The Singer

The Singer
020. Makan.


__ADS_3

Suara kicauan burung berlomba-lomba menjadi paling terdengar pada sang tuan, entah apa yang mereka kicau kan. Ingin dilepaskankah? Atau sedang bersorak gembira bernyanyi khas si burung dalam sangkarnya. Dengan langit cerah di Bogor adalah suatu hal yang sangat langka, ini patut diapresiasikan dan dimomentumkan. Biasalahnya Bogor selalu dilanda gerimis atau pun hujan besar, aura dingin selalu melingkupi sudut kota ini.


Teh chamomile menemani perempuan hampir setengah abad itu. Akhir-akhir ini dia sedang dalam kesulitan tidur, kepalanya selalu penuh memikirkan sesuatu duniawi yang sebenarnya tidak penting-penting amat untuk dipikirkan, termasuk soal anak-anaknya, padahal mereka sedang dalam keadaan baik-baik saja.


"Bu." Panggil seseorang di belakangnya.


"Ya? Kamu bawa informasi apa? Kemari, duduk di sebelah saya." Perintahnya dengan masih menatap para burung dalam sangkar.


Personal Asistennya itu melangkah, mendekat, lalu duduk di bangku kayu di sebelah bosnya.


"Apa kabar, Bu?" Sapanya berbasa-basi terlebih dahulu.


"Seperti yang kamu lihat. Baik." Katanya dengan senyuman hangat.


Sang Ibu Besar selalu mengatakan baik, walau pun sakitnya parah. Dia masih selalu berpura-pura baik dengan senyuman hangatnya, ingin membuat orang di sekitarnya mengerti kalau dia baik-baik saja dan membebaskannya kembali pada dunianya.


"Syukur kalau begitu. Saya bawa informasi yang sedang ramai dibicarakan di media soal anak Ibu."


"Alkan? Atau adiknya masih mencari gara-gara di luar sana?"


"Pak Alkan, Bu."


"Kenapa dia? Buat masalah? Tapi itu tidak mungkin. Atau rumor soal dia berkencan kembali?"


"Ya, bersama Sesil Prameswari. Kemarin dia mengunggah foto bersama Alkan lalu netizen membuat prasangka bahwa mereka memiliki hubungan yang disembunyikan." Jelasnya sambil membuka Tab untuk ditunjukan pada Ibu Besar.


Ibu Alkan hanya melirik itu sekilas lalu dia meminum kembali tehnya dan berdeham. "Dia yang ngebet pengen kenalan sama anak saya kan?"


"Ya, Bu. Dulu juga Ibu memperkenalkannya pada Alkan."


Ibunya Alkan mengangguk-anggukan kepalanya. "Saya punya firasat tidak enak sama perempuan itu. Lalu ada informasi lain?"


"Ada, Bu. Mungkin memang awak media membuat spekulasi bahwa mereka memiliki hubungan, namun kenyataanya, Alkan sedang mendekati wanita lain yaitu Amira Dewangsih."


"Yang penyanyi itu?"


"Ya, Bu."


"Hmm... Dia serius? Saya agak ragu terlebih dari latar belakang gadis itu."

__ADS_1


"Memangnya, latar belakangnya kenapa, Bu?"


"Saya gak bisa menjelaskan sesuatu yang bukan ranah saya. Mungkin, itu bisa jadi aib baginya." Katanya lalu kembali meminum tehnya, "Ning," Panggilnya pada Asistennya.


"Ya, Bu?"


"Tolong lepaskan burung yang warna biru itu, telinga saya mendengarnya dia minta dibebaskan."


Ningsih alias Asistennya berkerut, bingung. Bagaimana bisa bosnya mengerti suara hewan? Namun, tak selang lama dia langsung bangkit dan membebaskan burung itu dari sangkarnya, burung itu terbang langsung dengan bebas pergi, mengelilingi kebun teh.


"Besok saya ingin mengecek perusahaan, nanti sore antar saya untuk pulang ke rumah di jakarta." Tutur katanya memperlihatkan perintah namun terkesan sangat lembut, terlalu lembut karna selalu dengan gerakan anggun.


"Tapi, Bu. Kata Pak Alkan, Ibu dilarang berpergian dulu termasuk datang ke perusahaan, Ibu harus istirahat yang cukup."


"Saya sakit hanya kelelahan, bukan lumpuh. Dan, bos kamu itu Alkan atau saya?" Tanyanya membuat Asistennya itu langsung membeku saat itu juga.


