The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Kejahilan dan keromantisan Arya


__ADS_3

“Oh. Jadi menurutmu, jika kita melakukannya di rumah, maka gak apa-apa ya?...” ucap Arya yang kemudian langsung bangun, “baik. Kalau begitu kita lakukan di rumah aja. Jangan harap saat itu kamu bisa lepas.”


“Apaaaaaaaaa?”


***


Hari sudah semakin larut dan Kania benar-benar sudah cukup lelah untuk menemani Arya yang kala itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Tanpa mau mengganggu Arya, Kania pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa dan kemudian memejamkan matanya.


Sementara itu Arya yang rupanya tersadar kalau Kania sudah kelelahan dan tertidur ini pun akhirnya memutuskan untuk membiarkannya saja.


Sampai setelah beberapa saat kemudian, pekerjaan Arya pun selesai dan dia menghubungi Henry agar menyiapkan mobil.


Henry pun dengan sigap langsung menyiapkan mobil tersebut.


Karena tidak ingin membangunkan Kania yang sedang tertidur, Arya pun akhirnya menggendongnya sampai masuk ke dalam mobil. Beruntung saat itu seluruh karyawan sudah pulang. Sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang melihat adegan ini.


Setelah sampainya di rumah, lagi-lagi Arya pun menggendong Kania hingga masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Saat itu dia melihat wajah Kania yang benar-benar kelelahan.


“Kan, istirahatlah,” ucap Arya yang kemudian memutuskan untuk pergi dari kamar tersebut.


Namun, belum juga Arya sempat berdiri, tiba-tiba saja pergelangan tangan Arya di tarik oleh Kania hingga membuat dia terjatuh tepat di sebelah Kania.


“Kan, kenapa saat kamu tidur pun kamu tetap berniat membuat masalah denganku?” gumam Arya sambil meletakkan telapak tangannya di atas keningnya sendiri.


***


Keesokan paginya, Kania merasa tubuhnya sangat segar sekali. Entah kapan terakhir kali dia merasakan tidur nyenyak seperti itu. Namun yang pasti, Kania merasa kalau tidurnya sangat nyaman.


Ketika dia merasakan kenikmatan sambil masih memejamkan matanya yang membuatnya ingin kembali terlelap lagi ini, tiba-tiba dia merasakan sesuatu saat tangannya meraba sesuatu dan yang jelas itu bukanlah tempat tidurnya atau bantal atau pun guling.


Saat itu, mata Kania yang tadinya masih terpejam ini pun tiba-tiba terbuka dan kemudian melihat sebenarnya apa yang sudah dia raba barusan.


Setelah dia tahu jawabannya, dia pun langsung spontan berteriak, “M—maaaaaaaas!”

__ADS_1


Arya yang mendengar suara teriakan berisik Kania pun akhirnya mengerjapkan matanya dan kemudian berkata, “Apa sih, Kan? Pagi-pagi begini udah ribut gak jelas.”


Kania pun spontan langsung bangun dan duduk menjauhi Arya.


“M—mas, kamu ngapain di sini?” tanya Kania gugup.


“Ya mau ngapain lagi. Ya tidur lah. Ini kan kamar dan juga ada tempat tidurnya. Buat apa lagi coba kalau bukan buat tidur?!” ucap Arya santai sambil masih memejamkan matanya kembali.


Mendengar jawaban dari Arya seperti itu, Kania pun menunduk. Dalam hati dia bergumam, “Apa kita benar-benar melakukannya semalam? Tapi kalau udah, kenapa aku gak ngerasa apa-apa ya? Atau tidurku yang seperti kerbau jadinya gak terasa?!”


Arya yang merasa tidak ada pergerakan dari Kania ini pun akhirnya membuka matanya satu dan mendapati Kania seperti sedang memikirkan sesuatu.


Melihat istrinya seperti itu, Arya pun langsung menarik Kania sehingga tertidur kembali di samping dirinya. Di peluknya tubuh Kania dengan mesra.


Kania yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun bertanya, “Mas mau apa?”


“Kan, semalam kamu hebat sekali. Karena terlalu hebatnya kamu, sampai-sampai membuat aku tidak bisa bangun,” bisik Arya di telinga Kania.


