
“Kania, kamu sudah mengambil Arya dariku dan kini kamu juga akan mengambil orang tuaku. Lihat saja nanti. Aku akan buat agar kamu tidak bisa mendapatkan semuanya.”
Setelah beberapa hari kemudian, keadaan Kania masih belum juga menunjukkan adanya kemajuan.
Hingga tersiar kabar kalau perusahaan Buana Cakra melakukan kecurangan dan akhirnya di batalkan dari kontrak kerja sama dengan perusahaan Arya lalu ditutup.
Pemimpin atau Direktur tersebut pun di tangkap dan di penjara.
Sedangkan untuk masalah Sintia, Mama Kiran yang sudah melaporkan hal ini Papa Aditya ini pun akhirnya memutuskan untuk mengirim Sintia kembali ke luar negeri.
Namun siapa sangka, dalam perjalanan, Sintia melarikan diri. Dia menipu Mama Kiran dan juga Papa Aditya.
Sintia yang juga sudah mendengar tentang kabar perusahaan Buana Cakra ini pun langsung berinisiatif untuk mendatangi mantan Direktur tersebut di penjara.
“Kamu siapa?” tanya Papa Rafi, orang tua angkat Kania sekaligus mantan Direktur Buana Cakra.
“Om gak usah tahu siapa aku. Tapi yang pasti, kita berdua memiliki musuh yang sama,” ucap Sintia.
“Maksudnya?” tanya Papa Rafi.
“Aku membenci Kania dan Om pastinya juga membenci Arya. Bagaimana kalau kita bekerja sama membuat mereka berdua tersiksa dengan berpisah seumur hidup,” ucap Sintia dengan senyuman yang tidak biasa.
Papa Rafi pun terdiam sejenak dan kemudian bertanya, “Lalu bagaimana rencanamu?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Sintia pun langsung berbisik di telinga Papa Rafi dan mengatakan semua yang menjadi Rencananya.
Setelah beberapa saat kemudian, Papa Rafi yang mendengar ucapan Sintia ini pun bertanya, “Apakah itu akan berhasil?”
“Pasti akan berhasil. Om tenang saja. Asal Om mau bekerja sama denganku,” ucap Sintia.
“Pasti. Pasti aku pasti akan membantumu selama kamu bisa membuat aku keluar dari penjara ini,” ucap Papa Rafi.
“Om tenang aja untuk urusan itu. Aku pastikan kalau Om akan bisa keluar malam ini juga dan saat itu pula kita akan menjalankan rencana kita,” sahut Sintia.
“Bagus. Aku akan tunggu,” ucap Papa Rafi yang kemudian diangguki oleh Sintia.
***
Malam harinya, Arya yang masih ada di kantor mengurusi urusan kantor yang masih belum kelar sepenuhnya akibat perusahaan Buana Cakra ini tiba-tiba merasa tidak tenang. Pikirannya selalu dipenuhi oleh Kania.
“Ada apa ini?” gumamnya.
Karena benar-benar merasa gelisah, Arya pun memutuskan untuk langsung pergi ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Dan di saat yang bersamaan, terdengar suara sirine tanda bahaya dari dalam Rumah Sakit dan seluruh orang-orang yang saat itu sedang berada di sana pun sontak berhamburan keluar.
Sementara itu, saat kekacauan itu terjadi, tidak ada satu pun yang sedang menemani Kania.
Hingga setelah beberapa saat kemudian, Arya pun tiba dan dia pun sangat terkejut melihat keadaan Rumah Sakit yang sudah dipenuhi oleh asap.
“Oh tidak. Kania,” ucap Arya yang langsung bergegas turun dan berlari menuju kamar ruang kamar Kania.
“Kania, kamu harus selamat. Kita berdua masih ada tugas yang belum terselesaikan. Kamu harus hidup, Kania,” gumamnya sambil terus berlari menembus asap tebal.
Setelah beberapa saat kemudian, sampailah ia di kamar Kania.
Dia melihat sesosok wanita sedang berbaring tidak berdaya di dalam kamar tersebut.
Arya yang sangat khawatir dengan keadaan Kania itu pun langsung bergegas menghampiri Kania.
“Kania! Kania! Kita gak boleh lagi-lagi berakhir seperti ini. Bangun Kania!” ucap Arya sambil terbatuk-batuk akibat menghirup asap.
