
Di kantor guru...
Arya yang masih sabar menunggu kedatangan Kania ini pun melanjutkan pekerjaannya sebagai guru dengan mengecek seluruh tugas yang dikerjakan siswanya.
Setengah jam sampai satu jam lamanya dia menunggu hingga satu persatu siswa dan juga guru sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
Dalam hati Arya, dia bergumam, “Jangan-jangan dia kabur lagi.”
Sesaat setelah bergumam seperti itu, tiba-tiba saja terdengar suara pintu ruang guru di ketuk oleh seseorang.
Arya yang saat itu sedang mengoreksi semua tugas siswanya itu pun langsung spontan menengok ke arah sumber suara.
“Pak,” sapa Kania.
“Oh. Akhirnya kamu benar-benar mau datang juga,...” ucap Arya, “sini masuk.”
Dengan ragu, Kania pun melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut.
“A—ada apa, Pak? Kok Bapak menyuruh saya datang di saat jam pulang sekolah seperti ini?” tanya Kania.
Arya pun tidak menjawab pertanyaan Kania melainkan dia hanya menatap lekat-lekat gadis yang ada di hadapannya itu.
Kania yang di tatap seperti itu pun otomatis menjadi salah tingkah dan akhirnya berkata, “Pak, kalau emang gak ada hal penting, aku lebih baik pulang saja.”
Setelah mengatakan hal itu, Kania pun mencoba untuk berdiri namun akhirnya di tahan oleh Arya.
“Kan, aku boleh tanya sesuatu padamu?” ucap Arya pada akhirnya.
“Mau tanya apa, Pak?” tanya Kania balik.
Untuk sesaat Arya pun terdiam hingga akhirnya di berkata, “Aku perhatikan dari awal hingga saat ini, kamu tuh sepertinya membenciku. Apa benar seperti itu?”
‘Deg’
Kini ganti Kania yang terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.
Sementara itu, Arya yang melihat Kania hanya terdiam seperti ini pun menyipitkan matanya dan kemudian bertanya, “Kenapa diam?”
Dengan menarik nafas dalam-dalam, Kania pun akhirnya menjawab, “Aku memang sangat membenci Bapak sangat sangat sangat membenci Bapak.”
__ADS_1
Arya yang mendengar itu pun tiba-tiba merasakan adanya kepedihan yang teramat sangat di hatinya.
“Sekarang Bapak sudah tahu kan kalau aku membenci Bapak. Jadi, tolong. Bapak urungkan saja niat Bapak untuk melamarku dan juga menikahiku,” ucap Kania lagi.
Arya pun terdiam sejenak dan kemudian bertanya, “Sebelum aku memutuskan untuk bertahan atau kah tidak, aku mau bertanya satu hal dulu padamu. Apa alasanmu membenciku sampai sedemikian rupa seperti itu?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, lagi-lagi Kania pun terdiam. Dia bingung harus menjawabnya bagaimana. Tidak mungkin kan kalau dia bilang alasannya yang sebenarnya.
“Kan?” ucap Arya yang melihat Kania lagi-lagi terdiam.
“Haaaaaa,...” Kania pun menarik nafas panjang dan kemudian berkata, “Ok. Aku akan bilang yang sebenarnya. Terserah Bapak mau percaya atau tidak. Kerena apa yang nanti mau aku katakan itu cukup di luar logika.”
Arya pun mengangguk serius lalu berkata, “Bicaralah.”
“Pak, sebenarnya aku yang ada di hadapanmu ini tadinya pernah mati tapi entah mengapa bisa hidup kembali dan mengulang kejadian yang telah lalu. Dalam waktu hidupku yang dulu, aku memiliki pengalaman kalau dirimu adalah orang yang benar-benar membuat aku terluka. Oleh sebab itu, di kesempatan yang ke dua ini, aku sama sekali tidak ingin dekat denganmu apalagi sampai jatuh cinta padamu,” jelas Kania pada akhirnya sambil tanpa terasa meneteskan air mata.
Sementara itu, Arya yang mendengar itu pun terkejut karena ternyata Kania juga memiliki nasib yang sama dengannya yaitu hidup kembali setelah kematian.
