The Singer

The Singer
041. Cancel Culture.


__ADS_3

Sesil bagai terpenjara, dia tidak bisa keluar. Agensinya memarahinya habis-habisan lalu mengurungnya di dalam apartemennya. Melarangnya untuk berkeliaran dahulu. Siapa yang tidak stress ketika menghadapi situasi seperti ini? Jelas Sesil teramat stress. Bahkan dia sampai menerima terror ke dalam apartemennya.


Hembusan nafas dan suara gersahan yang kelewat lelah dan marah pada dirinya sendiri atau dunia. Ketika dalam keadaan rapuh manusia akan menganggapnya bahwa dunia tidak adil.


"Sil!" Panggil manajernya memasuki kamar yang berantakan.


Baju, tas, sepatu, bahkan dalaman saja berserakan. Entah apa yang sudah gadis itu perbuat, mungkin mengamuk melampiaskan emosinya.


Gadis yang sedang duduk di depan jendela mendengar tanpa menoleh ke belakang, melihat kehadiran manajernya.


"Lo udah makan? Gue tadi bawa makanan. Ada di luar kalo lo mau makan." Katanya sambil mengambil baju yang berserakan di bawah itu. Sudah biasa, dia terbiasa membereskan kekacauan yang dilakukan oleh aktris itu.


"Gue gak laper." Katanya dengan singkat lalu menelungkapkan wajahnya yang kusut.


"Tapi perut lo harus diisi. Pasti lo gak makan dari pagi, kan?" Tebak manajernya sambil menaruh baju-baju itu ke dalam cucian kotor karna berisi penuh dengan noda lipstick.


"Dibilang gue gak laper."


Manajernya menghembuskan nafasnya, terkadang dia lelah, ingin mengakhiri pekerjaanya yang menguji mentalnya ini. Namun, terkadang juga dia tidak tega kalau harus meninggalkan Sesil. Begitu-begitu, sebenarnya gadis itu hanya manusia kesepian yang harus diarahkan walau sangat susah untuk mengarahkannya.


"Gue mau ngomong sesuatu walau ini bikin lo tambah down, tapi lo harus tau soal ini." Ujarnya dengan penuh kehati-hatian.


"Kenapa?"


"Ada beberapa projek yang ngecancel lo. Iklan Mari Roti, model majalah, dan juga yang lo tunggu-tunggu soal projek film sama Nicholas Saputra."


Sesil sudah tahu akan terjadi mengenai ini. Dia sudah menyiapkan mentalnya tentang ini. Namun, tetap saja rasanya dia ingin membenturkan kepalanya saat ini juga.


"Siapa penggantinya?"


"Gak penting soal siapa yang ngegantiin lo."


"Siapa?" Tanyanya ulang.


"Jiani Wu. Gue dikasih tahu tadi sama Tim dari sana." Jawabnya dengan pelan takut tambah melukai Sesil. "Udah gak usah dipikirin, emang bukan rezeki lo aja."


Sesil tertawa miris pada hidupnya. Biasanya ketika mendengar nama Jiani Wu, kebenciannya akan bertambah. Namun, kali ini dia terlalu lelah untuk membenci seseorang. Sekarang dia lebih membenci dirimya sendiri atau hidupnya yang mulai hancur ini.


"Lo butuh ditemenin gak?" Manajernya kembali membuka suara karna kunjung tidak mendengar jawaban dari Sesil.


"Nggak. Lo kalau mau pulang, pulang aja."

__ADS_1


"Yaudah. Gue balik, ya? Lo jangan ngelakuin macem-macem. Jaga diri. Kalo ada apa-apa langsung telpon gue." Pesannya ketika sudah beres membereskan kamar gadis yang si empunya saja berantakan.


"Ya, thanks."


Lalu hening kembali kamarnya. Sesil mengambil ponselnya yang dari tadi dia matikan. Dia ingin mengetahui kabar pacarnya, apakah dia bisa menemaninya malam ini?


Saat ponsel itu menyala, hal yang Sesil buka dengan cepat adalah ruang pesan pacar-nya. Disana terpampang jelas beberapa telepon yang tak terangkat olehnya, bahkan ada sederet beberapa pesan untuknya.


Degupan jantungnya mulai terasa kencang. Bahkan tangannya gemetar ketika membaca setiap bait dari kata-kata itu.


'*Kita harus ngeakhirin semua ini."


'Hubungan kita itu sebuah kesalahan. Aku nyesel, maaf, aku lebih sayang istri sama anak aku.'


'Aku sayang kamu. Tapi aku lebih baik mempertahankan keluarga aku yang udah nemenin aku dari lama.'


