The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Sintia, Kekhawatiran yang terakhir


__ADS_3

Keesokan harinya, Kania dan Arya pun akhirnya pulang. Di perjalanan, Kania berkata, “Mas, aku mau tanya sesuatu hal.”


“Mau tanya apa?” tanya balik Arya sambil fokus mengendarai mobilnya.


“Mau tanya, di kehidupan yang lalu kan aku sempat koma dan akhirnya kebakaran, itu siapa yang melakukan, Mas? Dan seingatku Mama Kiran itu kan Mamanya Sintia, kenapa waktu saat aku sadar, tiba-tiba saja Mama Kiran itu jadi Mamaku?” tanya Kania bingung.


Mendengar pertanyaan Kania, Arya pun tersenyum sambil mengelus-elus rambut Kania dan berkata, “Kan, saat itu sebenarnya yang membuat kamu koma itu adalah Sintia dan di saat kamu sedang membutuhkan donor darah, tiba-tiba saja Mama Kiran menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya dan juga ingin sekali melakukan tes DNA. Lalu aku pun akhirnya membolehkannya dan hasilnya ternyata benar kamu anak Mama Kiran. Namun setelah itu kebakaran pun terjadi dan kita kembali lagi ke masa lalu sehingga membuat aku berinisiatif untuk menjelaskannya lebih awal dengan Mama Kiran dan Papa Aditya dan hasilnya mereka pun percaya dengan melakukan tes DNA di kehidupan ini.”


Mendengar cerita Arya, Kania pun mengangguk-angguk. Dia sekarang mengerti kenapa seakan semuanya sepertinya berubah.


“O ya, Mas. Lalu siapa yang menyebabkan kebakaran?” tanya Kania.


Arya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Aku tidak tahu. Karena saat itu aku sudah keburu mengejarmu ke kehidupan yang sekarang. Hehehehe..”


Melihat ekspresi wajah Arya saat menjawab pertanyaan terakhir membuat Kania pun menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata, “Ish si Mas ini. Ngapain juga coba pake acara menyusul-nyusul segala. Emangnya di kira pergi ke warung gitu.”


Arya yang mendengar ini pun kemudian langsung menyahut, “Itu karena niatku bulat. Aku benar-benar ingin memperbaiki kesalahanku di kehidupanku yang awal yang selalu menyia-nyiakanmu.”


“Oh,...” sahut Kania, “berarti kalau aku gak salah prediksi, di kehidupan yang sekarang kita tinggal harus berhati-hati dengan Sintia donk?”


Arya pun untuk sesaat terdiam sebelum akhirnya dia menjawab, “Iya. Oleh sebab itu, aku mengajakmu pergi karena kemarin adalah acara pesta penyambutannya. Hanya saja, sepertinya dibatalkan karena dia aku beri tahu kalau sekarang aku sedang bulan madu dengan istriku.”


Mendengar ucapan Arya, Kania pun langsung spontan menengok ke arah Arya dan berkata, “Aduh, Mas. Kenapa mas kasih tahu kalau mas udah menikah?”


“Tenang aja, Kan. Aku tidak memberi tahukan kalau istriku itu kamu. Aku juga sudah berpesan pada Henry agar dia pun tidak memberi tahu identitasmu padanya,” jelas Arya.


“Tapi, Mas. Kalau tiba-tiba saja dia datang dan melihatku bagaimana?” tanya Kania.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Arya pun terdiam. Dia memang belum terpikirkan sampai ke arah sana.


Melihat Arya hanya diam saja, Kania pun langsung kembali berkata, “Mas!? Kok diam aja sih!?"


“Kan, jujur, aku juga belum berpikir sampai ke arah sana. Tapi pasti ada yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kesulitan hubungan kita ini,” ucap Arya yang membuat Kania merasa khawatir.


Melihat wajah Kania yang seperti itu, Arya pun kembali berkata, “Kan, pokoknya mulai saat ini, kita jangan lagi berpisah dengan cara seperti yang sudah-sudah ya. Aku ingin kita tetap bersama.”


“Ish. Siapa juga yang mau kaya’ gitu. Emangnya enak!?” gerutu Kania.

__ADS_1


***


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah. Namun Kania merasa bingung karena dia tidak merasa mengenal rumah itu.


“Mas, ini rumah siapa?” tanya Kania.


“Ini rumah kita. Aku menjual rumah yang lama,” sahut Arya sambil memarkirkan mobilnya.


