
“Mas. Ok. Aku jujur. Sebenarnya tadi pagi Vino nembak aku di depan Gylsa dan juga Fiko. Hanya saja udah langsung aku tolak. Dan barusan sebenarnya dia ingin mengajakku pulang bareng. Tapi lagi-lagi juga udah aku tolak dan dia pun masih tetap kekeh mau tungguin aku. Nah kalau udah begitu, apa itu juga termasuk salah aku yang kelihatan gak nurutin mau Mas?”
Kini ganti Arya yang terdiam mendengar ucapan Kania. Memang kalau seperti itu keadaannya, itu semua bukan karena Kania tidak mau menurutinya. Tapi itu karena Vino nya yang masih tetep kekeh berusaha mendapatkan perhatian dari Kania.
Setelah menyadari akan hal itu, Arya pun langsung duduk di samping Kania dan berkata, “Kan, maafin aku. Aku benar-benar gak tahu kalau cerita sebenarnya seperti itu.”
Kania yang masih menatap lurus ke depan ini pun berkata, “Mas, aku tahu Mas itu mau memperbaiki semua kesalahan Mas di kehidupan lalu. Tapi bukan begini juga caranya, Mas. Ini sungguh buat aku jadi gak nyaman.”
“Iya, Kan. Aku tahu. Aku begitu karena terlalu takut kalau aku akan kehilangan kamu sebelum aku menebus kesalahanku waktu itu,” ucap Arya lirih.
Kania yang mendengar itu pun langsung melihat ke arah Arya dan berkata, “Mas, buatlah aku jatuh cinta padamu bukan karena takut akan posesifmu, tapi buatlah aku mencintaimu dengan tulus dari hatiku.”
Mendengar ucapan Kania, Arya pun juga spontan melihat ke arah Kania dan berkata, “Baiklah. Akan aku buat diriku menjadi candu buatmu seperti dirimu yang sudah menjadi candu untukku.”
“Apa?”
Spontan Kania pun langsung bergerak menjauhi Arya. Dia merasa kalau akan hal yang terjadi setelah ucapan ini.
Arya yang sadar akan sikap Kania ini pun langsung tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata, “Kan, bagaimana ya. Tapi emang seperti itu kenyataannya. Rasanya tidak enak kalau—”
Arya bergerak mendekati Kania lalu kemudian melanjutkan ucapannya dengan berkata, “kalau aku tidak menciummu sampai puas.”
Dan setelah itu...
'Cup'
Langsung di ciumnya bibir Kania dengan lembut dan seperti biasa, Arya selalu membuat gerakan yang membuat Kania jadi tidak bisa melepaskan diri darinya.
Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda, Vino yang merasa menunggu Kania sudah cukup lama ini pun akhirnya mencoba mencari Kania di ruang guru. Namun saat setelah sampai, Vino bingung karena dia sama sekali tidak bisa menemukan sosok Kania di ruangan guru tersebut.
“Hai, kamu. Mau cari siapa?” tanya salah seorang guru yang melihat Vino seperti sedang mencari seseorang.
__ADS_1
“Oh, Pak. Hmm, itu. Saya sedang mencari teman saya yang namanya Kania. Tadi sih sempat dipanggil ke sini sama Pak Arya,” ucap Vino.
“Oh. Kalau buat temanmu, bapak gak tahu. Tapi kalau untuk Pak Arya, beliau sudah pulang dari tadi,” jelas guru tersebut.
Vino yang mendengar itu pun jadi merasa ada yang aneh dan dalam hatinya bergumam, “Kok begitu? Bukannya tadi Pak Arya yang menyuruh Kania ke kantor?! Terus kenapa malah Pak Arya nya pulang? Lalu di mana Kania?”
Dan sesaat kemudian...
“Oh gitu ya, Pak. Kalau begitu terima kasih,” ucap Vino yang kemudian melangkahkan kakinya berbalik arah.
Dalam langkahnya, Vino pun berpikir kira-kira ada di mana Kania sekarang. Kenapa dia sama sekali tidak melihat Kania keluar dari gerbang sekolah.