'Semoga kamu baik-baik aja, ya. Semoga kamu dapat lelaki yang lebih baik dari aku*.'


Lalu pertanda kontaknya diblok terlihat jelas. Sesil mengigit bibirnya dengan kesal.


Lelaki brengsek!


Semua janji yang pernah mereka bangun seketika hancur begitu saja. Semuanya hancur melebur.


Amira sudah pernah bilang belum? Kalau tatapan dan senyuman Alkan itu tengil dan benar-benar memancarkan aura buayanya. Terkadang Amira suka kesal melihatnya, walau lelaki itu tampan dan rupawan, tetap saja tengilnya membuat tangannya ingin menonjok wajah tampan lelaki itu.


Disana, dia duduk di meja yang lumayan besae sendiri. Sepertinya dia benar-benar habis meeting karna ada beberapa piring dan minuman bekas disana. Bahkan ada kartu nama punya orang lain yang tersimpan di meja atau sepertinya tertinggal.


"Hi, sayang." Sapanya ketika Amira baru saja menduduki kursi di depannya.


Amira menatap kartu nama itu tanpa membaca nama pemilik kartu itu. "Hi, punya siapa ini?"


"Punya klien tadi ketinggalan. Katanya bakal balik lagi buar ngambil nanti. Dia lagi beli sesuatu dulu buat Ibunya. Kamu mau makan?"


"Hmm... Aku laper."


Karna Alkan sekarang berbicara aku-kamu. Amira jadi terbawa suasana menggunakan itu juga secata tidak sadar. Namun, ketika sadar dia akan langsung mengoreksi menjadi saya-kamu.


"Mau pesen apa?"


"Mau nasi goreng."

__ADS_1


Alkan mengangguk lalu memanggil pelayan untuk memesankan pesanan Amira dan segelas air putih karna Amira merasa lebih butuh itu dari pada minuman.


"Mbak kamu kemana?"


"Masih belanja. Katanya nanti nyusul kesini atau langsung pulang aja. Kalau Mbak aku langsung pulang, kamu ada tanggung jawab buat nganterin aku." Jelas Amira sambil membuka maskernya.


Alkan terkekeuh pelan sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Dengan senang hati bakal aku anterin sampai pintu kamar."


"Gak usah modus." Ujarnya dengan jutek. "By the way, Kamu gak makan?" Walau jutek-jutek, ternyata Amira cukup perhatian.


"Nggak laper. Liatin orang makan bikin aku kenyang."


Entah teori dari mana itu. Padahal Alkan seorang dokter, namun terkadang gaya hidupnya seperti tidak mencerminkan seorang dokter.


"Aneh. Kamu kayanya gak cocok jadi dokter."


"Aku emang cuman iseng ambil kedokteran karna Ayah punya rumah sakit."


Amira jadi tertawa dalam hatinya. Mana ada orang iseng masuk kedokteran dengan nilai hampir sempurna? Sepertinya hanya orang gila yang hanya iseng masuk kedokteran, dan orang gila itu adalah Alkan.


"Beneran gila." Celetuk Amira.


Makananya datang dengan cepat. Beruntungnya karna dia sekarang sedang dalam keadaan lapar setengah mati. Untungnya pelayanan di restoran ini cepat.


"Mau?" Tawarnya pada Alkan sebelum dia memulai menyuapkan makanannya itu.


Alkan menggeleng, "Kamu aja. Makan yang banyak, ya? Biar cepet bisa aku nikahin."


Omongan tidak jelasnya itu tidak Amira tanggapi. Lelaki itu malah terkekeuh, sedangkan Amira memilih fokus pada makanannya dari pada menanggapi omong kosong lelaki itu.


Langkah seseorang mendekati mereka. Amira bisa merasakan itu karna berada di belakangnya.


"Kan! Hey, sorry ganggu. Mau ngambil name tag gue. Sorry, ya. Gue lagi agak teledor." Katanya sapa pada Alkan.


Tangannya meraih name tag itu yang berada di samping Amira.


"Gapapa. Santai aja, faktor umur tuh jadinya teledor."


"Sialan. Lo sama gue, tuaan lo kali." Ucapnya dengan gelakan tawa. "Eh, siapa nih? Maaf, ya ganggu."


Karna merasa lelaki itu berbicara padanya, Amira mendongak untuk melihat lelaki itu. Seseorang yang sedang memakai jas hitam khas orang kantoran dan wajah yang cukup familiar.

__ADS_1


"Amira?!" Ucapnya layaknya tidak percaya bahkan mereka akan bertemu kembali di tempat ini.


__ADS_2