The Singer

The Singer
38. Konsekuensi.


__ADS_3

Ruangan studionya itu hanya terisi suara musik yang sedang Zayyan mainkan. Amira sedang melakukan latihan, rutinitasnya kembali. Dia sedang mempersiapkan album barunya. Rutinitasnya memang kembali, namun kali ini berbeda, orang-orang masih menggunjinginya. Bahkan Amira bisa melihat tatapan berbeda dari beberapa staff yang sudah pasti mereka membicarakannya di belakang Amira.


Amira menghela nafasnya dengan lesu. Kapan ini akan berakhir? Dia terlalu lelah dengan segala omongan orang yang menjelek-jelekan keluarganya, padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Amira dari dulu selalu hidup sederhana, kakaknya yang selalu menghamburkan uang Ayah, namun mengapa jadi dia yang disalahkan oleh segelintir orang yang hanya lihat dari apa yang mereka simpulkan saja. Ini semua keterlaluan, mereka bahkan menyumpahi hidup Amira sengsara, tanpa mereka sumpahi saja, hidupnya sudah sengsara karna kehilangan orang-orang tersayangnya.


"Lemes banget lo, semangat kek, album baru, duit baru nih!" Teriak Zayyan dari sekat alat pengatur musik. Lelaki itu memang dari tadi memperhatikan tingkah Amira yang lemah, letih, lesu.


"Yakin banget cuan baru bakal gede."


"Yailah, santai aja. Di Indo walau lo agak gesrek tapi lagu lo bagus, masih bakal ada yang mau dengerin kok. Lagian ini kasus bukan kasus kriminal yang pelakunya adalah lo secara langsung. Jadi santai aja sih." Tegurnya berniat menenangkan.


Tetap saja, mau satu dunia menyemangatinya pun, kalau Amira tidak semangat, ya tidak akan semangat.


"Yang penting adalah lo memperbaiki segalanya. Yang udah lalu yaudahlah lupain aja."


Zayyan memang mengerti, namun orang-orang tidak.


Dering ponsel Amira berbunyi. Mbaknya sudah mengembalikan ponselnya sejak kemarin, karna jika ada apa-apa dia harus mengabari Mbaknya dengan syarat tidak boleh membuka social media selain Whatsapp. Amira setujui syarat itu karna memang dia tidak berminat untuk mengonjang-ganjingkan mentalnya yang cukup lemah ini.


"Hallo?"


Amira bisa mendengar riuh beberapa orang di sebrang telpon itu.


"Hi, udah makan siang?"


Ini Alkan. Lelaki ini jadi sering menelponnya, bahkan saat kemarin sedang jalan bersama Jiani saja dia terus menelpon namun tidak diizinkan oleh Jiani untuk mengangkat telpon itu karna katanya itu manusia pengganggu girls time. Bahkan tadi pagi saja lelaki itu menelponnya menanyakan Amira sarapan dengan apa dan diantar oleh siapa. Lelaki ini jadi lebih perhatian dari yang sebelumnya.


"Udah, tadi."


"Mi, tolong lemparin pulpen dong di deket lo tuh." Zayyan berteriak kembali.


Amira mencari pulpen yang di meja sampingnya lalu melempar pada Zayyan yang langsung ditangkap oleh lelaki itu.


"Lagi sama siapa?" Tanyanya ingin tahu, ditambah itu suara lelaki.


"Sama Zayyan, produser musik."


Alkan menyaut dengan berdeham, "Aku abis meeting. By the way, aku mau minta izin."


Bahkan lelaki ini jadi menggunakan kata 'aku' semenjak dia melamar abal-abalan itu.


"Izin apa?"

__ADS_1


"Tapi kamu harus ngizinin, ya?"


"Ya, izin apa dulu?" Amira terus bertanya untuk memastikan kelakukan apa lagi yang akan lelaki itu perbuat.


"Pokoknya bilang iya dulu."


"Gak mau. Ntar aneh-aneh."


"Nggak, nggak aneh-aneh. Ini buat kamu juga."


Pada dasarnya Amira adalah orang yang selalu akan mengalah, mau disituasi bagaimana pun dia akan pasrah.


"Terserah." Begitulah final pointnya.


