The Singer

The Singer
011. Cium.


__ADS_3

Mobil seseorang sudah terparkir dengan rapih di halaman rumah. Pagi Ami yang tidak indah-indah amat itu rusak karna mendenger jeritan Rania, entah mengapa gadis itu amat heboh. Sepertinya dia cocok menjadi pesorak di lapangan bola.


Suara ketukan kamar dengan brutal membuatnya menghentikan, mengintip dari jendela kamarnya. "Uty! Uty! Uty, buka ini Eo!"


Amira yang baru saja mandi, masih dengan handuk yang membelit tubuhnya. Dia berjalan ke arah pintu untuk membukakan. "Kenapa sih Eo? Jangan teriak-teriak."


"Uty, ada om-om ganteng! Mobilnya yang Eo tunjukin kemarin itu, yohhh. Keren banget! Uty ayok lihat ke bawah." Dia menarik lengan Ami yang menganggur.


Ami langsung menahan tubuh bocah lelaki itu agar diam, tidak seperti orang rusuh. "Heh! Ami belum pakai baju. Lagian siapa sih?" Tanya Ami sambil berjongkok, agar mereka sejajar.


"Euh... Siapa ya tadi namanya. Eo lupa. Makanya Uty ayok kita kebawah. Kita kenalan sama Omnya." Masih dengan ajakannya sekarang sambil berloncat-loncat.


"Ihhh, gak boleh loncat-loncat. Nanti jatoh, tunggu dulu. Uty pakai baju dulu. Eo duluan aja."


Bocah itu akhirnya mengangguk lalu pergi dengan larian kecilnya, menuruni tangga.


Ponselnya yang dia simpan di atas kasurĀ  berdenting, menandakan ada pesan masuk. Ami menutup pintu itu lalu mengambil ponselnya. Dia melihat notifikasi pesan dari Alkan Ganteng.


Hah... Dia kelupaan untuk menghapus nomor cowok ini atau dia ganti saja namanya. Ami langsung membuka pesan itu. Pesannya berisi; Saya di bawah.


Bawah mana maksudnya? Bawah kolong jembatan? Sebelum dia sempat membalas pesan itu, suara ketukan mengganggunya kembali.


"Ami? Ada Alkan di bawah. Katanya mau jemput kamu."


Ami bengong, laki-laki ini memang tidak bisa ditebak. Ada saja tingkah lakunya. Ternyata dia mengirim pesan itu karna dia di bawah rumahnya. Mau apa sih cowok ini? Terus-terusan mengganggunya.


"Ya, Mbak!" Teriaknya. Dia mengacak-ngacak rambutnya karna kesal.


Pantas saja Rania sudah rusuh pagi-pagi, orang dia disodorkan pemandangan tampan. Dia itu kan penyuka lelaku tampan. Mantannya saja yang dijejerkan sepertinya bisa dibuat menjadi boy group korea.


Ami seger begegas memakai bajunya, lalu membereskan penampilannya. Memakai make up tipis serta rambutnya yang dia gulung karna nanti akan di rias oleh perias.


Ketika dia turun, pemandangan yang dilihatnya di ruang tamu adalah Leo sedang bermain dengan Alkan. Sepertinya lelaki itu mau menjadi penculik anak-anak, dengan gampangnya dia bisa mengambil hati Leo, padahal anak laki-laki itu sama seperti Ami, susah bergaul dengan orang asing.


"Itu Uty Ami!" Teriak Eo sambil menunjuk Ami, Alkan langsung mengalihkan tatapannya dari mobil-mobilan ke arah Ami yang sedang berjalan menuju mereka.


Alkan tersenyum guna menyapa Ami, "Empat puluh enam menit." Katanya sambil melihat jam tangannya.


"Hah?" Ami melongo tidak mengerti, mungkin memang kebiasaan gadis itu melongo.


"Waktu yang kamu pakai dan saya nunggu sekitar segituan."


Ami semakin melongo tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut lelaki di depannya. Alkan masih duduk dengan santai dan Ami berdiri di depannya.


"Saya gak nyuruh kamu buat nunggu. Lagian kamu ngapain disini?" Ami masih dengan tingkah nyolotnya.


Alkan berdeham pelan, "Saya padahal berniat baik mau jemput kamu."

__ADS_1


"Gak nyuruh!"


Leo yang sedang duduk di samping Alkan jadi ikutan menonton para orang tua ini sedang berdebat. "Uty! Om ini katanya mau jadi teman Eo."


Mata tajam Ami langsung menyorot ke arah Leo dengan mulai luntur mengubah tatapan mata biasa, "Eo, kan kata Uty apa? Jangan temenan sama sembrangan orang."


"Maksud kamu saya sembrangan?"


