The Singer

The Singer
017. Gosip yang beredar.


__ADS_3

Lihat apa yang mengejutkan, pantas saja sedari tadi seorang Sesil itu diam saja, menjadi wanita anteng bak gadis lemah lembut tak berdaya dan acuh. Ternyata dia mempunyai rencana berselubung, rencana yang menggemparkan seluruh dunia maya bahkan sampai ke ibu-ibu yang akan bergosip nanti di tukang sayur, mungkin.


Amira tidak peduli namun Mbaknya dan Rania merecokinya untuk melihat postingan di salah satu media sosial dari seorang Sesil itu. Gadis itu mempostingan fotonya bersama tim tadi namun di slide sebelahnya hanya terdapat foto dua orang, yaitu; Alkan dan Sesil. Hal itu membuat gempar pergosipan, gosip bahwa mereka mempunyai hubungan spesial, gosip mereka selama ini dekat dan menyembunyikan hubungan mereka dari awak media.


Dulu Amira sangat dilarang keras membuka media sosial, semua media sosialnya dipegang oleh Rania. Ami hanya boleh menjadi manusia udik yang bermain ponsel hanya untuk mengirim pesan dan mendengarkan lagi atau bermain game, selebihnya membuka media sosial jelas tidak boleh. Ini semua demi keberlangsungan kefokusan Ami dalam bekerja, Mbaknya tidak mau dia terpengaruhi komentar dari netizen membuatnya tak fokus. Tapi sekarang, mereka malah terang-terangan menyebarkan gosip dari media sosial yang recehan itu. Sungguh sangat labil.


Ini jelas bukan urusannya, tidak peduli mau dia bersama siapa pun jelas Ami tidak ingin mengurus orang-orang itu selagi Ami masih lancar jaya makan dengan keadaan sehat dan lidahnya berfungsi merasakan rasa makanan. Namun, berbeda dengan Manager dan Asistennya itu, mereka yang menjadi ricuh mengisi ruangan kamar hotel ini dengan obrolan penuh kejulidan mereka yang biasa dipakai untuk bergosip. Ami rasanya ingin berisghfar saat itu juga, namun mengingat bahwa dia non muslim jadi berdiam diri saja.


Mbaknya dan Rania masih menatap postingan itu yang diposting oleh akun instagram Lambe Turah, isi postingan itu begini; "Amboiii! Yang satu cantik, yang satunya lagi ganteng, neeeek! Cocok banget sih ini, ada hubungan apa ya antara mereka? 🤭👀", Mbaknya dengan lantang membacakan postingan itu bahkan emoji yang ditambahkan si Admin, oleh Mbaknya di-peragakan saat itu juga.


Kedua wanita itu berseru nan juga merecoki Amira, "Mi, ini gak bisa dibiarin. Masa nih orang malah bikin skandal gitu aja? Padahal Alkan ngedeketinnya ke lo." Rania dengan bersungut-sungut.


Amira jadi heran, bukannya gadis itu tadi memintanya untuk memberikan lelaki itu padanya, ya? Kok sekarang dia jadi ikutan kesal ketika ada skandal laki-laki itu bersama wanita lain.


"Kan udah Mbak bilang, kamu udah harusnya bisa ikut arus Alkan. Jadinya sekarang direbut deh, cowok mana tahan sih ngejar cewek yang terlalu jual mahal apalagi di depan matanya sambil disodorin bentukan berlian busuk kaya Sesil begitu. Lama-lama lunturlah!" Ceramah Mbaknya panjang lebar.


Sedangkan di kasur sana, Ami sibuk menepuk-nepuk Leo yang sudah tertidur dalam pelukannya. Bocah kecil itu punya kebiasaan tidur sambil dikelon oleh Ami yang bahkan bukan ibunya, ibunya malah sibuk mengurusi gosip recehan.


Lagian Ami bukan jual mahal, dia memang tidak ingin terjebak dalam lubang buaya yang laki-laki itu buat. "Yaudahlah terserah dia mau sama siapa juga. Aku gak peduli. Aku gak suka sama dia," Ami berujar pelan takut membangunkan Leo padahal dua wanita di depannya yang sedang duduk di sofa itu berisik sekali.


"Ami dengerin Mbak, ya. Jaman sekarang kamu itu gak perlu ngomongin soal perasaan-perasaan lenyeh kamu itu. Yang penting adalah uang dia. Kamu secara gak langsung lagi dikejar-kejar sama uang, tau gak?"


