” ucap Arya yang melihat ke seluruh siswa di kelas.
Mendengar penjelasan Arya, sontak seluruh siswa di kelas pun menjadi bisik-bisik.
“Baik. Kalau begitu, kita akan vote aja,” ucap Arya.
Setelah Arya berkata seperti itu, spontan masing-masing siswa satu persatu mengatakan ide acara mereka.
Dan ketika semua selesai, vote pun dilakukan. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka menemukan acara yang akan mereka tampilkan.
Mereka pun terdiam sejenak lalu beberapa saat kemudian mereka menyebutkan satu persatu hal yang mereka rasa perlu dilakukan.
Dan beberapa saat kemudian..
“Ok. Aku minta sekarang ketua kelas dan juga bendahara datang ke kantor untuk menerima uang anggaran awal persiapan dan untuk semuanya, dalam waktu satu Minggu ini, sekolah bebas. Maka lakukan persiapan dengan baik,” ucap Arya.
“Baik Pak,” sahut semua siswa di kelas.
Sementara itu, Davi selaku ketua kelas dan Kania Bendahara pun akhirnya mengikuti Arya menuju ruang guru.
Dan di sisi lain..
“Baik. Sepertinya rencana sudah bisa dilaksanakan,...” gumam Novi, “kita lihat saja, Kan. Mau sampai kapan kamu akan bertahan.”
***
Saat jam istirahat, Gylsa pun merengek minta ditemani ke kantor dengan Kania. Kania yang sepertinya enggan meninggalkan kelas ini pun berkata, “Gyl, lo ma Fiko aja deh ke kantinnya.”
__ADS_1
“Ah lo mah gitu, Kan. Noh lihat si Fiko. Lagi sibuk pacaran dia,” ucap Gylsa sambil menunjuk ke arah Fiko.
Kania yang juga bisa melihat kelakuan Fiko ini pun akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ok ok. Gue temenin lo. Dasar bayi besar,” ucap Kania.
“Lo emang yang terbaik deh,” ucap Gylsa ngegombal.
“Heleh.”
Saat dalam perjalanan ke kantin, tiba-tiba saja Kania dan Gylsa bertemu Arya.
“Kebetulan. Kalian bisa ikut sebentar gak?” ucap Arya.
Awalnya Kania dan Gylsa saling menatap saat mendengar ucapan Arya. Namun setelah itu, tanpa banyak bertanya, keduanya pun mengangguk dan mereka pun akhirnya membuntuti agak jauh di belakang Arya.
Setelah sampai, Arya pun tanpa basa-basi langsung bertanya, “Kan, uang anggaran yang tadi mana?”
“Oh. Ini, Mas. Ada apa?” tanya Kania.
“Ini aku bawa. Nanti pulang sekolah, aku akan temani kalian pergi belanja buat keperluan acara,” ucap Arya.
“Ta—tapi Mas,...”
Ucapan Kania langsung di potong oleh Arya yang langsung berkata, “Nanti aku jelaskan. Sudah sana kalian ke kantin.”
“Oh,” sahut Kania singkat.
“O ya tunggu sebentar, nih uang tambahan buat beli makanan di kantin. Kenyangin perut kalian. Kita setelah ini akan jalan-jalan. Ok?!” ucap Arya sambil menyodorkan beberapa uang lembar uang ratusan ribu dan kemudian pergi tanpa peduli bagaimana tanggapan dari Kania dan juga Gylsa saat itu.
Baik Kania mau pun Gylsa, dua-duanya sama-sama melongo dan sesaat setelah itu, Gylsa pun bergumam, “Gila suami lo, Kan. Tuh uang sebanyak itu, buat beli apa aja coba?! Gampang banget ngeluarinnya.”
Kania yang mendengar itu pun langsung senyam-senyum dan berkata, “Tapi lo suka juga kan kebagian cipratan uangnya?”
“Ah lo mah Kan. Gue kan jadi malu,” ucap Gylsa sambil berlagak malu-malu kucing.
“Heleh.”
Bersambung..
__ADS_1