“Kan, tolong maafin mas ya. Mas juga sama sepertimu. Mas pun hidup kembali. Namun tujuan mas hidup kembali itu hanya satu, ingin menebus semua kesalahan mas sama kamu di waktu lampau. Tolong ijinkan ya sayang,” ucap Arya yang akhirnya juga ikut terbuka.
Kania yang mendengar ucapan Arya pun langsung spontan menatap emosi ke arah Arya.
“Baguslah jika ternyata kita sama. Maka aku bisa terang-terangan menjauhimu tanpa harus memikirkan alasannya,” ucap Kania ketus.
“Gak.” Jawaban singkat, padat dan jelas.
“Ok. Gak apa-apa. Walau seberapa pun kamu menolak dan berniat menjauhiku, aku tidak akan mundur. Aku tetap mencintaimu dan niatku melamarmu bahkan menikahimu semakin bulat,” ucap Arya.
“Dasar gak punya malu,” ucap Kania.
“Biarin aja. Toh aku seperti ini juga cuma sama kamu aja. Istri dari masa lalu dan juga istriku di masa yang akan datang,” ucap Arya sambil tersenyum.
“Dasar stres,” ucap Kania yang kemudian pergi.
Arya yang di tinggalkan begitu saja oleh Kania pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil melihat punggung Kania yang menjauh.
“Kan, aku akan buktikan keseriusanku,” gumam Arya yang kemudian merapikan seluruh buku yang ada di atas meja kerjanya dan kemudian pergi ke kantornya.
***
__ADS_1
Tak terasa hari Minggu pun sudah tiba dan kali ini, Arya benar-benar datang untuk melamar Kania.
Dengan membawa beberapa mobil, Arya pun datang ke rumah Kania. Sementara itu, Kania saat ini tidak terlihat keluar sama sekali dari kamarnya. Sehingga membuat Papa Rafi menyuruh Mama Rina untuk memanggilnya.
“Kan, keluar Kan!” teriak Mama Rina.
Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali Mama Rina memanggilnya seperti itu. Namun walau sudah mendapatkan panggilan seperti itu berulang kali dari Mamanya, Kania masih tetap saja diam tidak bergeming. Tidak ada sedikit suara pun yang terdengar dari dalam kamar.
“Gimana, Ma? Kania masih tetap tidak mau keluar?” tanya Papa Rafi.
Mama Rina pun menggelengkan kepalanya sehingga membuat Papa Rafi pun emosi lalu mendobrak pintu kamar Kania.
Setelah pintu sudah berhasil di buka, Papa Rafi pun terkejut. Karena ternyata Kania sudah tidak ada di dalam kamar.
“Ke mana ini anak? Berani-beraninya dia kabur di saat penting seperti ini,” ucap Papa Rafi emosi.
Mama Rina yang melihat Papa Rafi seperti ini pun bertanya, “Kenapa Pa? Kania nya mana?”
“Kabur,” sahut Papa Rafi singkat.
“Apa?!”
Seketika Mama Rina pun syok. Dia langsung terduduk lemas di lantai.
“Sekarang kita harus bagaimana, Pa?” tanya Mama Rina lirih.
Papa Rafi pun terdiam. Dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana.
Sementara itu di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda..
Arya yang sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh Kania ini pun memutuskan untuk menunda kedatangannya selama dua jam.
Dia memerintahkan semua mobil yang mengiringinya untuk menepi di rest area terdekat. Sementara itu, dengan segera Arya pun mengemudikan sendiri salah satu mobil miliknya untuk menjemput Kania.
Sedangkan Kania sendiri untuk saat itu sedang duduk bersandar di dekat pohon kesukaannya. Dia benar-benar tidak berpikir kalau apa yang dia lakukan ini justru akan mempersulitnya di masa yang akan datang.
Dengan memejamkan matanya, Kania pun menikmati semilir angin yang terasa menggerak-gerakkan sebagian rambutnya yang kala itu sedang terurai.
Namun siapa sangka di saat itu tiba-tiba saja...
__ADS_1
“Ehm. Kania!”
Bersambung...