
Flashback on
Sore-sore ketika masanya para anak sekolah pulang itu, bukan langsung pulang. Melainkan jajan dulu, jalan-jalan, eskul, les, atau pacaran. Sama seperti sekarang Amira dan Rega sedang menunggu pesanan cilok kuah mereka.
Amira duduk di samping Rega sambil memperhatikan si mamang cilok membuat bumbu sedangkan Rega dari tadi memperhatikan Amira dari sampingnya.
"Siapa ya, yang pertama kali pencetus bikin cilok? Hebat banget soalnya sampe pacar aku suka banget." Celetuk Rega disela-sela mereka sedang memperhatikan si Mamang.
"Emang kalau kamu tau mau apa?" Amira mengalihkan tatapannya, kali ini pada Rega disampingnya. Sedikit kaget karna mendapati Rega berada di dekatnya dan sedang memperhatikannya.
"Mau ngucapin makasih. Karna cilok doang pacar aku jadinya bahagia banget." Ujarnya dengan kekeuhan geli.
Amira memukul pelan bahu Rega karna ucapan tidak jelasnya lalu tertawa karna merasa lucu.
"Kamu kalo dikasih pilihan. Milih cilok atau aku?"
Amira melototkan matanya karna mendengar pertanyaan random dari pacarnya.
"Apa sih? Aneh banget."
"Serius. Coba jawab. Kamu bakal lebih sedih mana, ditinggalin cilok atau aku?" Pertanyaanya bak pertanyaan terpenting sedunia ditambah ekspresinya yang serius.
"Hmmm..." Amira berpura-pura sedang berpikir sambil memainkan jarinya di dagu seperti sedang berpikir keras.
Si Mamang yang memperhatikan mereka rasanya ingin berkomentar. Namun, dia tahan karna namanya juga anak kecil yang sedang dilanda pubertas. Walau si Mamang rasanya ingin menyiram kuah ciloknya itu pada Rega.
"Milih mana ayok cepet." Desaknya karna Amira belum menjawab.
"Milih cilok."
Lihat ekspresi wajah Rega. Dia menampilkan ekspresinya paling sedih seperti sedang memasak mie namun bumbunya tidak ada di dalam bungkusnya.
"Kamu emang gak sayang aku, ya? Serius aku rasanya jadi selingkuhan kamu. Kamu pacaran aja sama cilok sana."
Sebuah sendok jatoh ketika si Mamang mendengar kalimat paling menjijikan sedunia sepertinya. Membuat Amira tertawa keras karna bisa peka pada si Mamang yang merasa geli pada ucapan Rega.
"Udah, Neng. Paling bener pacaran sama cilok aja. Tinggalin cowok kaya gitu. Masa gitu doang merasa tersaingi, gimana kalau dapet saingan yang lebih ganteng sama kaya, coba?" Kata si Mamang sambil menyerahkan dua mangkok berisi cilok kuah dan beraneka macam campurannya.
Tawa Amira semakin meledak, rasanya dia tidak mempunyai beban yang berat selama dia masih bisa berjalan-jalan bersama Rega dan memakan cilok Mang Tarno.
"Si Mamang, syirik aja. Kaya gak pernah ngerasain pacaran. Besok-besok gak akan saya beli nih." Sindir Rega balik karna dia tadi merasa tersindir.
__ADS_1
"Ampun, ampun ganteng. Sok mangga, gera dimakan we sekarang mah, ya. Mamang balik dulu ngeladenin yang lain, ya."
"Jangan ngambek dong nanti tambah jelek."
"Kalau pun aku jelek, kamu mau gak sama aku?" Tanyanya kembali dengan pertanyaan aneh.
"Nggak."
"Berarti sekarang aku ganteng?"
"Dih? Percaya diri banget."
"Gantenglah makanya kamu sekarang mau sama aku, right?"
Amira tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya geleng-geleng lalu mulai mengaduk makanannya dan menyuapkan cilok itu ke dalam mulutnya.
"Tuhkan, gak jawab. Kamu emang lebih cinta sama cilok dari pada aku."
Mata Amira mendelik pada Rega dengan mulut penuh cilok. Rega yang asalnya kesal menjadi tertawa karna melihat kelucuan pacarnya yang pipinya tiba-tiba tembem.
