The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Keputusan penyelesaian Kania


__ADS_3

Sedangkan Papa Aditya dan Mama Kiran yang mendengar ini pun menjadi bingung dan akhirnya bertanya, “Apa maksudnya kejadian nekat waktu itu terulang lagi? Memang ada kejadian nekat apa waktu itu?”


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, akhirnya Arya pun menjelaskan semuanya dan ketika Papa Aditya serta Mama Kiran mendengarnya, ada perasaan antara percaya dan tidak percaya.


Mereka tidak habis pikir kenapa Sintia bisa sampai berbuat sejauh itu.


“Lalu, sekarang apa rencana kalian?” tanya Papa Aditya.


Arya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Kami masih belum tahu, Pa. Tapi yang pasti kejadian serupa seperti itu pasti akan terjadi lagi. Hanya saja untuk kapannya dan kali ini bagaimana caranya, kami tidak tahu.”


Mendengar ucapan Arya, Papa Aditya dan Mama Kiran pun sama-sama saling menatap satu sama lainnya hingga kemudian Papa Aditya kembali berkata, “Ya sudah. Kalau begitu bagaimana kalau kalian tinggal bersama kami saja!? Bukannya itu akan jauh lebih aman dan Sintia pun tidak akan berani berbuat macam-macam pada kalian, khususnya pada Kania.”


Mendengar tawaran Papa Aditya, Kania pun langsung melihat ke arah Arya dan kemudian bertanya, “Bagaimana menurutmu, Mas?”


“Kamu gak keberatan tinggal di sini?” tanya balik Arya sebelum memutuskan.


“Aku terserah sama Mas aja. Aku ikut aja Mas,” sahut Kania.


“Ya sudah kalau begitu. Kita tinggal di sini saja untuk sementara waktu sampai kita bisa menemukan Sintia kembali,” ucap Arya memutuskan.


Kania pun mengangguk sambil tersenyum. Sementara itu, Papa Aditya dan Mama Kiran yang melihat itu pun merasa senang. Dengan kehadiran mereka, Mama Kiran berharap bisa mengurangi kesedihannya saat teringat tentang Sintia.


Sementara itu di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda, Sintia yang rupanya sedang bersembunyi di sebuah tempat yang sepi ini pun terduduk termangu.


Dia memikirkan kenapa bisa sampai kehidupannya jadi seperti ini.


“Ma, Pa, kenapa kalian tidak menceritakan semuanya dari awal? Kenapa orang yang aku sayangi satu persatu menghilang? Kenapa!?” gumam Sintia pada dirinya sendiri.


Setelah bergumam seperti itu, Sintia pun untuk sesaat kembali termenung dengan tatapan kosong.


Hingga beberapa saat kemudian..

__ADS_1


“Gak. Aku gak bisa begini. Ini semua gara-gara dia. Dia yang ternyata sudah diam-diam mengambil semua orang yang aku sayangi. Jika gak ada dia, mungkin hal ini tidak akan terjadi padaku. Baiklah, aku akan membalasnya. Aku akan membuat dia pergi untuk selama-lamanya,” gumam Sintia penuh dengan dendam dan amarah.


***


Setelah kejadian itu, tiba-tiba saja Arya dan juga Kania merasakan perasaan yang tidak enak. Mereka berdua merasa kalau akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan akan terjadi.


Malam itu, tampak terlihat Kania tertidur dengan gelisah. Arya yang memperhatikan hal ini pun langsung mencoba membangunkan Kania.


Kania pun mengerjapkan matanya dan kemudian bertanya, “Mas, ada apa?”


“Kamu kenapa, sayang? Kok kelihatannya gelisah,” tanya Arya.


Kania pun langsung duduk dan menunduk lalu kemudian menjawab, “Mas, aku teringat kejadian waktu itu, di mana aku di tabrak sebuah mobil oleh Sintia dan Rumah Sakit yang merawatku pun terbakar. Membuat kita kembali berpisah dan cerita kita pun berakhir di kehidupan itu. Sekarang, aku takut Mas. Aku takut bakalan terjadi seperti itu lagi. Masa’ kita harus mengulang dan mengulang kembali jalan cerita ini. Lelah aku, Mas. Aku juga takut.”


Mendengar curhatan Kania seperti itu, Arya pun menghela nafas panjang. Dia bisa mengerti dan paham kenapa bisa sampai Kania merasakan hal itu. Tapi mau bagaimana lagi. Emang inilah yang terjadi.