Mendengar ucapan Arya itu, seketika wajah Kania 'blush'. Betapa malunya dirinya jika memang hal itu benar-benar terjadi.


“Kan, kamu pastinya sudah lelah kan?! Ya sudah. Hari ini kamu gak usah masuk sekolah dulu. Kamu Istirahatlah di rumah. Ok?!” ucap Arya yang lagi-lagi membuat Kania nge-blush wajahnya.


Arya pun tersenyum melihat ekspresi dan tingkah Kania seperti ini. Dalam hatinya bergumam, “Rasanya sungguh menyenangkan membuatmu seperti ini, Kan.”


Sesaat setelah itu, Arya pun langsung bangun dan kemudian pergi untuk merapikan diri.


Sementara itu, Kania yang dari awal merasa malu ini pun akhirnya menenggelamkan dirinya dalam selimut tebal sehingga menutupi dirinya seperti kepompong.


Saat setelah semuanya rapi, Arya yang melihat Kania dengan posisi yang belum berubah ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.


Dihampirinya istrinya itu dan kemudian di bukanya selimut yang membungkus istrinya. Setelah wajah Kania terlihat, Arya pun mendekatkan wajahnya ke wajah Kania lalu berkata, “Kan, aku berangkat kerja dulu. Kamu Istirahatlah.”


Saat hal itu terjadi, Kania hanya melongo tak menanggapi sehingga membuat Arya menyentil hidung Kania dan kemudian mengecup bibir Kania.


“Dah. Aku berangkat dulu ya, sayang.”


Tanpa membuang waktu lagi, Arya pun langsung pergi meninggalkan Kania yang kini sendirian.

__ADS_1


Kania pun terdiam sejenak. Dia memastikan kalau sudah tidak ada pergerakan apa-apa lagi dari Arya. Setelah beberapa saat kemudian, karena merasa kalau sudah aman, Kania pun langsung membuka selimut yang membungkusnya.


“Fiuh,” ucap Kania.


Setelah mengatakan hal itu, Kania pun lagi-lagi termenung. Dalam heningnya kamar, dia berpikir, “Kenapa sepertinya ada yang aneh ya? Apa emang jalan cerita di masa lalu udah sedikit berubah?”


Ada banyak pertanyaan dan juga keraguan di dalam hati Kania. Karena jika dia terlalu banyak berharap dengan apa yang dipikirkannya, khawatirnya itu tidak sesuai dan akan membuatnya lebih menderita dari kehidupannya yang lalu.


Kania yang terlalu berpikir banyak hal ini pun akhirnya mengacak-acak rambutnya.


Sementara itu, di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda..


Sintia yang meminta bantuan dari Mama Kiran ini pun datang menghampiri Mamanya yang kala itu sedang sibuk mempersiapkan pesta nanti malam.


Dengan suara agak merengek, Sintia pun bertanya, “Ma.. Mama udah bilang belum sama Papa?”


Mamanya pun terdiam sejenak. Dia lupa kalau anaknya itu meminta tolong padanya.


“Maaf, Sin. Mama belum sempat,” sahut Mamanya.


“Ah Mama. Mama gimana sih?! Kan Sintia benar-benar berharap kalau malam nanti Kania bisa langsung mengikat hubungan dengan Arya,” protes Sintia.


Dan di saat yang bersamaan, secara kebetulan, Papanya pun datang dan bertanya, “Ada apa, Ma? Sintia kenapa cemberut di hari bahagianya ini?”


“Ini, Pa. Mama lupa nyampein ke Papa kalau Sintia di pestanya malam ini, sangat ingin sekali dijodohkan dengan Arya,” jelas Mama Kiran.


'Deg'


Papa Aditya yang mendengar ucapan Mama Kiran ini pun langsung menarik tangan istrinya dan kemudian berbisik, “Itu tidak mungkin, Ma.”


“Kenapa gak mungkin, Pa?” tanya Mama Kiran heran.


Papa Aditya pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Ma, sebenarnya Arya sudah menikah diam-diam dengan seorang gadis dan pernikahan ini memang masih di sembunyikan karena sang istri belum siap untuk mempublikasikannya.”


“Apa Papa bilang?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2