The Singer

The Singer
016. Bandara.


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana kita akan pergi menuju Solo. Langit panas menterang menyemangati Amira yang sedang semangat tidak semangat. Bertemu dengan fans dia bersemangat, sedangkan bertemu dengan Alkan jelas tidak. Siapa yang akan bersemangat bertemu dengan manusia semenyebalkan itu?


Dari tadi Alkan sedang memandanginya, walau pun dia berbicara dengan Asistennya namun matanya tak lengah menatap gerak-gerik Ami yang sedang menyadarkan punggungnya pada kursi duduk, sambil memejamkan matanya. Jujur dia sangat mengantuk, menunggu kapal pemberangkatan mereka. Rania dari tadi berbisik soal bagaimana cara mendekati Alkan? Gadis itu tidak berhenti merecoki Amira bertanya soal laki-laki yang sedang di depan mereka. Rasanya ingin dia lakbani saja mulut gadis di sebelahnya ini.


"Kata Mbak Astrid, lu deket sama Alkan. Spill dong cara biar lu bisa deket gimana? Atau jangan-jangan pakai cara kotor ya?" Katanya sambil berbisik-bisik takut terdengar oleh orang lain.


Amira yang mendengar itu sedikit sensitif mendengar tuduhannya yang memakai cara kotor? Cara kotor bagaimana? Pertemuan mereka saja sejak awal yang sudah kotor.


"Gak tau."


"Serius elah, Mi. Kalau lu gak mau, buat gue aja."


"Terserah." Amira menjawabnya masih dengan memejamkan matanya.


"Lu punya nomornya gak? Kirim dong ke gue."


Kali ini Ami membuka matanya, "Orangnya ada di depan sana. Ngapain kamu minta nomornya?"


"Ya buat cari perhatian dulu lah. Ayok lah, Mi. Kirim ke Whatsapp gue." Masih dengan bujukannya.


"Deketin Langga aja sana dia juga ganteng." Amira kembali memejamkan matanya, lelah.


"Kok jadi Langga sih? Ya emang sih dia ganteng, tapi dia cueknya kebangetan. Gue gak suka, kalau Alkan masih ramah gitu wah point plus deh. Atau... Lu gak mau ngasih karna suka sama Alkan ya?"


"Berisik."


"Serius lu suka Alkan?"


Hidupnya memang tidak bisa tenang sedikit saja, "Nggak. Diem."


"Ck, lu mah pelit."


Terserahlah apa kata orang ini. Dia sudah dalam tahap malas menanggapi. Akhirnya Rania diam sambil menatap Alkan, karna lelaki itu akhirnya fokus pada Tabnya entah sedang mengerjakan apa.


Leo berjalan mendekati Alkan yang sedang duduk tidak jauh darinya.


"Om! Hallo, masih ingat Eo tidak?" Sapa bocah kecil itu sambil menyengir menampilkan empat giginya.

__ADS_1


"Eh, hi! Masih dong. Come here." Dia menyuruh Leo untuk duduk di samping Alkan.


"Wah, handphonenya besar sekali. Sama kaya punya mamih terus Uty Ami juga punya. Kadang Eo pinjam punya Uty Ami soalnya kalau punya Mamih suka gak kasih dikasih." Curhatnya dengan wajah cemberut membuat Alkan tertawa pelan.


"Leo mau pinjam?" Tawarnya.


"Boleh? Gak akan dimarahi?"


"Ngga, Leo diem-diem aja. Leo nanti di pesawat mau duduk sama siapa?"


"Um... Sama Uty Ami kayanya. Soalnya kalau sama Uty Rania, Eo suka kesel. Dia galak." Curhatnya kembali.


Alkan terkekeuh kembali lalu mengusap kepala bocah kecil itu. "Duduk sama Om mau gak?"


"Mau!"


"Okay, nanti kita duduk sama Uty Ami juga ya." Sengaja agar Ami tidak kabur dari dirinya. Alkan ingin duduk di samping gadis itu di dalam pesawat nanti bahkan sudah memesankan tempat duduk di samping gadis itu.


...----------------...


