
Ruangan kamar bernuansa putih itu indah, namun berbanding balik dengan percakapan kedua wanita itu. Saling melemparkan cecahan mengkritik. Sesil dari tadi dibuat pusing mendengar ocehan sang manajernya. Sungguh, rasanya dia ingin melakban saja mulut manajernya itu kalau bisa. Tapi sayangnya, jelas tidak bisa. Yang ada dia dihukum langsung.
"Sesil, gue gak abis pikir lagi sama kelakuan lo. Lo kenapa sih malah upload ginian? Suka banget lo cari sensasi hah?" Katanya sambil menunjuk-nunjuk postingan baru Sesil.
Dia memposting story instagram makan bersama Alkan di ruang peristirahatan, fotonya Alkan sedang fokus pada ponselnya dan menampilkan juga kotak makanan disana. Dia dengan lihai memanfaatkan moment itu untuk membuat para netizen semakin berprasangka yang tidak-tidak tentang mereka berdua.
"Kalau Alkan keberatan. Kita bisa gawat tau! Dia bisa nuntut lo!" Ucap manajernya kembali itu.
"Gak akan." Sesil menjawab dengan santai.
"Gak akan? Gak akan gimana? Jangan ngerasa lo kenal sama Alkan deh. Lagian lo ngapain sih kaya gini terus hah? Sampai kapan lo akan terobsesi terus sama Jiani?"
Mendengar nama itu kekesalan Sesil semakin meningkat, "Apa urusannya sama cewek itu sih?!"
"Gue tau ya siasat lo mendekati Alkan cuman karna Alkan mantannya Jiani, kan? Ngaku aja deh lo." Katanya sambil menunjuk-nunjuk Sesil dengan telunjuknya.
"Yaudah itu lo tau! Kenapa pakai nanya segala."
Manajernya itu memegangi kepalanya, pusing dengan kelakuan artisnya itu.
"Lo ngapain sih hah? Jiani gak akan pernah peduli sama lo!"
__ADS_1
"Bakal! Dia bakalan kesulut sekarang, karna ini menyangkut Alkan."
"Lo bilang juga gitu dulu ketika lo mendekati para cowok yang mendekati Jiani." Katanya, suaranya mulai melemah, mungkin lelah teriak-teriak.
"Yang kemarin itu ternyata cuman gosipan. Kali ini, hubungan Alkan sama cewek itu serius. Mereka putus karna beda agama, jelas pasti cewek itu belum move on."
"Sesil... lo harus sudahi semua rasa keirian lo ini. Lo cuman tinggal menjadi diri lo sendiri aja!"
"Gak! Gue gak bisa tenang lihat dia hidup tenang gitu aja. Dia udah rebut posisi gue pada saat itu, gue bisa rebut hal lain dari dia."
Dulu, Sesil ditawari memainkan film bergenre dengan posisi pemeran utama ditambah disandingkan dengan idolanya, yaitu Dimas Anggoro. Jelas siapa yang tidak senang? Namun semuanya tiba-tiba mendadak runtuh ketika dia mendapati kabar bahwa posisinya terganti, pihak sana membatalkan memakainya untuk menjadi cast dalam projek filmnya, digantikan oleh Jiani Wu. Wanita yang pernah menjadi idolanya juga namun detik itu juga, Sesil membencinya. Sehabis film itu beres, gempar sudah. Projek film itu berjalan dengan lancar banyak yang menyukainya. Penontonnya mengalahkan film-film lain yang sedang tayang atau bahkan pernah tayang. Itu yang semakin membuatanya kepalang benci.
Hingga saat ini, dia rasanya ingin membuat Jiani murka padanya, dia ingin juga membuat Jiani iri padanya. Namun, setelah beberapa kali dia menjalankan misi itu, semuanya gagal. Dia tidak pernah membuat Jiani menoleh iri padanya, yang ada dia semakin membuat menambah haters saja akibat perbuatannya terlalu sering membuat skandal mendekati lelaki yang pernah dekat dengan Jiani.
"Lo gak akan ngerti gimana perasaan gue! Udah cukup lo menghakimi gue!"
