
“Benarkah? Lalu bagaimana caramu menerima kenyataan kalau sebenarnya Kania ini sudah menikah dan menjadi istri orang lain?” ucap Arya yang spontan membuat Kania, Gylsa dan juga Vino pun langsung menengok ke arah Arya.
Dengan refleks, Kania pun langsung menepuk jidatnya dan Gylsa yang ada di situ pun langsung mencubit kecil lengan tangan Kania.
“Maksud Bapak apa?”
Arya pun langsung berdiri di sebelah Kania dan berkata, “Ya. Kania yang sekarang sebenarnya sudah menikah dan sudah menjadi seorang istri. Jadi saya harap, kamu sebagai sahabat masa kecilnya dapat bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskannya.”
Mendengar ucapan Arya, Vino pun terkejut. Namun lagi-lagi dia berkata, “Gak. Gak mungkin. Bapak pasti bohong kan?”
“Pak Arya gak bohong, Vin. Gue benar-benar memang sudah menikah dan sudah menjadi seorang istri. Tolong lo dapat menerima kenyataan ini Vin,” ucap Kania.
“Apa?! Ini benar-benar sungguh tidak masuk akal. Gue gak percaya,” ucap Vino.
Baik Kania, Arya, atau pun Gylsa, ke tiganya saling tatap satu sama lain melihat sikap Vino yang tidak mau menerima kenyataan ini.
“Sudahlah. Hari sudah hampir senja. Kita harus cepat cari barang yang kita butuhkan. Untuk masalah ini, kapan-kapan aja kita bahas lagi. Aku udah lelah,” ucap Kania yang langsung menarik tangan Gylsa meninggalkan ke dua cowok itu.
***
Malam harinya di rumah, Arya sedari pulang dari belanja terlihat cemberut dan ini disadari oleh Kania.
“Mas kenapa?” tanya Kania sambil mengecek barang-barang yang sudah dikirim oleh Henry beserta rincian harganya.
“Kesal,” sahut singkat Arya dengan nada sewot.
“Kesal kenapa?” tanya Kania masih sambil fokus dengan aktivitas ngecek nya.
“Itu tuh temanmu. Padahal dia udah jelas tahu kalau kamu tuh udah ada yang punya, tapi tetap aja gak mau nyerah,” sahut Arya.
“Oh,” sahut Kania santai.
Mendapatkan respons santai seperti itu dari Kania, Arya pun langsung menengok ke arah Kania sambil menyipitkan matanya.
“Kamu ini ya?! Apa kamu gak tahu kalau aku sedang cemburu?” tanya Arya kesal.
Masih dengan nada santai, Kania pun menyahut, “Tahu. Aku tahu banget kok.”
__ADS_1
“Kalau kamu tahu banget, kenapa kamu gak coba buat nenangin aku?” protes Arya.
“Lha buat apa aku lakuin itu. Toh emang sekarang kan kita sedang dalam proses dirimu membuat aku benar-benar jatuh cinta,” ucap Kania asal.
“Oh. Jadi gitu ya?! Sekarang aku baru sadar kalau sampai detik ini, hanya aku aja yang ngerasa tersiksa dengan perasaan ini, sedang kamu masih santai-santai saja seperti ini. Oh.. begitu rupanya,” ucap Arya dengan nada kesal.
Kania yang mendengar ucapan Arya dengan nada seperti ini pun langsung menggelengkan kepalanya dan tertawa sehingga membuat Arya semakin kesal.
“Kamu kenapa malah ketawa gitu, Kan?” protes Arya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kania pun sejenak menghentikan aktivitasnya dan kemudian berkata, “Mas, Mas sudah buat aku menikah dengan Mas. Lalu kenapa juga Mas masih marah gak jelas seperti ini sama cowok lain yang sama sekali gak ada status apa pun sama aku?”
Arya pun langsung menengok ke arah Kania dan berkata, “Memang benar kalau status kita suami istri. Tapi tetap saja aku merasa kesal dengannya yang tetap gak mau mengakui hubungan ini.”
