
Amira tidak pernah membayangkan, kalau ternyata mengobrol ringan dengan pria di depannya ini ternyata se-seru ini. Dia kira, pria ini akan selalu menyebalkan. Namun, ternyata pria ini bisa membuat tempat nyaman untuknya.
Pria ini mempunyai senyum yang manis ternyata, selama ini Amira selalu melihat senyuman tengilnya. Dia tidak pernah merencanakan untuk memperhatikan senyuman pria itu yang ternyata, ketika dia tersenyum, lesung pipinya akan muncul. Itu sangat manis, boleh kah Amira mempunyainya?
"Aku baru nyadar kamu punya lesung pipi."
"Aku?" Ulangnya karna terkejut mendengar penuturan Amira memakai Aku.
"Saya maksudnya." Koreksinya dengan cepat karna malu.
Alkan tergelak kembali, sambil memakan sate ususnya, yang katanya tadi tidak ingin. Sekarang malah suka, bahkan nambah terus. Dia juga mencicipi ati ayam. Ketika mencoba kembali dia merasakan aneh dan tidak mau, berbanding balik ketika ampelanya yang lumayan enak. Dia suka.
"Kenapa memangnya? Tambah ganteng ya?"
Kan, mulai narsisnya. Walau itu kenyataan sih.
Mendengar itu Amira berdecih pelan.
"Kamu mau?"
"Apa? Sate usus? Gak deh, saya kenyang."
"Bukan, mau lesung pipi?" Koreksinya.
"Oh, mau. Memangnya bisa?" Amira jadi tertarik kembali menatap Alkan yang akan menjelaskan caranya mempunyai lesung pipi.
"Kalau kamu gak bisa, tapi anak kamu bisa."
"Gimana caranya? Apa pipinya harus ditusuk dulu?"
Alkan tertawa kembali dengan pertanyaan random dari Amira. Sungguhan ternyata bodohnya gadis ini bisa menghiburnya.
"Ya, ngga dong. Kamu cukup nikah sama saya, nanti nurun lesung pipinya ke anak kamu."
Mendengar itu Amira langsung terdiam, melihat ke arah Alkan dengan sangsi takut dibohongi.
"Seriusan tau. Ayah saya punya lesung pipi, adik saya juga." Jelasnya.
"Adik kamu perempuan atau laki-laki?"
"Laki-laki. Ibu selalu pengen punya anak perempuan, siapa tau kamu minat boleh daftar."
__ADS_1
"Wah!" Amira menampilkan terkejutannya dengan main-main. Maksudnya, berakting terkejut sambil menutup mulutnya yang menganga, "Seriusan saya bisa daftar? Nanti nama saya masuk ke list anak keluarga terkaya dong, ya? Cara daftarnya gimana? Syaratnya apa? Pakai admin gak?"
Rentetan pernyataan itu membuat Alkan terkekeuh kembali. Seriusan deh, ketika dekat dengan Amira sepertinya dia menjadi gampang tertawa. Tawanya selalu renyah keluar begitu saja. Terkadang lelahnya Alkan menghadapi pekerjaannya langsung luntur seketika itu juga.
"Bisa. Kamu nikah dulu sama saya, jadi kamu otomatis anak Ibu saya. Jadi Amira Pramaga. Gimana? Tertarik?" Katanya dengan senyuman jail.
Kacamata bitamnya Amira sudah lepas dari tadi, jadi Alkan bisa dengan penuh memperhatikan gerak gerik matanya.
"Yah, sayang sekali, ya. Saya kira bakalan dimasukan ke kartu keluarga berjejer sama kamu."
"Berjejer sama saya kok. Saya nomor satu, kamu nomor dua. Statusnya menikah."
"Itu sih tandanya kita bikin kartu keluarga baru, dodol!" Amira melemparkan tisu yang dia gulung pada Alkan yang sedang tergelak dengan tawanya.
Melihat tawa Alkan, Amira jadi ikutan tertawa. Dia kembali takut hanyut dalam arus yang tidak seharusnya dia ikuti. Dia terlalu takut kembali jatuh pada lubang yang sama.
"Kita habis ini mau kemana?" Tanyanya ketika sudah menyelesaikan makannya, dia ternyata bisa meminum teh tanpa gula.
"Pulang?"
"Gak mau kekeling lagi?" Tawarnya karna sejujurnya Alkan masih ingin menghabiskan waktunya bersama Amira.
"Nggak deh, nanti Mbak Astrid nyariin."
"Iya, saya baru nyoba teh begini. Enak, hangat."
