
Semenjak tahu kalau Sintia tidak menyerah, membuat Arya selalu sebisa mungkin menghindari Sintia. Dia lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam ruangan guru.
Namun hari itu saat jam pergantian pelajaran, Arya yang tengah berjalan menuju kantor ini tiba-tiba saja dihadang oleh Sintia.
“Pak, pulang sekolah ini ada waktu? Kita pulang bareng yuk. Papa dan Mama ingin bertemu,” ucap Sintia.
Arya yang sudah tahu kalau ini pasti hanya akal-akalan Sintia saja ini pun berkata, “Maaf, Sin. Aku gak bisa.”
“Kenapa?” tanya Sintia kecewa.
Tepat ketika Arya akan menjawab pertanyaan Sintia, Adi tiba-tiba saja datang dan berkata, “Ar, hari ini jangan lupa kita ada acara kumpul-kumpul sama teman lama.”
Awalnya Arya lupa kalau ada acara itu sehingga dia sempat bingung mencari alasan menolak, tiba-tiba saja dia merasa terselamatkan oleh ucapan Adi yang mengingatkannya.
“Iya, gue inget Di. Kita siang ini berangkat bareng ok!?,” ucap Arya.
“Ok,” sahut singkat Adi yang kemudian pergi begitu saja.
Sesaat setelah Adi pergi, Arya pun langsung berkata, “Kamu dengar sendiri kan tadi. Itu alasannya. Aku mau ada acara sama teman-teman kuliah dulu. Jadi maaf ya, aku gak bisa pulang bersama.”
“Oh begitu. Kalau begitu, aku ikut Bapak aja deh,” ucap Sintia tanpa malu.
“Beneran kamu mau ikut?” tanya Arya dan Sintia mengangguk.
“Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti di sana aku gak bisa terus-terusan jagain kamu. Aku pasti akan sibuk dengan teman-temanku,” ucap Arya.
“Iya, gak apa-apa,” sahut Sintia.
Saat jam istirahat...
Kania dan juga Gylsa yang sedang duduk santai sambil menikmati makanannya di Kantin ini tiba-tiba terkejut dengan kehadiran dua orang pria.
Mereka berdua tengak-tengok ke kanan dan kiri karena khawatir anak-anak akan curiga.
“Hei kalian berdua! Kenapa ke tempat duduk kami? Di sana kan masih banyak tempat duduk yang lain,” ucap Kania.
Seolah tidak mendengarkan ucapan Kania, baik Arya maupun Adi, keduanya tetap kekeh duduk di sana.
Hingga sesaat kemudian..
“Kan, Sintia mau ikut kita nanti siang. Kamu gak apa-apa kan?” tanya Adi.
“Ikut ke mana, Kak?” tanya Kania sambil menatap ke arah Arya dan Adi secara bergantian.
__ADS_1
“Kami hari ini ada acara kumpul-kumpul dengan teman lama kami,” sahut Arya lesu.
Kania yang mendengar jawaban Arya ini pun bertanya, “Terus kenapa Sintia bisa mau ikut dengan kalian? Apa dia tahu soal ini?”
Arya pun mengangguk dan kemudian berkata, “Soalnya tadi dia ngajak aku pulang bersama. Tapi karena aku gak mau, jadinya aku buat alasan itu untuk menolaknya. Tapi eh gak tahunya,...”
Belum juga Arya melanjutkan ucapannya, Kania sudah terlebih dahulu berkata, “Eh gak tahunya dia malah jadi minta ikut. Iya!?”
Arya pun mengangguk namun dengan sikap seolah dia sudah menyesal dengan apa yang dia katakan.
Melihat ini, Kania pun menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Ya sudahlah. Kalau begitu, Bapak berhati-hatilah jika sedang bersamanya.”
Arya pun mengangguk dan tak selang berapa lama kemudian...
“Pak, siang ini jangan lupa. Aku ikut,” ucap Sintia yang tiba-tiba saja datang.
Arya, Adi, Kania dan juga Gylsa yang saat itu sedang beberapa saat terdiam tiba-tiba saja terkejut dengan ucapan Sintia ini.