Sungguh, Ami tidak peduli. Dia bisa mencari uang sendiri mau Alkan bisa menghasilkan yang semiliar selama satu hari pun.


"Iya, lo tuh jangan munafik deh jadi orang. Kalau gak mau buat gue aja."

__ADS_1


"Yaudah ambil aja." Ucap Acuh Ami.


"Ya, gue maunya gitu. Masalahnya kagak bisa! Ck, lo gak tau diuntung banget jadi orang."


Bisa tidak Ami menyumpali mulut kedua wanita tu dengan apapun yang bisa membuat mereka diam di malam yang sungguh teramat dingin ini. Dia sangat ingin tidur dengan tenang.


Suara denting notifkasi dari ponsel membuat mereka salah fomus langsung. Menatap ponsel yang tergeletak di nakas dekat lampu tidur.


"Itu pasti Alkan. Buruan buka!" Tebak Mbaknya karna sudah pasti tahu kalau Ami tidak mempunyai teman yang bisa diajak saling mengirim pesan.


Padahal belum dilihat ponselnya sudah menebak, bagaimana kalau itu yang mengirimnya pesan adalah operatos sim cardnya? Bukan Alkan.


Amira mengambil ponsel itu, ternyata memang tertera nama Alkan paling atas. Dia mengirimkan beberapa pesan yang sebenarnya Amira malas untuk membuka.


"Gimana, Mi?" Desak Rania menghampiri gadis itu, menaiki kasur untuk mengintip ponsel Ami.


"Males ah, aku ngantuk. Kamu aja sendiri sana," Kata Ami ingin menyimpan kembali ponselnya namun langsung ditahan oleh Rania.


"Elah, kalau sama gue doang. Dia mana mau? Kalau lo emang gak mau, bantuin gue kalau gitu. Deketin dia sama gue, gimana?" Tawar menawarnya.


"Rania! Apa-apaan sih kamu?" Tegur Mbaknya yang sedang menonton mereka di ujung sana.


"Kenapa sih, Mbak? Si Aminya juga kan gak mau. Yaudah sama aku aja, gapapa kan?" Katanya membuat Mbaknya geleng-geleng, pusing.


"Ayok, Mi! Buruan bangun, siap-siap. Atau, lu gak usah siap-siap deh, dandan gembel aja biar gue yang jadi cantik sendirian."

__ADS_1


Mendengar itu membuat Ami mendelik langsung, kesal. Lihat betapa centilnya gadis yang sedang berada disampingnya itu.


Suara denting notifkasi kembali memasuki ponsel Ami, Rania kembali mengintip ingin melihat apa yang dikirimkan pria itu, "Buruan itu bales dulu. Dia nanyain mau gak, tuh."


"Dibilang, aku males. Kamu aja sendiri sana. Ntar aku chat dia deh iyain ajakannya tapi kamu yang kesana sendiri." Katanya memunculkan ide yang tidak terlelalu baik.


Rania terdiam dahulu, memikirkan sesuatu. "Nanti kalau dia kabur gimana?"


"Ya itu sih bukan urusan aku. Udahlah sana kaian, aku mau tidur. Balik ke kamar kalian." Ami mulai mengusir kedua wanita itu.


"Heh, Ami! Serius dong lo! Ayok buruan kita cari makan."


"Aku gak laper." Katanya masih teguh pada penolakannya.


"Lo gak usah makan. Ngelamun aja disana, yang penting ikut makan sama Alkan terus gue ikut gitu." Dan Rania masih berusaha membujuknya dengan jurus merayunya yang tidak bisa disebut merayu.


Ami menghelakan nafasnya, "Nanti Leo gimana?"


"Gak gimana-gimana? Kan ada emaknya disini."


Oh, iya juga. Tapi emaknya itu terlihat peduli dan tidak peduli pada anak bocah kecilnya itu.


Dengan hembusan pasrah Ami akhirnya dia bangkit untuk mencari hoodienya menutup tubuhnya yang sudah dibalut baju tidur itu. Rania tersenyum dengan cetak kemenangan.


"Ini gue bales iyain ya?" Pintanya.

__ADS_1


"Ya, ayok!" Ajak Ami sudah berjalan ingin keluar pintu.


Rania tersenyum sumringah lalu ikut bangkit dan menyusul Amira yang sudah meninggalkannya.


__ADS_2