The Singer

The Singer
Kangen brutal.


__ADS_3

Jia memasuki kamar bermonoton dengan sedikit hiasan bergambar marvel dan koleksian mobil-mobilan.


Jia terbiasa langsung menyelonong masuk ke kamar seseorang tanpa mengetuk pintu terkadang membuat sang empunya kamar selalu ngomel panjang kali lebar. Tapi kali ini berbeda, ada yang aneh pada adiknya. Dia bahkan tidak melirik Jia sedikit pun, lelaki itu dia tiduran tengkurap tapi matanya menatap jendela besar di sebelahnya.


"Kai, i minjem hoodie, ya." Panggil Jia di dalam wardrobe tempat Kai menyimpan segala pakaian dan sepatunya.


"Ya..."


Kening Jia mengernyit, tumben-tumbenan. Biasanya lelaki itu akan mengomel seperti ini; "Ce, you kaya orang susah aja dah, hoodie minjem gue mulu. Beli kek sendiri!"


Tapi kali ini? Kali ini dengan datar lelaki ini mengizinkannya membuat Jia merinding sekaligus keheranan sendiri. Lelaki ini tidak kesurupan kan?


"Eh, you tadi jadi ke konser?"


Adiknya itu idola berat Amira Dewangsih, jelas tidak heran kalau dia akan selalu mengikuti konser Amira. Sayangnya, Jia tidak berbicara soal Amira dan Alkan karna sebenarnya dia kelupaan aja.


"Ya..."


Jia semakin kebingungan lalu keluar dari ruangan wardrobe untuk menghampiri Kai yang sedang tiduran sambil tidak berdaya.


Kaki Jia menginjak kasur Kai dengan alas sendalnya, lelaki ini biasanya mengomel karna cinta kebersihan kalau Jia iseng menginjak kasur pakai sendalnya tapi kali ini dia seperti tidak peduli. TIDAK PEDULI!


Biasanya kalau habis pulang dari konser Amira, lelaki ini selalu sumringah, bahagia seperti ketika membuka celengannya yang sudah disimpan seabad lamanya.


"You sakit, Kai?" Jia memegang jidat Kai, untuk memeriksa suhu tubuh adiknya.


Tapi keningnya biasa saja, suhu tubuhnya normal. Yang tidak normal adalah kelakuannya sehabis menonton konser.


"Apa sih, Ce? I gak sakit." Katanya sambil menepis lengan Jia.


Jia mendudukan diri di sebelah Kai, "Serius you kenapa dah? Kaya orang linglung aja."


"I galau."


"What? You? Galau? Apaan sih? Biasanya juga bikin anak gadis orang ngegalau."


"CEEEEE AH! SANA DEH."


Jia terkekeuh dengan rengekan adiknya yang masih saja tampan rupawan itu. Memang kenyataannya, Kai selalu membuat anak gadis orang menjadi galau merana karna kelakuan buayanya. Walau tampan Kai seperti baby boy justru ini orang buaya. Berbanding balik dengan Alkan yang mempunyai tampang seperti buaya tapi ternyata dia lelaki baik-baik.


"Galau kenapa sih adik Cece?" Jia mulai tiduran di samping Kai. Sendalnya sudah dilepakan, dia mulai memeluk Kai dan dibalas oleh Kai.


Jia mengelus-eluskan tangannya pada kepala Kai yang sedang menyandarkan kepalanya di dada Jia.

__ADS_1


"Ce, i tadi ditolak?"


"Hah?"


Bukan soal pendengaran Jia yang tiba-tiba jadi budeg, tapi dia semakin keheranan saja kalau Kai ditolak oleh seorang perempuan. Biasanya perempuanlah yang mengejar-ngejar dia.


"I ditolak Ce." Ulangnya.


"Sama siapa? Siapa yang berani nolak adik Cece yang paling ganteng ini?!"


"Amira."


"What? Who's Amira? Idola kamu itu?"


Kai menganggukan kepalanya dan Jia berkedip-kedipkan matanya. Jia kira lelaki ini hanya menyukai Amira sebagai fans dan idola saja. Tapi ternyata Kai mempunya perasaan lebih? Ini gila.


"Dia mau nikah, Ce." Ucapnya dengan suara pelan membuat hati Jia terasa teriris karna belum pernah mendengar rasa sedih dari Kai selain ketika Mamih mereka meninggal.


"Oh... Cece udah tau dia mau nikah sama siapa."