Kania pun menyipitkan matanya lalu kemudian mendekati Arya dan merangkul pundak Arya lalu kemudian berkata, “Terus menurut Pak Guru, aku sebagai perempuan yang sedang di perebutkan harus berbuat apa agar suamiku ini dapat mengacuhkan sikap Vino yang seperti itu.”
Arya pun terdiam sejenak lalu kemudian berkata, “Sebentar lagi kamu kelas 2 bukan? Dan umurmu 17 tahun.”
“Iya. Lalu emangnya ada apa dengan hal itu?” tanya Kania bingung.
“Rasanya sangat lama sekali kalau aku harus menunggumu sampai lulus kelas 3,” ucap Arya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Arya pun langsung mendekatkan mulutnya di telinga Kania dan kemudian berbisik, “Bagaimana kalau kita lakuin itunya sekarang aja? Supaya aku benar-benar yakin kalau kamu sudah jadi milikku seutuhnya.”
“A—apa?!”
Tanpa menghiraukan bagaimana respons Kania, Arya pun langsung menggendong Kania dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, tubuh Kania pun pelan-pelan di letakkan di atas tempat tidur.
“M—Mas, usiaku di kehidupan ini masih belum dewasa dan aku juga masih kelas satu, belum waktunya aku melakukan hal itu,” ucap Kania.
Arya pun tersenyum lalu dengan lembut berkata, “Walau memang di kehidupan ini kamu masih belum waktunya, tapi hatimu, pikiranmu serta keinginan untuk hal seperti itu masih tertinggal dan tetap ada. Ya kan?”
Arya pun langsung menciumi bibir Kania sehingga Kania tidak dapat berbuat apa-apa kecuali akhirnya mengimbangi permainan yang dilakukan oleh Arya pada dirinya.
Di tengah permainan, dengan sambil merasakan perih, Kania pun berkata, “Na—nanti kalau aku sampai hamil bagaimana?”
__ADS_1
“Gak usah pikirkan hal itu. Kamu hamil kan ada suami. Ya kan?” ucap Arya.
“Bu—bukan begitu maksudku. Yang aku maksud, bagaimana dengan sekolahku?” tanya Kania.
“Sudah. Jangan pikirkan itu. Kamu cukup nikmati saja apa yang kamu rasakan sekarang,” ucap Arya yang langsung membungkam mulut Kania dengan ciuman mesranya.
Dan jadilah malam itu mereka melakukan hal itu hanya karena gara-gara kecemburuan Arya yang melebihi batas.
***
Keesokan pagi hari, Kania merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia tidak menyangka kalau kecemburuan seorang Arya akan berakibat parah seperti ini.
Kania yang mencoba turun dari tempat tidur ini pun tiba-tiba masih merasakan lemas di kakinya sehingga membuat dia terjatuh.
Arya yang tadinya masih tertidur ini pun akhirnya terbangun akibat mendengar suara gaduh.
“Kan, kamu kenapa?” tanya Arya yang langsung mendekati Kania dan menolongnya berdiri.
“Mas, ini bagaimana aku bisa ke sekolah? Kakiku lemas banget,” keluh Kania.
“Sudah. Masih ada waktu. Kamu duduk lha di sini. Aku akan buatkan kamu segelas susu,” ucap Arya yang langsung pergi ke dapur.
Setelah beberapa saat kemudian, Arya pun datang dengan membawa susu hangat dan memberikannya kepada Kania.
“Kan, minumlah,” ucap Arya.
Tanpa banyak bicara, Kania pun langsung meminum susu tersebut dan setelah beberapa saat kemudian..
“Bagaimana? Apa sudah jauh lebih enak badannya?” tanya Arya.
Kania pun mengangguk dan kemudian menyahut, “Lumayan jauh lebih baik, Mas.”
Kania pun langsung memberikan kembali gelas susu yang sudah kosong tersebut pada Arya dan Arya pun meletakkan di atas meja kecil yang ada di sebelah tempat tidur.
Sesaat setelah itu,...
“Kan, ayo kita lakukan lagi,” ucap Arya yang langsung begitu saja menyerang Kania tanpa memberikan Kania kesempatan untuk menolak.
__ADS_1
Bersambung...