“Kan, aku juga gak mau seperti ini. Maka dari itu, alangkah bagusnya kalau mulai saat ini kita mencoba untuk lebih berhati-hati lagi,” ucap Arya yang kemudian diangguki oleh Kania.


Beruntung ke dua orang ini percaya. Kalau enggak, Arya dan Kania sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya.


Dengan bantuan dari Adi dan Gylsa, membuat Kania kini jauh lebih aman dan Arya pun dapat tenang jika tidak sedang berada di dekatnya. Pasalnya, ke mana pun Kania pergi, mulai dari keluar dari rumah hingga kembali lagi ke rumah, Gylsa selalu menemani. Begitu pula saat sedang di sekolah.


Namun setelah beberapa lama ini berlangsung, Kania pun akhirnya merasa seperti tidak leluasa dan selalu ada rasa khawatir setiap kali keluar rumah. Karena hal ini, membuat Kania pun akhirnya membuat keputusan.


“Mas, ijinin aku besok ke taman sendirian,” ucap Kania.


Mendengar ucapan Kania, Arya pun menyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Kamu mau ngapain ke taman sendirian? Bahaya, Kan. Sintia kan masih belum ada kabar.”


Kania pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak apa-apa, Mas. Mas tetap pantau aja dari kejauhan. Jika Sintia memang menargetkan aku, dengan sendirinya dia pasti akan keluar dan berniat melakukan hal yang tidak-tidak padaku. Nah di saat itulah, Mas bisa menolong aku sekaligus menangkap Sintia. Bagus bukan?”


“Bagus kepalamu, Kan. Itu sangat berbahaya tahu. Gak. Pokoknya aku gak setuju,” ucap Arya.

__ADS_1


“Hayolah, Mas. Harus ada yang terlebih dahulu menyelesaikan cerita ini,” bujuk Kania.


“Menyelesaikan sih menyelesaikan, tapi apa kamu yakin kalau hasil akhir dari penyelesaian cerita ini tuh gak akan berujung sama seperti dulu?” tanya Arya.


Kania pun terdiam sejenak karena dia sendiri tidak yakin hasil akhirnya seperti apa. Hingga beberapa saat kemudian Kania pun berkata, “Mas, kita coba aja dulu ya. Aku percaya sama Mas. Aku serahkan hasil akhir sama Mas. Ok!?”


***


Keesokan harinya...


Sama seperti yang sudah direncanakan. Kania pun sengaja duduk seorang diri di bangku taman. Sambil mencoba membaca buku pelajaran sambil mendengarkan musik dari ponsel yang dia dapat dari Arya, dia pun tampak terlihat tenang sehingga tidak terlihat seperti orang yang sedang sengaja menjebak orang lain.


Kania berada di taman tersebut sudah hampir tiga jam lamanya, tapi Sintia masih belum menunjukkan tanda-tanda dia datang.


Arya yang mengajak Adi, Gylsa dan Henry bersamanya untuk memantau keadaan Kania ini pun akhirnya lama kelamaan merasa jenuh.


Dan saat itu...


“Pak, apa Bapak yakin kalau Sintia akan datang?” tanya Gylsa mulai ragu.


“Kurang tahu. Tapi yang pasti kalau di lihat dari sifatnya selama yang aku kenal, dia pasti sudah memantau gerak-gerik Kania sejak lama. Hanya saja dia masih belum ada kesempatan untuk melakukan apa-apa pada Kania,” jelas Arya.


“Tapi, Ar. Ini tuh sudah hampir tiga jam lamanya kita tungguin tapi kenapa belum ada tanda pergerakan dari Sintia? Apa jangan-jangan Sintia sudah tahu kalau kita datang mengikuti Kania dan bersembunyi?” tanya Adi.


Arya pun menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Gak mungkin dia tahu keberadaan kita. Karena dari Kania keluar dari rumah hingga sampai saat ini, Kania selalu sendirian. Sementara kita, mengikutinya dengan jarak 15 menit kemudian. Jadi mana mungkin Sintia menyadarinya!?”


Adi pun mengangguk-angguk dan di saat yang bersamaan..


“Ar, lihat! I—itu,...” ucap Adi sambil menunjuk ke arah seseorang berjaket hitam dengan memakai topi sedang berjalan semakin cepat mendekati Kania.


“Gawat!! Bahaya!!”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2