
Sekitar satu bulan setelah Arya terbangun kembali, dia merasa heran kenapa hingga detik itu dia tidak menemukan nama Kania masuk ke dalam daftar siswa baru di sekolahnya. Hal ini membuat Arya sangat penasaran sekali dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk datang menyelidiki sendiri ke rumahnya.
Betapa terkejutnya dia, ternyata di rumah yang dia ingat itu adalah rumah Kania, ternyata sebuah rumah kosong.
Saat mendapati hal tersebut, Arya pun bergumam, “Kania, sebenarnya di kehidupan ini kita berdua harus menghadapi kejadian apa lagi dan sekarang kamu ada di mana?!”
Setelah beberapa saat kemudian, datang wanita paruh baya menghampiri Arya.
“Nak, apa ada yang bisa ibu bantu?” tanya wanita itu.
“Hmm, Bu. Maaf. Apakah rumah ini kosong?” tanya Arya.
Wanita itu pun mengangguk dan Arya pun bertanya lagi, “Sejak kapan?”
Wanita itu pun terdiam sesaat dan kemudian menjawab, “Kalau ibu gak salah ingat, sekitar kurang lebih satu bulan yang lalu, penghuni di rumah ini terdengar ribut besar dikarenakan anak gadis di rumah ini menolak untuk sekolah di tempat yang telah ditentukan oleh orang tuanya.”
“Lalu?” tanya Arya selanjutnya.
“Lalu, terjadi sesuatu sehingga membuat anak gadisnya cidera di kepalanya dan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit oleh para tetangga lalu orang tuanya di jebloskan ke dalam penjara berdasarkan aduan warga pada polisi,” jelas Ibu tadi.
Arya yang mendengar itu pun langsung syok. Dia tidak habis pikir kenapa Kania begitu nekat.
“Lalu, Bu. Sekarang bagaimana keadaan anak yang mengalami cidera itu?” tanya Arya khawatir.
Ibu itu pun menggelengkan kepalanya dan berkata, “Dia masih koma, Nak. Kami pihak tetangga mengalami kesulitan menghubungi keluarganya yang lain.”
“Oh begitu. Kalau begitu, berikan aku alamatnya, Bu. Biar aku yang akan mengurus semuanya dan antarkan saya ke ketua RT sini,” pinta Arya dan Ibu itu pun mengangguk lalu kemudian mengantarnya.
***
Setelah beberapa saat kemudian, Arya pun tiba di Rumah Sakit dan langsung mencari keberadaan Kania di rawat. Hingga sesaat kemudian, Arya pun tiba di kamar Kania.
Dengan melangkah perlahan-lahan, Arya pun menghampiri Kania yang kala itu sedang terbaring.
“Kania, sayangku. Kenapa bisa seperti ini?” gumam Arya sesaat setelah berada di samping Kania sambil meneteskan air matanya dan menyapu rambut Kania.
Tak selang berapa lama kemudian, Dokter pun datang dan terkejut lalu berkata, “Anda siapa?”
Arya pun langsung melihat ke arah Dokter tersebut dan kemudian berkata, “Saya calon suaminya, Dok. Saya baru dapat kabar dan langsung menuju ke sini.”
“Oh syukurlah. Saya kira dia tidak punya keluarga yang akan memedulikannya. Baguslah kalau begitu,” ucap Dokter tersebut yang merasa lega.
__ADS_1
Arya pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Lalu kalau boleh saya tahu, keadaannya calon istri saya bagaimana, Dok?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Dokter pun akhirnya menceritakan semuanya tentang keadaan terbaru Kania.
Setelah beberapa saat mendengar penjelasan Dokter mengenai keadaan Kania, Arya pun syok. Dia langsung terduduk lemas di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Kania.
Dia berkata dengan lirih, “Dok, apakah ada kemungkinan untuk dia bisa sadar kembali?”
Dokter itu pun tersenyum dan kemudian menjawab, “Ada. Tinggal seberapa besar kemauan dia untuk sadar kembali.”
Arya pun langsung menengok ke arah Kania dan sesaat setelah itu, Dokter pun berpamitan.
***
Dua jam lamanya telah berlalu, Arya pun langsung menghubungi Henry agar meminta Mama Kiran datang ke Rumah Sakit.
Dan beberapa saat kemudian, Mama Kiran dan juga Papa Aditya pun datang.