Banyak pertanyaan yang ada di otak Vino. Namun tidak ada satu pun yang memiliki jawaban.
“Aaaaaaaargh.. pusing,” teriak Vino sambil mengacak-acak rambutnya.
Sementara itu di tempat lain, Kania yang mendapatkan ciuman dari Arya ini pun merasa sulit sekali bernapas. Di pukulnya pundak Arya berkali-kali dengan harapan Arya dapat menyudahi ciumannya tersebut.
“Aw.. essst..” pekik Arya sambil meringis kesakitan.
“Kan, kamu udah mulai belajar nakal ya rupanya?” goda Arya yang hendak menarik Kania lagi namun dengan sekuat tenaga Kania menahannya.
“M—mas, sudah ya. Ini masih di sekolah. Kalau ada yang gak sengaja lihat kita seperti ini bagaimana?” tanya Kania.
Arya pun langsung menyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Ini bukan pertama kalinya kamu bilang begini, Kan. Ok. Kita akan teruskan sampai puas setelah kita sampai di rumah.”
“What?! Oh noooo!...” teriak Kania dalam hati saat mendengar ucapan Arya, “rasanya aku udah salah omong lagi nih.”
Kania pun langsung memukul-mukul pelan bibir sendiri yang sudah salah bicara.
Sementara itu, Arya yang sudah berdiri ini pun berkata, “Kamu ngapain, Kan? Ayo kita cepat pulang sekarang.”
__ADS_1
Arya pun langsung melangkahkan kakinya terlebih dahulu meninggalkan Kania yang berjalan lesu menyusul di belakangnya.
***
Sesampainya mereka di rumah, Kania yang masih teringat dengan ucapan Arya ini pun berusaha memosisikan dirinya jauh dari Arya.
Sedangkan Arya yang kini sedang merasa naik hasratnya ini pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Arya bergumam, “Tahan, Ar. Tahan. Belum waktunya buat kamu melakukan hal itu terhadapnya.”
Di guyurnya seluruh tubuhnya dengan menggunakan air dingin secara terus-menerus hingga rasa dingin tersebut mengalahkan rasa hasratnya yang menyiksa. Lalu di balutnya tubuhnya dengan menggunakan handuk dan setelah itu ia pun keluar.
Kania yang tidak berani masuk ke dalam kamar ini pun akhirnya hanya duduk di depan televisi dan menonton.
Sementara itu, Arya yang sudah jauh lebih tenang ini pun keluar dan berjalan mendekati Kania lalu berkata, “Cepat gantilah pakaianmu dan setelah itu Istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan setelah ini.”
“Oh,” sahut Kania lega namun entah mengapa ada sedikit rasa kecewa mendengarnya.
Sesuai perintah Arya, Kania pun langsung bangun dan kemudian pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Sementara itu, Arya pun langsung menuju ke ruang kerjanya dan memulai pekerjaannya dengan menelepon Henry.
***
Di dalam kamar, Kania yang sudah selesai mengganti pakaian ini tiba-tiba merasa ada yang ketinggalan. Tapi setelah mencoba berkali-kali untuk mengingatnya, dia masih belum bisa menemukan apa yang ketinggalan. Hingga sesaat kemudian...
“Aih. Lupa. Vino. Tuh cowok jangan bilang masih tunggu aku di sekolah deh,” gumam Kania.
Karena merasa tidak enak, dia pun langsung berlari ke ruang kerja Arya dan kemudian berkata, “Mas.. Mas.. Mas.. itu.. Vino terus gimana itu? Dia tadi bilang katanya mau tunggu aku sampai selesai, tapi nyatanya aku malah pulang duluan tanpa pamit sama dia. Apa gak apa-apa tuh, Mas?”
Melihat wajah khawatir Kania yang seperti itu, Arya yang kala itu sedang serius membahas masalah pekerjaan dengan Henry pun akhirnya langsung menyudahi teleponnya dan kemudian berteriak, “Kaniaaaaaaaa!!!”
__ADS_1
Bersambung...