"Maaf, Bu. Saya akan langsung menelpon Pak Eko untuk datang menjemput." Katanya dengan patuh.


...----------------...


Makanannya enak, nuansanya tidak. Lihat keadaanya sekarang, Amira bagai kacang di dalam kulit yang menyatu. Memperhatikan obrolan mereka. Eh, tidak deh, yang banyak bicara hanya pihak perempuan yang sedang mepet-mepet pada lelaki itu. Sedangkan si lelaki acuh tak acuh hanya membalas pertanyaan seadanya karna dia sedang memperhatikan ponselnya dengan fokus.


"Alkan, hari ini langsung pulang?" Tanya Sesil tak menyerah.


"Oh, bareng rombongan lagi?"


"Ya," Katanya.


Amira yang sedang memakan makanan dari Sesil itu mengernyit karna rasa makanan ini. Ini terlalu enak, serius orang ini yang memasak? Kalau iya, rasanya dia ingin meminta resep.


"Ini kamu yang masak asli?" Tanya Amira namun malah membuat Sesil kesal karna menurutnya itu seperti ledekan.


"Yaiyalah, emangnya kenapa kamu gak percaya?" Tabyanya dengan nyolot.


Kali ini tatapan Alkan menatap Amira.


"Ya, percaya. Aku cuman mau minta resepnya aja kok! Serius makanannya enak."


Sesil diam, kelimpungan mungkin. Bingung mau menjawab apa karna yang jelas sudah pasti bukan dia yang memasak. Orang dia beli makanan itu.

__ADS_1


"Euh... Lupa." Alibinya.


"Yah... Sayang banget." Amira menampilkan wajah dengan muram, "Kamu gak makan Pak Alkan? Ini enak loh serius."


"Kamu yang suapin?"


Detik itu juga rasanya dia ingin menusuk saja matanya Alkan dengan sumpit yang sedang dia pegang itu, apalagi raut muka Sesil langsung semakin kesal namun dia datarkan langsung dan merubah dengan senyuman.


"Mau aku suapin?" Tawarnya.


"Gak usah," Tolak Alkan dengan secara cepat.


"Padahal enak loh, kata Amira aja enak. Kamu cobain dong dikit."


Amira masih menatap perseteruan mereka, saling memaksa keinginan sendiri. Saling bertolak belakang.


Alkan mengambil sumpit yang Amira pegang, lalu dia mencicipi makanan itu sedikit. "Iya, enak. Udah ya, kamu jangan maksa saya terus."


Amira berdecak pelan, kenapa sih dia berada di tengah-tengah orang gak jelas? Rasanya ingin kabur saja keluar. Tapi di luar masih penuh dengan para manusia yang menghadiri acara ini.


"Yang punya aku, Kan." Katanya masih teguh dengan keinginannya.


"Apa bedanya? Makanan kalian kan sama. Amira makan makanan dari kamu juga."


Benar kata Alkan, tapi Amira tahu kalau Sesil hanya menginginkan atensi Alkan saja.


"Beda loh rasanya, makanya cobain dulu."


"Ami, cobain coba."


"Kok jadi saya?" Amira malah ikut nyolot karna dibawa-bawa terus.


"Ya, saya maunya kamu." Kalimat itu keluar dengan enteng dari mulut lelaki ini.


Bukannya tidak mengikuti perintah Alkan, tangannya dengan refleks malah mengambil makanan dari tempat makan Sesil lalu memakannya dengan kunyahan cepat.


"Tuh! Udah. Rasanya sama aja."


Alkan malah terkekeuh melihat itu, lalu menepuk-nepuk kepala Ami seakan Ami adalah anjing pintar yang menuruti tuannya. Namun, tak berselang lama langsung Ami tepis tangan itu dari kepalanya. Enak saja, main pegang-pegang.

__ADS_1


"Saya pergi dulu ya, ada urusan. Makasih makanannya Sesil, perut Amira jadi keisi sekarang." Katanya lalu bangkit meninggalkan mereka berdua.


Sesil berdecak pelan kesal, malah ikutan pergi keluar entah mau kemana yang jelas sih bukan urusan Amira juga. Jadi dia bersikap bodoamat, yang penting dua orang yang dari tadi menganggu kenyamananya akhirnya pergi juga. Akhirnya juga Amira bisa bernafas dengan lega dan nyama tanpa gangguan mereka.


__ADS_2