"Biasanya nyicipin teh kaya gimana?"
"Teh dari Jepang atau ke Jepangnya langsung buat minum teh. Ibu saya maniak teh terus ditemuin sama yang sesama suka teh, komplit deh mereka."
"Siapa?" Tanya Amira dengan refleks tidak seharusnya dia menanyakam perihal masuk ke ranah pribadi kan?
"Mantan saya. Dia suka teh, dia itu... Cocok banget sama Ibu saya, ditambah Ibu saya kepengen punya anak perempuan, ya sudah jelaslah dia dianggap anak saat itu juga bahkan sampai sekarang." Jelasnya dengan senyuman tipis.
Lalu entah mengapa, mengapa rasanya Amira sedikit nyeri ketika mendengar itu? Tidak seharusnya dia merasa iri atau pun cemburu kan? Lagian siapa dia yang berhak cemburu? Dia bukan siapa-siapanya Alkan, bahkan Amira sejak awal pun selalu menolak Alkan ketika mendekatinya.
Tidak seharusnya begini, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Untuk tidak mencoba jatuh cinta, karna itu bisa membuatnya kembali sakit.
"Kamu udah makannya? Ayok pulang." Katanya mengajak Amira untuk bangkit.
Amira tersadar dari lamunannya, lalu dia bangkit dari duduknya. Memakai sendalnya kembali. Lalu berjalan menuju gerobak itu untuk membayar.
__ADS_1
"Jadi berapa?" Tanya Alkan pada penjual itu.
Penjual itu menghitung dengan cepat, totalnya, Rp. 135.000. Alkan langsung membuka dompetnya untuk mengeluarkan kartu ATMnya. Penjual itu malah kebingungan karna Alkan malah menyodorkan kartu bukan lembaran kertas uang.
Amira yang menatap itu tergelak dan juga malu sekaligus. "Alkan, disini mana bisa pakai kartu."
"Hah? Gak bisa? Terus bayarnya gimana dong? Saya gak bawah uang cash." Katanya memperlihatkan dompetnya, disana hanya berjejer kartu-kartu saja.
Amira menepuk jidatnya kebingungan, dia juga tidak memegangi uang cash, "Parah banget. Gimana sih, kamu katanya orang kaya tapi gak pegang uang."
"Yaudah saya ngambil uang cash dulu gimana?"
"Disini ATM jauh, Den." Kata si penjual itu.
"Terus gimana dong?" Alkan jadi kebingungan sendiri. Sepertinya dia sedang berpikir warung macam apa ini tidak bisa membayar pakai ATM.
"Bayar cuci piring saja, Mas. Mau?"
Amira jadi membayangkan Alkan mencuci piring di tempai angkringan begini, melihat si keturunan Raja ini menjadi tukang cuci piring di angkringan pasti akan lucu dan langsung tersebar di internet. Amira bisa membayangkan, cuci piring di rumahnya saja dia tidak pernah sepertinya, apalagi disini? Di tempat yang seadanya ini.
"Bayar pakai jam tangan saya aja gimana?"
"Walah jam apa tuh? itu paling jual dapet 50 ribu kali!" Kata si anak penjual, sepertinya. Karna terlihat masih remaja.
Amira kembali tertawa dalam hati, jam tangan rolexnya yang Alkan beli dengan seharga mobil itu pasti menangis karna disamakan dengan harga minuman bobal.
"Eh, sembrangan. Ini saya beli dulu mahal."
"Mana coba lihat," Si pelanggan laki-laki ikutan melihat, sepertinya dia sudah akrab dengan bapak penjualnya, Alkan melepaskan jam itu lalu menyerahkan pada lelaki itu. "Wah, ini sih beneran jam tangan mahal. Tak kira Masnya orang kaya bodongan cuman buat nipu si Mbaknya aja."
Alkan mengernyit, tersindir. Enak saja. Dia memang kelebihan uang begini.
"Nah, yaudah. Pakai itu bisa?"
Mereka saling bersitatap, penjual itu meminta saran pada si pelanggan langganan.
"Ambil aja, Pak. Ini kalau dijual juga bisa lebih berkali lipat dari bayaran dia kalau pakai uang."
Akhirnya si penjual itu setuju dan membebaskan Amira Dan Alkan bisa pulang.
Amira masih dengan tawanya, karna mendapati momen lucu malam ini.
__ADS_1
"Kamu gapapa relain jam tangan itu?" Tanya Amira ketika mereka menuju mobil.
"Gapapa, saya masih banyak kok." Katanya dengan santai lalu membuka mobil itu.