"Oke, i love you. Semangat kerjanya, jangan mikirin macem-macem oke? Aku lanjut kerja dulu. Ada pasien vvip yang cuman maunya ditanganin sama aku. Bye, take care!" Lalu telpon diputuskan secara sepihak.


"Siapa tuh?" Tanya Zayyan mendekat ke arahnya untuk duduk di sofa sebelah Amira. Lelaki itu mengambil botol minumnya lalu meminumnya.


"Cowok."


"Cowok lo?"


"Gila."


...----------------...


Ben dari tadi sudah menunggunya di ruangannya, ruangan pribadinya yang berada di rumah sakit ini jelas membuat Ben sumpek, karna hanya pemandangan monoton putih yang dihias oleh gambaran para organ manusia yang mungkin bisa dijadikan sebagai acuan kepintaran seorang dokter. Ben sendiri tidak paham mengapa mereka menempelkan gambar itu disini.


Pintu ruangan itu akhirnya terbuka, "Hi, sorry lama. Tapi ngecheck dulu pasien. Pak Mada sakit, lo kenal kan? Dia deket sama bapak lo."


"Iya, tau. Makanya Bapak gue sekarang ada di Jakarta."


"Sama Papihnya Jia?" Tanya Alkan sambil melepaskan jas putihnya khas dokternya itu.


"Papihnya Jia lagi di Singapore."


Alkan mengangguk-angguk. Papihnya Jia dan Bapaknya Ben itu dekat, mereka bersahabat ketika masa mereka berkuliah. Dan mereka sama-sama tinggal di Surabaya.


"Jadi gimana? Apa yang lo dapet?"


"Dapet pelakunya dan gak sengaja masa gelapnya gue korek-korek, sorry. Siapa tau lo mau ngebales dengan hal itu, karna ternyata ini orang juga yang suka ngeganggu Jia."

__ADS_1


"Oiya? Cowok?"


"Cewek. Biasalah, soal kesyirikan. Gue udah biasa ngurusin hal beginian karna emang hatersnya si Jia itu bejibun."


Memang Ben biasa menguruskan hal yang bersangkutan dengan haters Jia. Walau gadis itu sebenarnya tidak peduli, namun jika ada yang menyerang Jia maka Ben akan langsung bertindak.


Alkan terkekeuh pelan. "Jadi siapa?"


"Sesil. Yang pernah deket sama lo kan?"


"Nggak, sialan. Itu dia ngada-ngada."


Ben mengangguk, "Udah ketebak dan motifnya masih sama. Dia ngedeketin semua mantan si Jia dan yang terakhir lo yang beneran mantannya, berembet ke Amira karna lo interestnya ke cewek itu. Jadi mau lo apain ini?" Tunjuknya pada Tab yang dia tunjukan pada Alkan.


"Gue serahin ke lo aja gimana? Terserah deh. Mau lo apain juga. Yang penting itu orang ngerasain, apa yang Amira rasain."


Ben berdecih, "Bulol."


Alkan tergelak, "Biarin. Dari pada lo gak ada kemajuan. Jadi mau lo apain?"


"Ya, sebar aja lagi. Sama kaya yang dilakuin tuh cewek. Gak apa-apa kan?"


"Oke, jangan lupa main aman."


"Gue selalu main aman. By the way, ini aib dia cukup serius bakalan bikin gempar banget. Soalnya dia udah ngelakuin hal kotor."


"Memangnya separah itu?"


"Ya, lumayan. Bukan soal obat tapi jual menjual." Kata Ben dengan kode jarinya.


"Jual apa? Jual obat?"


"Jual diri."


Mendengar itu membuat Alkan terdiam, namun dia sudah kepalang janji akan membalas apa yang telah dia perbuat, kan? Bagaimana pun, Sesil harus menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Alkan tidak bisa membiarkan Sesil berjalan dengan tenang padahal gadis itu sudah mengobrak-abrik kehidupan orang yang lain yang bahkan hampir merenggut nyawanya.


"Yaudah, lanjutin aja."


"Oke, kalau gitu gue balik dulu. Jia bisa ngomel kalau gue kelamaan. Jangan lupa bayaran gue dua kali lipat." Katanya mengingatkan karna dia sudah berinisiatif bekerja dengan double.


Alkan mengangguk setuju dengan itu.

__ADS_1


__ADS_2