The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Aku suami Kania


__ADS_3

Mendengar ucapan seperti itu, mereka yang semula asyik ini pun langsung terdiam. Ada rasa hawa dingin di tengkuk leher mereka. Dan ketika mereka menengok...


“Bapaaaaaak!!”


Teriak spontan Gylsa dan Fiko karena terlalu terkejut.


Sedangkan untuk Kania, saat dia melihat Arya yang tahu-tahu keluar menemui mereka itu pun spontan langsung memelototi Arya sambil dengan suara pelan protes, “Kenapa keluar?”


Sementara itu Gylsa dan Fiko yang terkejut, bingung, dan juga takut ini pun hanya bisa melongo melihat ke arah Kania dan Arya secara bergantian sambil menunjuk keduanya.


“Kenapa? Kalian terkejut atau takut melihat saya di sini?” tanya Arya.


Baik Gylsa maupun Fiko, keduanya mengangguk sambil jarinya menunjukkan jumlah angka dua lalu menyahut, “Dua dua nya, Pak. Ka—kami terkejut sekaligus takut melihat Bapak di sini.”


Tanpa banyak bicara, Arya pun langsung duduk di sebelah Kania lalu berkata, “Kenalkan sekali lagi. Saya, Arya. Di rumah ini saya berperan sebagai suami Kania.”


Bagai petir yang menyambar di siang bolong, keduanya sama-sama memasang mulut menganga seakan tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.


“Ba—bapak itu suami Kania?” tanya Gylsa memastikan kalau dia tidak salah dengar.


Sambil mengangguk dan tersenyum, Arya pun berkata, “Benar kan, sayang?”


Kania yang di sudutkan dalam situasi seperti itu pun menepuk jidatnya lalu menunduk.


“Dia malu, Gyl,” ucap Arya yang lalu kemudian tertawa sehingga membuat Gylsa dan Fiko pun lagi-lagi terkejut dengan sikap yang di tunjukkan oleh Arya.


“Sungguh berbeda 180°,” celetuk Gylsa tanpa sadar.


Arya yang mendengar ini pun tersenyum lalu menyenggol bahu Kania.


“Yang, lanjutin aja belajar dan ngobrolnya. Aku mau masuk dulu. Ada kerjaan kantor yang harus segera aku selesaikan,...” pamit Arya, “kalian kerjakan tugasnya pelan-pelan. Jika ada yang tidak mengerti, kalian boleh tanya.”


Tanpa menunggu bagaimana tanggapan Kania dan teman-temannya, Arya pun langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.


Di saat setelah Arya sudah tidak terlihat, Gylsa pun langsung menggoyang-goyangkan tubuh Kania yang sedari tadi diam.


“Kan Kan, lo beneran ma Pak Arya suami istri?” tanya Gylsa namun Kania diam tidak bergeming.


“Kan, ayolah. Ceritakan sama kita berdua. Lo ma Pak Arya sebenernya gimana sih?” tanya Gylsa mengulangi pertanyaannya dan memaksa Kania untuk menjelaskannya.

__ADS_1


Kania yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi ini pun akhirnya menyerah dan kemudian berkata, “Iya iya. Gue ceritain ke lo berdua. Tapi ada syaratnya.”


“Apa itu?” tanya Fiko yang tidak kalah semangat dari Gylsa.


“Lo berdua harus rahasiain masalah ini dari semua orang yang ada di sekolahan. Ok?! Gimana? Kalian setuju?” tanya Kania.


Gylsa dan Fiko pun terdiam sejenak mendengar ucapan Kania. Namun sesaat setelah itu, mereka dengan kompak menjawab, “Setuju!”


“Iya, Kan. Kita berdua bakalan jaga rahasia lo kok. Lo tenang aja, Ok?!” ucap Gylsa yang diangguki kuat oleh Fiko.


Melihat ekspresi wajah keduanya, Kania merasa kalau dirinya sudah tidak memiliki alasan untuk mengelak lagi.


Dengan menarik nafas panjang, Kania pun berkata, “Hmm, baiklah. Aku akan menceritakan semuanya pada kalian.”


Kania pun akhirnya langsung menceritakan semuanya dari awal alasan mereka bisa menikah hingga saat ini.


Setelah beberapa saat kemudian, Gylsa dan Fiko yang telah mendengar cerita Kania ini pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala mereka tanda mereka sepertinya memahami situasi Kania saat itu.