"Gue ngerti! Makanya gue bilang, lo tinggal ikhlasin soal itu, Sil! Toh lo udah mendapatkan projek film yang hampir sama suksesnya juga kan?"
"Tapi gak sesukses cewek itu!"
Manajernya berjongkok, lelah. Selalu lelah ketika berargumen dengan artisnya itu. Rasanya dia ingin meruqyah saja artisnya ini kalau bisa. Sayangnya artisnya ini beda agama dengan dia.
__ADS_1
"Udahlah... lo nyerah aja, dia bahkan kenal lo aja pasti ngga!" Karna memang kenyataannya, Jiani tidak pernah peduli pada orang disekitarnya, hampir sama dengan Amira. Namun, kalau yang ini dia masih suka bersosialisasi dengan artis lain. Dia masih bisa berteman dengan orang-orang membuat relasinya dimana-mana. Maka dari itu juga, Sesil selalu berupaya bersikap ramah pada siapa pun agar relasinya tidak terkalahkan dengan Jiani.
Hidupnya dipenuhi obsesi ingin menjadi Jiani, namun dia menepis kenyataan itu. Dengan segala kebenciannya.
"Kalian sama-sama bercahaya, Sil. Lo dengan kemampuan lo dan Jiani dengan kemampuannya serta kehidupannya yang makmur. Lo tinggal menerima itu, lo gak perlu selalu berusaha ingin di atas dia karna itu tetap susah! Lo tinggap jadi diri lo apa susahnya? Toh, lo sama punya sisi bagusnya juga. Lo sama-sama cantiknya dengan dia, kalian sama-sama punya ciri khas tersendiri kalau pun lo jadi diri lo sendiri. Gak perlu lo mengikuti gaya dia yang glamour karna memang dari sananya dia kelebihan duit." Manajernya itu masih belum menyerah untuk menceramahi Sesil.
Namun Sesil adalah Sesil, gadis keras kepala itu. Tetap teguh pada pendiriannya, dia tetap ingin membuat Jiani iri padanya. Dia tetap ingin Jiani melihat dirinya berada di atas dia. Dan Sesil yakin, bahwa kali ini rencananya akan berhasil membuat gadis keturunan China-Indonesia itu menjadi kesal mendapat berita soal hubungannya dengan Alkan yang dibuat-buat oleh netizen sampai para jurnalis pun menulis tentangnya dengan Alkan, tidak peduli itu benar atau tidaknya.
"Lo gak perlu repot-repot kaya gini, Kak. Tugas lo cuman tugas ngatur jadwal gue jadi artis."
"Ya ini tugas gue! Tugas gue menyadarkan lo, kalau jalan yang lo pilih ini salah, Sil."
"Ini jalan gue! Udahlah lo gak usah ikut campur."
"Lo kayanya harus hiatus ya dari dunia entertain? Biar lo mikir setidaknya sedikit aja, biar otak lo kebuka."
"Apaan sih lo? Gak, gue gak mau. Udah lo sana keluar dari kamar gue. Gue mau tidur." Usirnya, kepalanya mulai mau pecah juga mendengar ceramahan dari manajernya itu.
Manajernya bangkit dari jongkoknya tadi, dia berdiri lalu hendak keluar dari kamarnya. "Gue ingetin sekali lagi ya, lo cukup jadi diri lo sendiri jangan sampai lo nanti nyesel sendiri." Katanya lalu berlalu pergi dari sana.
Hening kembali kamar hotelnya itu, mau bagaimana pun orang memberitahunya kalau jalannya salah. Dia akan tetap disini, menjalankan apa yang dia inginkan, hatinya terlalu penuh dengan rasa kebenciannya sampai kewarasannya tidak tersisa sedikit pun. Sesil tidak bisa berpikir jernih sejak 3 tahun silam. Dia terlalu dipenuhi oleh rasa kedengkiannya pada Jiani.
__ADS_1
Dan kalau pun boleh jujur, Sesil sendiri juga muak dengan segala kepalsuan ini. Tapi dia sudah berada di tengah jalan, tidak mungkin dia mundur begitu saja.