“Kenapa di jual, Mas? Kan sayang,” ucap Kania yang sangat menyayangkan keputusan Arya yang menjual rumahnya.


Sambil masih memarkirkan mobilnya, Arya pun menjawab, “Kalau kita gak segera pindah dan menjual rumah itu, pasti dengan cepat Sintia akan menemukan kamu, Kan. Aku gak mau itu.”


Mendengar ucapan Arya, Kania pun lagi-lagi menyipitkan matanya sehingga membuat Arya yang sudah selesai memarkirkan mobilnya ini berkata, “Sudahlah. Begini aja, Kan. Kalau emang Sintia sama seperti dulu bersekolah di sekolah itu, kita akan main petak umpet dan aku akan bilang padanya kalau istriku sedang berada di luar kota dan kalau dia menanyakan tentang alamat rumah ini, maka aku akan bilang kalau aku tinggal berdua dengan Henry. Ok!? Jadi kamu aman untuk sementara.”


“Tapi mau sampai kapan seperti itu, Mas?” tanya Kania.


Sambil mengangkat kedua bahunya, Arya pun menjawab, “Aku masih belum tahu. Nanti sambil berjalan, kita pikirkan lagi caranya. Sekarang begini saja dulu. Ok!?”


“Ya sudah deh,” sahut Kania yang kemudian di ajak turun oleh Arya.


***


Dengan semuanya saling terbuka dan bisa menerima antara satu dengan lainnya, Kania pun melangkahkan kakinya menuju kelas dan kemudian langsung menghampiri Gylsa, sahabatnya.


“Woi, ngelamun aja. Mikirin Kak Adi ya!?” tebak Kania.


“Gak juga. Ngapain juga gue mikirin dia. Kurang kerjaan,” ucap Gylsa.


Kania yang mendengar ini pun terkejut karena jangan-jangan mereka ribut lagi.


“Gyls, lo ma Kak Adi baik-baik aja, kan?” tanya Kania memastikan.


Gylsa pun mengangguk sehingga membuat Kania kembali bertanya, “Lha terus, tadi lo bilang kaya’ tadi itu kenapa?”


“Haisss.. Kania. Lo tuh ya. Ya jelas ngapain juga gue mikirin dia. Lha orangnya aja juga jadi guru di sini,” sahut Gylsa.


“A—apa!? Ah yang bener?” tanya Kania memastikan.

__ADS_1


Gylsa pun mengangguk dan kemudian berkata, “Beneran. Tanya aja sama suami lo.”


“Eeeeeh!?”


***


Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda...


“Halo kesayanganku!” teriak Adi saat melihat Arya datang.


Arya yang melihat kehadiran Adi di sekolah ini pun langsung berbalik badan dan langsung pergi ke gerbang untuk melihat papan nama sekolah.


“Bener kok. Gue gak salah masuk sekolah. Lha kenapa tuh orang ada di sini!?” gumam Arya.


Adi yang rupanya meyusul Arya ini pun langsung protes dengan berkata, “Eh Ar, lo ini ya. Bener-bener deh. Ketemu teman lama bukannya di peluk atau apa, lha ini malah lari gitu aja.”


“Ih. Siapa juga yang lari. Gue tadi cuma mau ngecek aja. Ini benaran sekolah gue atau bukan,” sahut Arya.


“Aih. Lo tuh ya. Tetep kejam seperti biasanya,” protes Adi.


“Ya iya lha gue kejam. Kan kejamnya cuma sama lo aja,” ucap Arya yang kemudian langsung masuk lagi ke dalam sekolah.


Belum juga langkah kaki Arya menjauh dari gerbang, tiba-tiba saja...


“Pak Arya, lama tidak bertemu,” ucap seseorang dengan suara yang sangat Arya kenal.


Arya pun menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan badannya lalu..


“Sintia!?”


Sintia pun hanya tersenyum melihat ke arah Arya. Sementara itu, Adi langsung berbisik, “Siapa Ar?”


Dengan berbisik pula, Arya pun menjawab, “Sepertinya siswa baru dan akan menjadi sumber masalah buat gue dan Kania. Lo kalau lagi ada dia, jangan bahas tentang Kania.”


“Kenapa?” tanya Adi bingung.


“Pokoknya begitu saja. Nanti gue jelasinnya,” ucap Arya.

__ADS_1


“Ha!?”


Bersambung...


__ADS_2