Menurut mereka saat itu, Gylsa tipe perempuan yang tidak punya malu. Sudah jelas-jelas cowok yang dia cintai ini sudah punya istri, tapi masih tetap saja kekeh ingin bersama bahkan mendapatkannya.
“Haissss... Sungguh miris,” celetuk Adi saat itu yang bisa di dengar oleh Sintia.
“Maksud Bapak apa?” tanya Sintia.
Mendapatkan tanggapan seperti itu, Sintia pun tiba-tiba menjadi sewot dan dengan singkat berkata, “Cih.”
Setelah itu dia pun pergi. Arya, Kania, Adi dan juga Gylsa ini pun dengan kompak menggelengkan kepala mereka.
***
Jam pulang pun akhirnya tiba..
Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, Arya dan Adi pun menunggu Sintia.
Setelah beberapa saat kemudian, yang di tunggu pun datang dan mereka pun berangkat.
Di tengah perjalanan, Kania yang sengaja sudah diberi ponsel oleh Arya ini pun menelepon.
“Ya halo, sayang. Ada apa?” tanya Arya yang sengaja dibuat mesra di hadapan Sintia.
“...”
“Iya, sayang. Nanti kalau ada waktu senggang ya, Mas bakalan pulang kok. Mas juga udah kangen sama kamu.”
__ADS_1
“...”
“Iya iya, sayang. Mas gak bakal selingkuh kok. Di hati mas kan cuma ada kamu.”
“...”
“Iya. Kamu juga ya. Love you too, sayang.”
Dan setelah itu panggilan pun diakhiri.
Adi yang mendengar ini pun ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Apalagi setelah melihat ekspresi kecut dari seorang Sintia.
Sakit banget gak tuh!? Sakit banget lha.. itu lah yang namanya luka tapi tak berdarah, namun sakitnya langsung nusuk di jantung.
“Makanya, Bu. Jangan coba main-main sama cowok yang sudah beristri. Sakit sendirian kan!?” gumam Adi dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dan sesaat setelah itu, Adi dengan sengaja berkata, “Ar, istri lo ya?”
Arya pun mengangguk dan Adi pun kembali bertanya, “Kenapa gak lo ajak?”
“Gak bisa lha. Dia kan sekarang lagi sekolah juga di luar kota. Mana mungkin dia bisa datang. Palingan nanti gue aja yang ke sana,” sahut Arya datar namun padahal dalam hatinya berharap dengan begini, Sintia bisa sadar dan menyerah.
Tak selang berapa lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai di tempat mereka janji berkumpul.
Dengan bersikap layaknya dua orang pria tampan, mereka pun berjalan masuk menuju dalam gedung.
Di dalam mereka di sambut oleh salah seorang teman mereka yang bernama Beni.
“Hai, kalian berdua sudah datang rupanya. Kalian ini masih tetap sama saja seperti dulu. Sama-sama tampan,” ucap Beni.
“Oh jelas donk. Apalagi sekarang kan kami sudah punya pasangan masing-masing,” sahut Adi.
“Benarkah!? Apa cewek di samping kalian ini salah satunya?” tanya Beni Kepo.
Adi pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Bukan. Dia hanya murid kami berdua pun yang kebetulan orang tuanya ini merupakan teman relasi bisnis ayahnya Arya.”
“Oh begitu. Lalu kenapa kalian gak ajak pasangan kalian juga?” tanya Beni.
“Gak bisa, Ben. Istriku ada di luar kota sedang sibuk dengan sekolahnya. Sedangkan tunangan Adi ada di kota ini, hanya saja saat ini dia sedang ada urusan. Bukan begitu, Di?” ucap Arya yang langsung menengok ke arah Adi dan Adi pun mengangguk.
Di saat yang bersamaan, sontak wajah Sintia benar-benar langsung berubah. Tampak jelas terlihat di wajahnya kalau dirinya saat ini sedang menahan emosi dan kesal.
Bersambung...
__ADS_1