Sesaat setelah itu, dengan lemah Kania sadar dan berkata, “M—mas.”
Mendengar suara lemah Kania, Alvaro pun langsung berkata, “Kamu sadar, sayang. Syukurlah.”
Kania pun tersenyum dan kemudian berkata, “Mas, kamu harus tetap melanjutkan hidupmu. Jangan ikuti aku ya. Aku udah cukup menerima cinta darimu dan aku juga sudah memaafkanmu bahkan mencintaimu. Jadi tolong, tetaplah hidup demi aku.”
Alvaro yang mendengar ucapan Kania ini pun langsung berkata, “Kamu itu ngomong apa Kania?! Kita berdua harus tetap hidup. Ayo kita keluar sekarang.”
“Enggak.. enggak Kania. Kita harus keluar bersama-sama,” ucap Arya yang langsung menggendong Kania.
Namun belum juga mereka berhasil melangkah ke luar, tiba-tiba saja..
'Bruk'
***
Keesokan harinya, Mama Kiran dan juga Papa Aditya pun mendengar kabar berita kebakaran Rumah Sakit.
Dengan syok dan khawatir, mereka pun akhirnya memutuskan untuk mencari tahu bagaimana keadaan Putri yang baru saja mereka temukan itu.
Namun sesaat setelah mereka sampai di sana, mereka melihat para petugas pemadam kebakaran dan juga petugas medis yang diturunkan sedang mengevakuasi para korban kebakaran.
Dengan harap-harap cemas, mereka pun melihat satu persatu korban yang telah berhasil di evakuasi, baik yang selamat atau pun tidak.
Setelah beberapa saat mereka mengamati, namun tidak juga mereka melihat Kania.
__ADS_1
Hingga saat detik terakhir, muncullah empat orang petugas dengan dua orang membawa satu tandu yang di atasnya terdapat kantong jenazah.
Melihat mereka, perasaan Mama Kiran pun menjadi tidak enak.
Dengan rasa takut akhirnya Mama Kiran dan juga Papa Aditya pun melangkah mendekati ke dua tandu tersebut dan kemudian berkata pada petugas yang membawa tersebut agar diperbolehkan untuk melihat.
Sesaat setelah diperbolehkan, Papa Aditya pun langsung pelan-pelan mencoba membuka kantong tersebut dan...
“Papa! Gak mungkin!...” teriak Mama Kiran sambil menangis pilu, “kenapa seperti ini, Pa?”
Papa Aditya yang sebenarnya juga merasa sedih ini pun hanya bisa mencoba untuk tabah dan menenangkan hati Istrinya.
“Sabar, Ma. Mungkin ini takdir kita,” ucap Papa Aditya sambil mengelus-elus kepala istrinya.
***
Pagi itu...
‘Cit.. cit.. cuit.. cit’
Suara gaduh burung sedang berkicau di pagi hari, membuat Arya pun terbangun.
Sambil mengerjapkan matanya, Arya pun bergumam, “Apakah aku selamat? Di mana Kania?”
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Henry datang dan bertanya, “Anda sudah sadar, Tuan?”
Arya pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Kania di mana?”
“Kania siapa, Tuan?” tanya balik Henry bingung karena merasa tidak mengenal Kania.
Mendengar pertanyaan Henry, hati Arya pun langsung 'deg’.
“Hmm Hem, sekarang tanggal berapa?” tanya Arya ingin memastikan sesuatu.
“Sekarang tanggal 15 Juni 2008 Tuan,” sahut Henry.
“Apa?!” ucap Arya spontan saat mendengar tanggal tersebut.
Melihat Respon dari Bosnya, Henry pun menjadi bingung dan kemudian bertanya, “Emangnya ada apa dengan tanggal ini, Tuan?”
Arya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak ada apa-apa, Hen. Kamu serahkan saja data yang aku minta.”
Alvaro pun langsung mengatakan semua data yang dia inginkan dan Henry pun langsung mengambilnya.
__ADS_1
Sesaat setelah Henry pergi, saat itu pula dalam hati Arya bergumam, “Sekarang aku kembali ke awal lagi dan sekarang aku harus bagaimana Kania agar jalan akhir cerita cinta kita tidak selalu berakhir seperti itu?”
Bersambung...