Dan setelah di rasa apa yang harus di ceritakan sudah Kania ceritakan semuanya, Kania pun berkata, “Nah, sekarang kalian berdua sudah tahu kan cerita yang sebenarnya seperti apa. Jadi tolong sekali lagi, kalian rahasiain ya masalah ini.”


“Iya, Kan. Lo tenang aja. Kita janji bakalan jaga rahasia ini. Ya kan, Fik?” ucap Gylsa dan diangguki oleh Fiko.


“Sama-sama, Kania. Kita kan teman sudah sepantasnya kalau kita harus menjaga satu dengan lainnya. Ya kan?!” ucap Gylsa dan Kania pun tersenyum mendengarnya.


Setelah membahas tentang hubungan Kania dengan Arya, mereka pun kemudian kembali pada tujuan mereka semula. Yaitu mengerjakan tugas dari Arya.


***


Tak terasa hari pun semakin sore, baik Gylsa mau pun Fiko, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang.


Karena Arya yang terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya, akhirnya mereka pun tidak berpamitan pada Arya. Hanya salam saja yang bisa mereka titipkan untuk guru mereka itu.


Sesaat setelah Gylsa dan Fiko sudah pulang, Kania pun balik ke kamarnya dan berniat untuk membersihkan diri.


Namun karena terlalu lelahnya ia setelah menyelesaikan beberapa soal tugas, tanpa terasa dia pun tertidur dengan nyenyak. Hingga akhirnya...


“Ya ampun. Ini perempuan. Kebiasaan banget sih. Belum juga mandi, udah langsung tidur begitu aja. Beruntung aku yang sekarang gak kaya' aku yang dulu. Kalau enggak, aku udah pasti akan emosi lihat tingkahnya ini,” gumam Arya sambil memegangi keningnya yang benar-benar merasa tidak habis pikir dengan Kania.


Arya pun langsung pergi tanpa mau membangunkan Kania yang terlihat sangat lelah.

__ADS_1


Diambilnya handuk dan kemudian mandi.


***


Keesokan harinya, saat mau berangkat ke sekolah, Arya dan Kania pun seperti biasa selalu menyempatkan diri untuk untuk sarapan terlebih dahulu.


Tidak ada satu pun dari keduanya yang membuka obrolan hingga suatu ketika Arya menerima sebuah panggilan telepon.


“Halo,”


“Tuan, ada sedikit masalah yang terjadi di kantor,” ucap Henry.


“Baik. Aku akan ke kantor hari ini. Kamu jelaskan setelah aku sampai,” ucap Arya.


“Baik Tuan,” sahut Henry yang kemudian telepon pun di tutup.


Kania yang memperhatikan hal ini pun bertanya, “Mas, di kantor sedang ada masalah?”


“Hum,...” sahut Arya, “Ya sudah. Aku akan kamu ke sekolah dulu baru setelah itu aku ke kantor.”


“Jadi hari ini Mas gak ngajar?” tanya Kania.


“Lihat nanti, Kan. Akan aku usahakan ke sekolah buat jemput kamu,...” ucap Arya, “dah. Sekarang habiskan sarapanmu, setelah itu kita berangkat.”


Kania pun mengangguk lalu kemudian melanjutkan sarapannya.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun langsung berangkat dan sesuai dengan apa yang sudah dikatakan Arya, Kania pun diantarkan terlebih dahulu setelah itu Arya langsung berangkat ke kantor.


Sesampainya Kania di dalam kelas, Kania sudah disuguhi oleh kabar tak sedap.


“Kan, bukannya Pak Arya itu suami lo kan ya?! Terus kenapa itu anak-anak di kelas ini menggosip kalau Pak Arya udah ada tunangan dan tunangannya itu bernama Sintia. Itu maksudnya gimana ya, Kan?” tanya Gylsa bingung.


Kania pun mengangkat ke dua bahunya sehingga membuat Gylsa pun agak gemas dengan sikap Kania ini.


“Kan, lo ini gimana sih? Suami ada yang ngaku-ngaku, eh lo nya cuek begini. Hadeuh Kan,” ucap Gylsa yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kania.


Sesaat setelah mereka membahas soal itu, seseorang pun datang dan langsung berkata, “Hai Kania, lama gak ketemu ya?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2