The Singer

The Singer
033. Do you get deja vu?


__ADS_3

Studio dan gedung agensi sedang ramai karna sedang ada anak baru katanya. Anak SMA namun sudah bisa berkontrak dengan agensi, Amira amat sayang menyangkan, pasti waktunya akan termakan habis oleh seluruh kegiatannya. Namun, jika itu membuatnya senang, good for her.


Amira dari tadi menguap, ngantuk padahal dia sedang latihan vocal suara dan rekaman untuk album baru. Zayyan dari tadi menjelaskan soal nada melodi namun Amira hanya mengangguk-anggukan kepalanya seakan mengerti walau ya memang mengerti, sedikit.


Zayyan adalah producer musik yang selalu bekerja sama dengan beberapa artis terkenal di Indonesia. Dia yang selalu mengatur rekamannya dari awal hingga akhir kesuksesannya.


Suara pintu terbuka menampilkan Mbaknya berjalan dengan tergesah dan wajahnya menampilkan raut gelisah. Amira melihatnya seperti merada deja vu, seperti melihat ketika kekhawatirannya terhadap keluarganya yang hancur melebur.


"Ami..." Panggilnya dengan suara parau.


Amira menyimpan kertas yang berisi lirik dan nada itu. "Kenapa, Mbak?"


"Udah makan?"


Amira tahu itu hanya basa basi. Ada yang Mbaknya tutupi, Amira bisa merasakan kegelisahan dalam diri Mbaknya.


"Nanti aja kalau udah beres."


"Bentar lagi istirahat, santai aja dulu kali Mbak." Sajut Zayyan di sebrang meja, dia sedang mencoret-coret kertas sambil mendengarkan hasil rekaman Amira.


"Mi," Panggil Mbaknya kembali.


"Kenapa sih, Mbak? Mau ngomong apa?" Tanya Amira seakan paham akan ada yang disampaikan.


"Jangan buka sosial media dulu, ya?" Peringatnya. Padahal Mbaknya sudah memperingati dari dulu kalau Amira dilarang memegang akun sosial medianya, namun Amira diam-diam membuat akun baru hanya untuk iseng-iseng mencari tahu soal sesuatu kabar, karna berita paling cepat menyebar di sosial media.


"Emang ada apa?"


Jika diperingati seperti ini, rasanya Amira ini menentang dan ingin membuka aplikasi itu segera. Ingin mencari tahu apa yang membuat Mbaknya segelisah itu.


"Jangan pokoknya jangan. Udah kamu fokus aja rekamannya. Kalau butuh sesuatu telpon Mbak aja, pakai telpon biasa. Jangan aktifin data internet kamu."


Jika begini, pikirannya akan terbang kemana-mana, memikirkan hal yang tidak-tidak. Pada dasarnya manusia itu selalu mempunyai prasangka buruk duluan, bahkan suka memikirkan hal tidak-tidak padahal belum terjadi tapi terkadang sering terjadi ujungnya.

__ADS_1


"Ada apa sih? Kayanya gelisah banget?" Pertanyaannya Amira terwakilkan oleh Zayyan yang sedang memperhatikan mereka.


"Gak ada apa-apa. Kepo banget," Jawabnya dengan diselingi gurauan agar tidak terlalu tegang.


Amira tahu, Mbaknya hanya pura-pura tenang padahal raut wajahnya tegang sekali.


"Santai aja sih. Kalau ada berita jelek, lo tinggal jalan menjalani karir lo ada yang penting lo bukan kesandung kasus berat kaya semacam lo narkoba baru dah ketar-ketir." Saran Zayyan seakan mengerti keadaan yang sedang terjadi.


Mungkin, kalau otak Amira sepositif itu ketika mendapat masalah. Dia akan tetap menjalani hidupnya dengan tenang, namun ini berbeda. Dia terlalu lemah dan trauma soal mendengar cibiran dari orang lain padanya. Dia terlalu takut dan terlalu membuka telinga mendengar sesuatu dari mulut orang-orang.


"Apa sih, nyaut aja." Tanggap Mbaknya lalu beralih lagi menatap Mbaknya, "Inget ya, jangan buka sosmed dulu sampai keadaan membaik kata Mbak. Mbak keluar dulu, nanti pas jam pulang telpon aja."


Amira hanya mengangguk, menuruti apa kata Mbaknya walau akan dia langgar pastinya, mungkin nanti.


...----------------...


