The Singer

The Singer
39. Gemparan berita.


__ADS_3

Jika ditanya apa yang Amira inginkan saat ini? Jawabannya adalah ketenangan. Terkadang dia selalu berpikir ingin membeli apartemen saja, agar bisa istirahat dengan tenang. Bukan berarti Amira terganggu oleh Leo walau terkadang iya, tapi bagian seriusnya dia lebih terganggu oleh Mbaknya dan Rania yang terkadang selalu merecokinya.


Seperti saat ini, gedoran berisik yang berasal dari pintu mengganggu tidur Ami. Suara lantang Rania dari luar memanggilnya. Amira tebak juga pasti gadis itu ingin membicarakan soal gosip artis.


Mau tak mau dengan keadaan lunglay, Amira bangkit dari tidurannya menuju arah pintu untuk mempersilahkan gadis itu masuk dan mendengar recokan dari mulutnya.


"Berisik! Kenapa sih?"


Rania langsung menyelonong masuk dengan heboh lalu duduk di kasur Ami. "Mi! Gue ada gosip panas!" Katanya dengan raut julid.


"Serius. Aku gak peduli soal gosip-gosip dari kamu itu." Jawab Amira ikut naik ke kasur lalu merebahkan kembali badannya, dia ingin menutup kembali matanya namun Rania malah menahannya.


"Eh, eh! Jangan tidur dulu. Dengerin gue dulu, ini gosip soal si cewek ular!"


Kebiasaan Rania ketika gadis itu kesal dengan seseorang, maka dia akan mengganti nama orang itu sesuka hatinya.


Dengan malas Amira akhirnya membuka matanya, menatap malas ke arah Rania yang sedang duduk di sebelahnya.


"Cewek ular siapa sih?"


"Sesil!" Dengan cepat dia menjawab itu, "Lu liat ini, buruan bangun dulu!" Rania menarik lengan Amira agar Amira duduk di sampingnya dan melihat apa yang ditunjukan oleh Rania.


"Kenapa sih? Tinggal kamu jelasin aja."


Dengan kemalasan, Amira melirik ponsel yang disodorkan padanya. Di sana, di akun yang sama saat beritanya, terpampang berita Sesil yang sangat berbeda dengan keramahannya.


Maksudnya, Amira seperti tidak percaya kalau gadis itu pernah melakukan ini. Berita soal Sesil menjadi pelakor dan menjual dirinya. Amira kira hidup gadis itu mulus-mulus saja.


Padahal Sesil selalu berusaha membuat image yang menjadi wanita elegan, namun dari berita ini membuat Amira menganga. Serius kah ini gadis yang kemarin bekerja sama dengannya?


"Kan! Gue udah nebak emang nih cewek murahan."


"Hushhh! Kamu kalau ngomong dijaga." Tegur Amira.


Rania mendengus karna cibiran itu, "Emang bener murahan kok! Buktinya tuh dia jual diri. Tapi gak murahan sih kayanya, pasti mahal nih. Orang dia cakep."

__ADS_1


Amira geleng-geleng, rasanya dia tidak peduli. Mau melanjutkan tidurnya saja. Itu kan bukan urusan dia juga, ngapain Amira harus mikirin soal itu.


"Udahlah, bukan urusan kita ini. Udah sana pergi, aku mau tidur lagi."


"Ada urusannya sama lo!" Katanya menahan kembali Amira yang akan merebahkan kembali badanya.


"Hah?"


"Ini tandanya tuh pengalihan isu. Berita lo jadinya tenggelem dan orang-orang pasti bakal lebih fokus ke beritanya si Ular." Jelasnya dengan menggebu-gebu.


Amira terdiam memikirkan itu, iya juga. Orang-orang jadi tidak akan fokus padanya kembali, karna kasus Sesil lebih berat dan condong pada dirinya sendiri dari pada Amira.


"Iya, kan? Gue jadi penasaran. Siapa ya yang nyebarin berapa ini? Soalnya anonym. Gila sih keren banget sampe ketauan."


Entah mengapa Rania malah terlihat bahagia di atas penderitaan orang. Bukannya turut berduka cita.