Ami tidak menjawab, "Eo, kok belum berangkat sekolah?"


Leo masih TK dia biasa sekolah diantar suster yang Mbaknya sewa untuk mengurus keperluan Leo, karna sedari kecil Mbaknya sedikit berkontribusi dalam mengasuh Leo.


"Kata Mamih, Leo boleh diantar sama Om sama Uty."


"Hah?"


"Ayok kita pergi."


"Hah? Apa sih? Jam syuting kan nanti jam 10, ini baru jam 7."


"Tapi kita kan mau nganter Leo sekolah. Iyakan Leo?"


Bocah itu mengangguk dengan semangat. Entah mengapa dia teramat semangat padahal biasanya malas sekolah.


"Kamu aja sana."


Ami berdecak, "Yaudah ayok. Tapi habis itu anterin saya pulang lagi kesini."


"Ngapain? Kan kita mau cari sarapan bareng habis itu ke kantor saya. Ayok Leo." Perintahnya lalu menggandeng lengan Leo. Bocah itu turun dari sofa dengan semangat, lalu pergi bersama Alkan meninggalkan Ami yang masih belum beranjak jalan.


----


"Om, om kok bisa ganteng? Makannya apa?" Pertanyaan aneh itu keluar dari mulut Leo ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya.


"Makan apa ya? Saya makan apa sih, Mi?"


Ami yang sedang bengong malah diajak bicara, dia menoleh menatap sekilas Alkan yang sedang menyetir. "Mana saya tau?"


Alkan terkekeuh dengan penuturan kata dari Ami, "Leo juga ganteng. Makannya apa?"


Ami merutuk, kenapa sih dia berada di tengah-tengah lelaki aneh, terkecuali kalau Leo tidak apa-apa.


"Eum... Eo suka disuruh makan sayuran sama Uty, sama Usis juga."


"Usis siapa?"


"Susternya." Saut Ami. Padahal dia kelihatan tidak minat dalam percakapan ini, tapi malah ikut nimbrung.

__ADS_1


"Om juga makan sayuran. Makanya ganteng. Kalau Ami makan sayuran kaya kambing ya?"


Ami langsung melotot lalu menabok lengan Alkan, "Sembrangan kamu!"


Tawa Leo dan Alkan meledak, "Nanti Mbak Ami gak bisa nyanyi dong kalau jadi kambing?"


"Bisa kok."


"Lho? Kaya gimana?" Leo masih setia menanggapi.


"Nyanyi kaya suara kambing."


"Alkan..." Tegur Ami namun dihiraukan.


"Kaya begini dong, Mbek... Mbek... Mbek..." Ucap Leo dengan nada asal yang penting seperti bernyanyi.


Alkan tertawa melihat Leo sedang bernyanyi dengan suara kambing di belakang. Sedangkan Amira mendengus kesal karna menjadi bahan ledekan.


"Leo! Gak boleh di denger omongan om-om satu ini." Tegur Ami.


"Memangnya kenapa, Uty?" Tanya Leo dengan polos, tidak mengerti.


"Sesat."


"Sesat itu apa?" Tanyanya kembali.


Ami menepuk jidatnya, lelah. Alkan masih tertawa pelan lalu tangan satunya terulur untuk menepuk-nepuk kepala Ami, mencoba menyalurkan rasa sabar.


Akhirnya mobil itu menepi di depan sekolah Leo yang sudah dipenuhi oleh anak-anak serta para orang tua yang mengantar anak-anaknya menimba ilmu.


"Yeayyy sampai! Terima kasih Om sudah mengantar Leo. Nanti Leo mau cerita sama temen-temen Eo, kalau Eo dianterin sama Om ganteng."


Alkan tertawa kembali, sepertinya lelaki ini teramat receh. "Sama-sama, Leo. Semangat ya belajarnya."


Lalu dia mengajak tos Leo dengan respon aktif dari Leo. Bocah itu langsung menoel lengan Ami.


"Uty, kiss?"


Ami menoleh ke belakang, langsung membalikan badannya untuk mendekati Leo. Leo mencium kedua pipi Ami dengan seruan semangat.


Alkan yang melihat itu tersenyum tipis, "Saya juga mau dong."


Mendengar itu Ami langsung melotot, menajamkan matanya seperti ingin menusuk Alkan. "Heh! Jangan sembrangan kamu."


"Kenapa sih? Saya bukan ke kamu. Orang saya minta ke Leo."


Leo yang mendengar permintaan Alkan, langsung mencium sebelah pipi Alkan juga. Lalu anak lelaki itu pergi keluar sambil berdadah-dadah di luar sana.

__ADS_1


"Tapi kalau kamu gak keberatan ngasih dengan senang hati saya terima."


__ADS_2