Kamarnya sekarang bagai kapal pecah, Leo memasuki kamarnya dengan membawa banyak mainan. Amira tahu ini disengaja, Mbaknya dengan sengaja mengirim Leo agar Amira menyibukan diri bermain dengan bocah itu dan melupakan soal itu membuka ponselnya, bahkan ponselnya saja disita oleh Mbaknya.


"Eo, uty boleh minjem Tab?"


Mata bulat bocah itu mendongak menatap Utynya, "Boyeh, boyeh," Dia memberi izin disertai anggukan lucu dari kepalanya.


Tangannya dengan cepat mengambil Tab itu dan jemarinya dengan lincah langsung membuka apa yang dia cari. Dia membuka twitter untuk melihat trending hari ini, disana terpampang namanya dan juga kata trending korupsi.


Jantungnya bak dipompa dengan cepat, ngeri dengan jantungnya sendiri. Jarinya mulai gemetaran sampai pandangannya sedikit mengabur, dia resah ingin membukanya atau dia biarkan saja demi menjaga kewarasannya?


Namun, pikirannya kepalang ingin mengetahui. Kepalanya mengatakan untuk membuka trending namanya. Jarinya yang gemetaran itu meng-klik namanya pada baris trending di twitter.


Ribuan cuitan berasal dari akun twitter itu menderet saling trending dengan ribuan like, retweet, bahkan kolom komentar. Bagian teratasnya adalah dari basejulid. Disana, akun itu mengirimkan artikel soal kasus ayahnya, kasus pengkorupsian soal ayahnya yang membuat para warga netizen murka.


Amira dengan jari lemas itu meng-klik postingan itu untuk menampilkan kolom ribuan komentar disana. Ratusan caci maki bagai pisau yang menusuknya kali ini, ini bukan soal dia dihujat oleh murid di sekolahnya, ini juga bukan Amira Dewangsih murid pelajar seperti umumnya. Kali ini dia menyandangkan nama Amira Dewangsih sebagai orang terkenal di negaranya karna bakat bernyanyinya.


Kali ini dia tidak cemas soal keluarganya karna sudah tidak ada, kali ini dia mencemaskan karirnya, mengapa ujiannya seberat ini? Apakah ini adalah kehancuran hidupnya untuk kedua kalinya? Kepalanya sudah penuh dengan untaian masalah, sekelabut gambaran rasa traumanya kembali merayapi isi kepalanya.

__ADS_1


Amira membacai sebagian komentar itu.


'Pantesan mulus, makmur jaya begitu ternyata makannya dulu uang haram.'


'Enak ya, duit bapaknya hasil korupsi tapi dia masih jalan-jalan dengan tenang, bahkan jadi artis pula.'


'*Biasanya emang kalo anak koruptor suka banyak gaya.'


'Serius? Gak nyangka banget, astaga. Guys linknya shopi aku taruh dibawah ya jangan lupa checkout


'Tapi Amira itu baik banget, bukan salah dia juga gak sih?'


'Tips agar sukses: jadi anak koruptor*.'


Dan masih banyak lainnya yang membuat Amira sakit, kepalanya sudah penuh oleh makian yang bahkan terasa nyata langsung terdengar oleh telinganya. Dia seperti merasa kembali pada dirinya yang dulu digunjingkan ketika sekolah.


"Uty, uty kenapa nanis?" Leo duduk di dekat Amira, bocah kecil itu bangkit dan berdiri di depan Amira. Memeluknya.


"Leo?" Panggilnya dengan suara memelan.


"Ya, Uty?" Bocah itu melepaskan pelukannya agar bisa melihat Amira.


"Leo bisa keluar dulu? Uty mau tidur." Pintanya.


Mata Leo mengerjap-ngerjap masih dengan menatap Amira. "Tapi, Mami bilang, Leo harus bobo sama Uty. Suruh temenin Uty." Katanya dengan suara lembut.


Amira jadi semakin menangis, mungkin benar, Amira untuk sekarang membutuhkan seseorang menemaninya agar kewarasanya tetap terjaga dan tidak melakukan hal gila seperti dulu.


"Kalau gitu, kita tidur aja yuk?" Ajak Amira ingin segera melupakan masalahnya untuk sebentar saja.


Leo mengangguk, "Tapi Uty nda boyeh nanis."


Kali ini Amira yang mengangguk lalu tersenyum tipis, "Iya, nggak kok."

__ADS_1


__ADS_2