"Siapa?" Tanyanya sambil mendongakan kepala.


"Alkan."


"Alkan. Mantan Cece?"


Jia mengangguk dengan pelan sedikit takut.


"CE KENAPA GAK BILANG SAMA KAI?!"


"Ya, Cece mana tau kamu suka Amira lebih dari seorang idola doang?"


Tamatlah sudah kisah tragis percintaan adiknya yang ternyata ditikung oleh mantan Cecenya sendiri.


...----------------...


Amira baru saja menginjakan kakinya di hotel, dia sungguh kelelahan ingin segera tidur di kasurnya. Berjalan gontay sendiri karna Mbaknya katanya mau ke tempat lain dulu jadi dia diturunkan sendiri disini. Sedangkan Leo dan Rania sudah di kamar, mungkin sudah lelap dengan tidurnya.


Kaki Amira melangkahkan kakinya sudah berada di lantai tempat kamarnya, dia menuju kamar no 34.


Dering telponnya mendering membuat Amira menghelakan nafasnya, entah kenapa mendengar deringan telpon saja membuatnya lelah. Dia langsung merogoh slingbagnya untuk mengambil ponselnya.


"Hallo?"

__ADS_1


"Hi! Lagi dimana?" Tanya Alkan dengan suara langkah kaki yang entah sedang dimana lelaki itu.


"Aku baru nyampe di hotel. Kenapa? Kamu lagi dimana? Udah balik dari rumah sakit?"


"Oh? Udah makan?" Tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Amira.


"Belum." Jawab Amira masih dengan langkahannya menuju kamar.


"Aku bawa makan."


"Percuma juga kamu bawa makan. Aku gak akan bisa makan karna kita jauh." Ujar Amira sambil memiringkan tubuhnya untuk membuka pintu kamarnya.


"Gitu, ya? Padahal aku di depan kamu."


Amira langsung menolehkan kepalanya ke arah kanan, dan disana ada Alkan menjulang tinggi dengan membawa kresek makanan lalu dia angkat setinggi kepalanya dan dia goyang-goyangkan lucu membuat Amira tertawa. Bahkan rasa capeknya tiba-tiba menghilang.


Begini ya, rasanya kembali jatuh cinta. Rasa lelahnya diganti dengan rasa senyuman hangat ingin memeluk lelaki itu dengan cepat.


Alkan berjalan mendekat pada Amira dengan senyuman manisnya, "Hi!" sapanya lagi.


Amir langsung memeluk erat Alkan sampai badan Alkan mundur sedikit dan kereseknya itu tergoyangkan. "Hey, hey, ahahaha. Tumben banget peluk-peluk?" tanyanya sambil membalas pelukannya dengan tangan sebelahnya yang memegang ponselnya. "Kangen, hm?"


Wajah Amira ditenggelamkan di dada Alkan itu mengangguk membuat Alkan semakin terkekeuh dengan cepat. "Yaudah ayok kita masuk dulu. Takut ada yang liat, gak enak." Ajaknya.


Tapi sayangnya Amira tidak mengindahkan ajakan Alkan, ia malah tetap memeluk Alkan dengan erat tanpa merasa terganggu.


"Astaga..." Alkan semakin terkekeuh karna Amira mengeratkan pelukannya, membuat dia mau tak mau berjalan sambil memeluk Amira. Jadi posisinya Amira berjalan mundur sambil memeluk Alkan dan Alkan maju untuk membuka pintu kamar.


"Kamu baru pulang jam segini?" Tanya Alkan sambil menutup pintu kamar.


"Hmmm..." dehamnya ketika sudah melepaskan pelukan tapi malah memeluk lengan Alkan, "kamu kok gak ngabarin mau kesini? Sejak kapan? Ngapain kesini?"


Alkan menaruh bawaanya di meja lalu dia duduk di sofa dan Amira mengikuti duduk disofa juga. "Kangen kamu lah. Kenapa lagi coba?"


"Padahal bisa telpon atau video call. Biasanya juga gitu."


"Iya, tapi kalo telpon gak bisa kaya gini. Mana sini peluk lagi."


Amira mendengus geli namun tetap memeluk Alkan dengan erat. Karna dia pun sama rindunya.


"Makin cantik aja kamu."


"Aku belum mandi."

__ADS_1


Alkan terkekeuh kembali, "gapapa..." lalu diselingi oleh kecualpan pada pucuk kepala Amira membuat jantung Amira semakin berdebar-debar.


__ADS_2