"Ami,"
"Hmm?"
"Jangan tinggalin aku, ya? Apa pun keadaannya nanti. Sama aku terus." Perkataanya dengan penuh nada tulus, membuat Amira menjeda sendoknya yang sedang dia angkat.
...----------------...
"Bulshit." Ucap spontan Amira ketika melihat seseorang di depannya.
Seseorang yang pernah menjadi alasannya bahagia, seseorang yang pernah dia banggakan pada Ibunya, seseorang yang pernah dia teramat sayangi sampai dia lupa bahwa rasanya sedih itu bagaimana. Dulu Amira mengira dunianya akan baik-baik saja kalau tetap bersama Rega. Namun, ternyata dia malah menjadi salah satu penyebab kehancuran hidupnya.
"Hah? Kalian kenal?" Alkan menatap kedua orang di depannya itu dengan bingung.
Rega berdeham pelan, terlihat jelas di wajahnya dia terkejut dan kecewa terhadap respon Amira. Karna kelihatannya Amira sangat tidak menyukai pertemuan mereka saat ini.
"Iya, Amira, euh.." Rega yang akan menjawab itu melirik Amira sekilas, ia takut salah menjawab. Haruskah dia jujur kalau mereka pernah menjalin hubungan ketika dulu atau hanya menjawab sebagai teman sekolah semasa dulu?
"Dia temen aku dulu pas SMA." Amira yang duluan menjawab.
Alkan mengangguk, "Oh, akrab banget dong?"
__ADS_1
"Gak. Cuman kenal aja."
Kalimat itu membuat Rega terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafasnya karna rasa penyesalan itu kembali menyeruak ke dalam dirinya.
Harusnya dia tidak merasa marah pada Amira karna gadis itu mengacuhkannya, karna semua ini salahnya. Ya, salahnya dia memanfaatkan Amira semasa dulu karna tugas dari Ayahnya.
Rasa penyesalan itu masih tersimpan dengan baik dalam dirinya, entah harus berapa kali dia meminta maaf pada Amira agar gadis itu memaafkannya sampai akhirnya Rega memutuskan untuk pindah. Menjauh dari kehidupannya, Rega kira itu adalah jalan satu-satunya.
"Iya, temen SMA." Rega ikutan berbicara begitu.
"Keren. Reuni dong, ya?" Canda Alkan walau dia peka seperti ada hubungan lain diantara kedua orang di depannya ini. Alkan merasa penasaran, namun harus dia simpan baik-baik dulu.
"Iya, apakabar Ami?" Tanya Rega tiba-tiba. Dia masih berdiri tanpa berminat duduk.
"Baik." Jawabnya tanpa berniat bertanya kembali.
Rega mengangguk-ngangguk, "Leo umur berapa sekarang? Dia baik?"
"Baik." Jawabannya bagai tak berminat menjawab.
"Aku turut berduka soal kabar keluarga kamu. Maaf, waktu itu aku gak bisa datang." Katanya dengan serius karna dia benar-benar merasa bersalah. Dia terlalu takut untuk menemui Amira, dia terlalu takut melihat kehancuran gadis itu yang membuatnya ikut sakit.
"Gapapa. Santai aja. Udah lama ini." Jawabnya tanpa melihat Rega. Amira tetap fokus pada makanannya.
"Kalau gitu. Gue balik duluan, ya? Ami, aku balik duluan, ya? Ada urusan lain."
"Yo! Hati-hati di jalan bro."
Rega mengangguk lalu pergi dari sana. Meninggalkan Amira dan Alkan berdua kembali.
Amira menghembuskan nafasnya, dia tetap fokus pada makanannya. Sedangkan Alkan memperhatikan Amira dengan penuh penasaran.
"Apa?" Tanya Amira karna risih diperhatikan terus.
"Gapapa. Serius temenan doang?"
Amira tidak menjawab soal itu. Apakah dia ada hak harus menceritakan perihal itu pada Alkan? Apakah harus dia mulai membuka diri padanya?
"Kenapa?"
"Gapapa." Jawabnya tanpa lebih jelas lagi.
__ADS_1
Entah mengapa rasanya dia harus menceritakan semuanya pada manusia yang ada di depannya ini. Rasanya dia merasa tidak enak kalau menyembunyikan sesuatu.