Amira memegangi tangan Leo untuk dia tuntun berjalan, Leo dari tadi bercerita kalau dia bermain Tab milik Alkan. Katanya dia bermain game seru membuatnya sangat amat disayangkan harus lepas karna dipanggil Ibunya agar bersiap akan menaiki pesawat.


"Uty, nanti pas di pesawat kita boleh keluar? Kalau kita keluar bakal jatoh ya? Boleh ngga kita pakai yang balon-balonan itu buat terbang?" Rentetan pertanyaan dari bocah kecil itu.


Yang dimaksud Leo soal balon adalah yang selalu dia lihat di televisi atau ponsel yaitu: orang-orang yang sedang melakukan terjun payung. Ketika dia melihat ini, bocah itu terus menerus ingin bermain terjun payung membuat kepala Ibunya ingin meledak saat itu juga.


"Ngga, Leo. Gak boleh ya! Leo harus jadi anak baik. Kalau di pesawat duduk aja atau bobo sama Uty Ami."


"Uty bobo terus dimana-mana." Kata-katanya membuat Amira tersinggung, ya memang sih selagi ada waktu untuk tidur kenapa tidak dia pakai untuk tidur saja, iyakan?


"Manusia itu butuh tidur. Jadi tidur aja selagi bisa."


"Kamu emang kebo, makanya tidur terus." Timbrung seseorang dari belakang mereka.


Alkan sedang berada di belakang mereka dari tadi mendengarkan pembicaraan kedua orang itu. Amira meliriknya sekilas.


"Hallo Om Ganteng!" Sapa Leo melihat ke belakang juga.

__ADS_1


Alkan tersenyum mendengar itu. "Hallo."


"Uty, kata Om Alkan, katanya kita duduk bareng."


"Iya kamu duduk sama Uty."


"Sama Om Alkan juga." Koreksinya.


"Sama Uty aja."


"Sama saya juga, saya udah atur tempat duduknya."


Amira yang mendengar penuturan dari Alkan langsung ingin protes, "Ih, apaan sih? Saya gak mau. Pokoknya saya mau pin-" Kalimatnya terpotong karna Alkan mendorong bahunya untuk maju ke depan tanpa membalikan badannya.


"Nanti aja protesnya, sekarang periksa dulu siapa tau kamu bawa barang berbahaya." Bisiknta dengan kekeuhan menyebalkan.


Amira mendelik mendengar itu, lalu dia maju untuk di check segalanya dalam tubuhnya dan tasnya.


"Tunggu dulu." Saat Amira ingin kabur terlebih dahulu, meninggalkan Alkan di belakang, lengannya malah ditahan oleh Alkan membuat dia menghembuskan nafasnya agar bersabar.


"Kenapa sih? Saya mau tukeran tempat duduk sama Mbak Astrid." Amira masih berusaha ingin kabur.


"Gak akan mau dia. Udah sih kamu duduk sama saya emang apa salahnya? Leo aja mau, iyakan Leo?" Tanyanya kepada Leo yang lebih pendek dari mereka jadi membuat matanya menatap ke bawah di samping kaki Amira.


Bocah kecil itu mengangguk dengan semangat, ya jelas dia mengangguk dengan semangat karna Leo sudah pasti diracuni otaknya oleh Alkan.


"Tapi saya gak mau."


"Yaudah kamu aja yang pindah. Leo tetep sama saya."


Leo yang mendengar itu langsung memegang telapak tangan Amira, "Uty! Leo mau duduknya sama Uty sama Om Alkan." Bujuk bocah kecil itu.


Kali ini, apa Amira harus mengalah kembali? Kenapa sih lelaki ini selalu mencari gara-gara setiap di dekatnya.


"Ami! Ayok buruan." Teriak Mbaknya yang sudah berada jauh di depan mereka.


"Ayok buruan kita naik. Sudah gapapa sih duduk sama saya biar kita kaya pasangan kan? Leo yang jadi anaknya." Katanya sambil mengelus bahu Ami mencoba menenangkan emosi gadis itu, namun menurut Amira itu malah membuatnya semakin emosi.

__ADS_1


__ADS_2