"Nah, jadi sekarang lo gak usah banyak pikiran deh. Gak usah kebanyakan takut ini itu. Sekarang jalanin aja yang udah ada, gak usah peduli omongan orang, ngerti? Kalau lo gak jalan, gue ntar gak punya duit."


Perkataan awalnya memang cukup bagus. Tapi akhirnya sungguh brengsek. Rasanya Amira ingin menimpuk mulut Rania saat iti juga.


"Bukannya berterima kasih, malah ngusir. Dasar kebo lu!" Omelnya lalu bangkit dan pergi dari kamar Rania.


...----------------...


Tampang lemah lembut, cantik, anggun, ramah. Eh, di belakang malah liar cyiiin, hahahaha. Udah jadi pelakor mana open boking juga, dosanya numpuk tuh!


Caption kejulidan itu disertai foto Sesil dan seorang lelaki yang lumayan cukup berumur. Foto itu menampilkan mereka sedang berdua di hotel semakin membuat panas para netizen.


'*Cancel aja gak sih nih artis? Problematik abis.'


'Filmnya doang keren, woman support woman. Eh, dia malah semprot woman di real life'


'Sasimo, sasimo. Sana sini mau.'


'Kasian istri sahnya. Cewek sama cowoknya udah gila.'

__ADS_1


'CANTIKAN ISTRI SAHNYA WOI DARI PADA SI PELAKOR INI!'


'Pasti urat malunya udah putus sejak lahir.'


'Tips punya daddy sugar dong, Sil. wkwkwk*.'


Deretan komentar itu membuat Sesil terdiam di kursinya. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana soal beritanya ini. Mengapa semuanya malah terjadi seperti ini? Padahal dia sudah main dengan aman. Dia selalu memastikan tidak akan ada jejak digital yang bisa menyebar. Siapa yang menyebarkan hal ini?


"Udah gila lo! Kenapa bisa kaya gini, hah?!"


Managernya dari tadi memarahinya bahkan memakinya. Dia hanya bisa menunduk dengan diam, tidak tahu harus menjawab apa karna semua ini adalah fakta.


"Kan udah gue bilang. Jangan cari masalah! Jangan macem-macem! Lo gak pernah mau denger apa kata gue! Sekarang liat, hidup lo ancur."


Hidupnya hancur. Sesil mengerjapkan matanya. Apa ini akhir karirnya? Apa langkah yang harus dia ambil setelah ini?


"Lo bener-bener mau jadi gelandangan hah?! Abis ini pasti laki orang yang lo kejar itu juga kalau liat berita ini bakal kelar urusannya sama lo. Dia bakal buang lo!"


Gak mungkin. Pacarnya sudah berjanji akan selalu bersamanya, bahkan dia bilang akan menceraikan istrinya demi dirinya. Dia akan menepati janji itu kan?


"Gue rasa otak lo bener-bener udah ilang. Sekarang lo mau gimana hah?! Gak akan ada yang bisa nolong lo. Bahkan pihak agensi aja bakalan bingung buat nutupin ini karna terlalu banyak bukti! Lo gak pernah mikir panjang ya? Gimana perasaan keluarga lo di kampung sana??"


Managernya terus menyudutinya. Sesil memegangi kepalanya pusing. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Pasti orang tuanya akan sangat kecewa soal berita ini.


"Kak, lo bisa kan cari tahu soal siapa yang nyebarin ini?"


Managernya itu mengerutkan keningnya. "Lo udah gila beneran ya? Buat apa lo cari tahu soal yang nyebarin ini. Yang harusnya lo mikirin itu soal diri lo sendiri."


"Pihak agensi pasti bakal bantu cari alasan lain kan buat klarifikasi kalau semua itu bohongan."


"Lo berharap kaya gitu? Disaat gempuran bukti dimana-mana? Bahkan istri sahnya aja ikutan speak up. Mikir dong lo pake otak!"


Bentakan itu mendengung di telinga Sesil.


Sesil mengacak-acakan rambutnya pusing. Entah harus meminta tolong kepada siapa lagi dia saat ini. Hidupnya sedang diambang kehancuran.

__ADS_1


__ADS_2