The Singer

The Singer
031. Misi masa moso


__ADS_3

Sesil berjalan menuju ruang dalam. Dia diarahkan memasuki Club malam yang biasa dia dengar katanya terisi dengan orang-orang berbahaya, seperti; orang pemakai, pemabuk berat, dan segala tentang keburukan itu menampung pada tempat ini.


"Lo serius ngajak gue kesini?" Tanya Sesil berbisik pada temennya itu.


"Ya, udah santai aja. Lo mau ngorek informasi tentang seseorang kan? Disini itu ada hacker terkenal yang bisa ngebantu lo." Jelasnya sambil menyapa orang-orang yang dia kenal.


Lelaki penuh dengan tato di sebelahmya ini adalah teman Sesil. Dia merangkap jadi temannya sejak SMA sampai sekarang dan dia juga yang terkadang selalu membantunya sampai pada titik kesuksesannya saat ini.


"Tapi gue risih diliatin sama orang-orang disini. Serem banget sumpah. Gimana kalau ada gosip nyebar soal gue masuk ke club?"


"Tenang aja sih? Gak akan. Privasi aman di sini terkecuali lo bertingkah."


Bertingkah maksudnya adalah melakukan hal macam-macam yang tidak disukai oleh orang-orang ini dan sudah pasti jelas dia akan dalam bahaya jika melakukan itu.


"Lo yakin kan orang ini bisa bantu gue?"


Lelaki itu melirik ke arah Sesil dengan wajah kekinya, "Lo gak percaya sama gue?" Tanyanya penuh nada penekanan.


Sesil jadi gugup sendiri, ketika berada disini aura lelaki itu jadi sangat menyeramkan. Berbeda ketika mereka sedang jalan main bareng auranya sebagai teman biasa.


"Ini masih lama apa?"


"Orang yang lo cari, ruangannya di paling pojok dan di ruang bawah."


"Ruang bawah?!" Tanya balik Sesil ditambah dengan suara dentuman kencang dari musik Dj disana.


"Iya, ruang rahasia. Sabar, bentar lagi."


Sampai mereka akhirnya sampai. Ruangannya tenang kedap suara. Karna Sesil tidak mendengar lagi suara musik kencang itu, disini menjadi sunyi namun auranya malah lebih menyeramkan. Ditambah hiasan tengkorak-tengkorak itu dan penjaga yang super duber berbadan besar.


Mereka menyuruh Sesil dan temannya untuk duduk menunggu di kursi sana. Ini seperti tempat perdukunan dengan suasana lampu merah. Bedanya hanya tempat ini elite tidak seperti dukun yang rumahnya akan roboh itu.


"Hi, sorry nunggu lama ya?" Sapa seseorang duduk di hadapan mereka.


Ini berbanding balik dengan apa yang Sesil bayangkan, yang Sesil bayangkan adalah seorang yang mungkin sama persis penampilannya sama seperti temannya di sebelah ini. Namun, yang berada di depannya adalah seorang lelaki berkulit putih cerah dan bermata bulat walau memakai kacamata. Orang ini sungguhan tampan bersih tanpa tato.


"Jadi kenapa kalian kesini? Ada yang bisa gue bantu?"


Temannya Sesil meliriknya untuk meminta segera menjelaskan daripada dia bengong tidak jelas.

__ADS_1


Sesil langsung mengulurkan tangannya, berkenalan. "Hi, gue Sesil." ucapnya berbasa basi dahulu.


"Gue Leon." jawabnya membalas perkenalan bagai tak minat.


"Oke, jadi gue butuh bantuan lo soal buat cari tau keburukan seseorang yang bisa gue jadiin buat nyingkirin orang itu."


"Gampang. Siapa orangnya?"


"Amira Dewangsih. Lo bisa kan?" Tanya Sesil meyakinkan.


Leon terdiam beberapa detik lalu dia menjawab dengan anggukannya. "Bisa diatur. Bayarannya untuk di DP di awal 50juta. 50jutanya bisa lo bayar ketika file itu udah di tangan lo."


"What? Mahal banget."


"Ini pekerjaan ilegal, girl. Lo harus tau harga yang harus lo bayar untuk mendapatkan itu atau kalo gak mau dengan harga itu ada opsi lain untuk bayarnya.