“Ada apa Ar, kamu meminta kami untuk ke sini?” tanya Papa Aditya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Arya pun langsung menceritakan semuanya dan antara percaya dan tidak percaya akhirnya Arya mencoba meyakinkan dengan berkata, “Baiklah Om dan Tante. Jika Om dan Tante sulit untuk menerima kabar ini, Om dan Tante bisa melakukan tes DNA.”
Mendengar ucapan Arya, Papa Aditya dan juga Mama Kiran pun saling menatap satu sama lainnya hingga akhirnya mereka pun mengangguk.
Arya pun mengangguk dan kemudian berkata, “Jika yang aku katakan terbukti, aku ingin kalian merestui kami untuk menikah dan juga tolong rahasiakan ini dari Sintia saat nanti dia kembali.”
Mendengar ucapan Arya yang seperti itu, baik Papa Aditya maupun Mama Kiran, keduanya merasa bingung. Namun sesaat kemudian akhirnya mereka pun mengangguk menyetujui permintaan Arya.
Tapi biarpun begitu, Papa Aditya tetap meminta suatu penjelasan dengan berkata, “Tapi Ar, jika semua benar adanya, tolong jelaskan juga pada kami tentang alasan permintaanmu tadi.”
Dan permintaan itu pun langsung diangguki oleh Arya.
Tanpa menghabiskan waktu lebih lama, akhirnya tes DNA pun dilakukan. Hingga dua Minggu telah berlalu dan hasil tes pun keluar.
Saat Arya sedang menemani Kania di kamar rawatnya, Mama Kiran dan Papa Aditya pun datang.
“Ar,” sapa Papa Aditya.
“Oh Om,” ucap Arya.
“Masih belum ada perkembangan?” tanya Papa Aditya yang sementara itu Mama Kiran memandangi Kania dan kemudian tiba-tiba menangis.
Arya yang melihat ini pun langsung menoleh ke arah Papa Aditya dan kemudian bertanya, “Apakah hasil tesnya udah keluar, Om?”
__ADS_1
Papa Aditya pun mengangguk dan Arya pun akhirnya bisa mengerti dengan sikap Mama Kiran tersebut.
“Ar, sekarang bagaimana? Apa kamu udah bisa menceritakan semuanya pada kami berdua tentang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Papa Aditya menagih janji.
Dengan menghela napas panjang, Arya pun akhirnya langsung menceritakan semuanya pada Mama Kiran dan juga Papa Aditya.
Hingga beberapa saat kemudian...
“Jadi kalian berdua,...”
Papa Aditya tidak melanjutkan ucapannya namun tetap diangguki oleh Arya.
“Oh pantas. Memang sulit diterima oleh akal sehat. Tapi mau bagaimana lagi, tetap saja harus percaya karena sudah terbukti,” ucap Papa Aditya.
Setelah semuanya sudah diceritakan, Arya pun langsung menatap Kania dan beberapa saat kemudian, Papa Aditya bertanya, “Kira-kira kapan kamu akan menikahinya?”
“Besok, Om. Lebih cepat lebih baik,” sahut Arya.
***
Satu bulan telah berlalu dan pagi itu tiba-tiba saja...
“Eeeee... Kenapa badanku sakit semua?” gumam Kania sambil mengerjapkan matanya.
Mama Kiran yang selalu menunggui Putrinya ini pun akhirnya terbangun dari tidurnya.
“Sayang, kamu udah sadar sayang?” ucap Mama Kiran senang.
Kania yang melihat ada seorang wanita paruh baya sedang menungguinya ini pun akhirnya bertanya, “Anda siapa?”
“Aku Mamamu, Kania. Mama kandungmu,” sahut Mama Kiran.
“Mama kandung? Lalu Kania siapa?” tanya Kania lagi yang membuat Mama Kiran bingung.
“Sayang, kamu jangan buat Mama khawatir deh. Masa’ kamu gak tahu sama namamu sendiri?” ucap Mama Kiran khawatir.
Dan di saat yang bersamaan Arya datang dan terkejut melihat Kania sudah bangun.
Karena terlalu senang, dia pun langsung bergegas mendekati Kania dan kemudian berkata, “Kania, kamu udah sadar sayang?”
Kania pun dengan tampang bingung pun bertanya, “Dia siapa?”
Bersambung..
__ADS_1