"Apa?"


"Tidur sama gue. Gue picky, gak asal ngasil opsi ini.:


Mau dia picky sekali pun namun ini adalah hal gila. Sesil tidak sembrang tidur dengan orang asing, dia hanya tidur dengan mantannya.


"Gimana?" Tanyanya kembali.


Leon terkekeuh dengan senyuman smirknya, "Well, okay. Lo bisa urusin administrasi-nya sama dia." Tunjuknya pada perempuan yang berbaju minim dan berambut blonde itu.


"Dan soal yang lo cari akan ada di tangan lo besok siang, diantar ke rumah lo. Ingat satu hal, ruangan ini dilengkapi CCTV dan jika ini sampai berurusan dengan pihak berwajib bukan tanggung jawab gue, melainkan itu adalah urusan lo." Katanya penuh peringatan.


"Okay, deal." Sesil langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang.


Lelaki itu langsung bangkit dan pergi ke belakang kembali.


...----------------...


Mereka sedang menunggu pesanan mereka, sedang drive thru memesan MCD kembali. Amira jadi teringat ketika memakan MCD bersama pria ini dan Rania. Kali ini hanya mereka berdua. Di dalam mobil dan langit gelapnya Jakarta.


"Saya belum makan dari sore."


"Dan ini udah jam hampir jam 2 malam. Padahal kamu seorang dokter yang pasti selalu ngingetin pasiennya buat jangan lewatin makan."

__ADS_1


"Dokter itu hanya pencitraan. Apa yang mereka ingetin ke orang lain lebih baik buat diri mereka sendiri sebenarnya." Katanya di selingi tawa.


Antrian mobil di depannya hanya satu, lalu sekarang giliran mereka. Amira hanya memesan kentang goreng dan coca cola sedangkan Alkan memesan cheese burger dan coca cola.


Alkan mengambil pesanannya lalu membayarnya. Menyerahkan makanan itu pada Amira.


"Mau makan sambil jalan atau makan di tempat? Kita cari tempat yang nyaman dulu, tapi saya gak tau daerah sini. Kamu tau?" Alkan memutar setirnya keluar dari MCD.


"Ngga. Makan sambil jalan aja." Katanya tanpa memikirkan bagaimana cara Alkan memakan makanannya karna dia kan menyetir.


"Kalau gitu, suapin saya. Tangan saya kan nyetir. Terkecuali kamu mau kita nabrak." Pintanya dengan nada jail seperti biasanya.


Terkadang itu membuat Amira kesal dengan nada suaranya. Lelaki itu seorang perayu handal. Amira semakin takut terjebak dalam rayuannya.


"Okay, jasa saya mahal. Jangan lupa bayar."


Alkan tergelak mendengar celetukan dari Amira. "Bisa di atur."


Amira langsung menyodorkan burgernya pada mulut Alkan yang langsung disambut oleh Alkan. "Beda ya, rasanya kalau disuapin orang."


"Apaan? Sama aja perasaan."


"Beda sini deh kentangnya deketin."


Amira menyodorkan wadah kentang goreng itu pada Alkan, Alkan langsung menyetir dengan tangan satu, satunya lagi langsung mengambil kentang itu dan menyodorkan pada depan Amira.


"Nih,"


"Apa nih?" Amira kebingungan dengan tingkah Alkan.


Lelaki ini memang selalu membuat Amira kelimpungan dengan penuh kebingungan.


"Cobain rasanya disuapin."


Amira cengo mendengar itu, namun dia langsung memakan kentang itu. Dan kenapa rasanya pipinya tiba-tiba jadi memanas dan bersemu merah. Amira langsung berdeham dan meminum colanya dan mengalihkan pandangannya pada jendela.


"Beda kan?"


"Sama aja perasaan." Ucapnya dengan cepat namun bisa membuat Alkan kembali terkekeuh.

__ADS_1


"Amira, saya gak tau punya perasaan lebih atau ngga sama kamu. Tapi saya mau kita jalanin dulu sampai kita tau kelanjutannya akan gimana. Kamu setuju?"


Amira mau, namun Amira takut. Dia takut akan jatuh sendiri seperti apa yang pernah dia alami.


__ADS_2