
Depan Rumah Sakit ini cukup ramai. Namun, tidak membuat Amira goyah tidak berpergian sendirian. Walau dia memakai topi dan masker, terkadang orang-orang masih saja ada yang mengenalinya. Amira sangat memuji bakat seseorang yang bisa mengenal seseorang dengan begitunya. Dia kalau ketemu Mbaknya pakai-pakaian seperti Amira sih, jelas tidak akan mungkin bisa mengenalnya.
Alkan tadi memaksanya mau mengantarkan Amira. Namun, gadis itu bersikukuh mau pulang sendiri. Padahal tidak membawa kendaraan sendiri. Dari awal datang dia naik taksi online dan sekarang dia pulang pun memakai taksi online, tanpa sepengetahuan Alkan dan Mbaknya. Jadi kalian harap tidak memberitahunya. Kalau mereka tahu pasti akan memberikan ceramah panjang lebar.
Driver taksi online yang Ami pesan tadi mengirimkan pesan untuknya kalau dia terjebak macet. Mau tak mau, Amira harus menunggunya. Kalau dibatalkan kasihan drivernya, dia pasti sangat butuh uang. Amira menunggu di kursi depan Rumah Sakit itu, sambil menatap taman mini yang dihiasi serangkaian bunga hias kecil-kecil.
Amira yakin, kalau arsitek yang membuat konsep rumah sakit ini sangatlah keren. Karna, lihat ini adalah Rumah Sakit terkeren dan ternyaman menurut Amira. Makanya, harganya juga agak lumayan membuat kanker alias kantong kering.
"Ami?" Seseorang pria tiba-tiba menghampiri sama berpakaian dengannya. Dia memakai topi hitam dan masker hitam.
Masker itu dia lepaskan agar Ami bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun, ketika Amira melihat itu gadis itu langsung terkejut dan memundurkan duduknya seketika.
"Kamu? Ngapain disini?"
"Aku ada urusan sama Pak Alkan. Syukur kalau ketemu kamu disini. Aku boleh duduk gak?" Tanyanya sambil menunjuk ruang kursi kosong yang berada di samping Amira.
Amira melirik sekilas ke belakang, takut ada yang mengenalinya yang akan membuat berita gempar atau Alkan yang melihatnya.
Matanya lalu kembali menatap Rega, "Nggak. Mau ngapain emang?"
Rega berdeham canggung karna menerima penolakan itu, "Ada yang mau aku obrolin."
"Soal apa?"
"Soal hubungan kita dulu."
"Dulu? Semuanya udah beres kan? Ngapain kamu ngungkit lagi?" Tanya Amira dengan nada dingin. Bahkan kutub utara saja sepertinya kalah dingin dengan sikapnya sekarang.
"Tapi kamu belum maafin aku."
"Soal dimaafkan atau tidaknya itu kan urusan aku. Kalau kamu udah ngerasa minta maaf sama aku, yaudah. Gak usah ngomongin itu lagi."
"Aku tahu. Tapi, Mi. Apa gak ada kesempatan buat kita balik lagi? Aku tahu ini kedengerannya gak tahu diri. Tapi, aku bener-bener minta maaf lagi sama kamu. Aku tahu, aku salah banyak sama kamu dulu. Semuanya terjadi karna kesalahan aku tapi serius, soal perasaan aku ke kamu itu bukan bohongan, Mi."
"Semuanya udah berlalu dengan lama, Rega. Aku gak peduli soal perasaan kamu yang katanya bener atau nggak itu."
Kalimat itu bagaikan tusukan yang menancam hati Rega saat itu. Ini terlalu menyakitkan mendengar kalimat itu yang dikeluarkan oleh seseorang yang dia sayang selama ini secara langsung.
__ADS_1
"Okay, maaf. Tapi apa kita gak bisa temenan aja?"
"Aku gak mau temenan sama orang yang udah nyakitin aku." Nada suara Amira akan bergetar namun sebisa mungkin dia menjaga nadanya dengan stabil. Dia tidak mungkin menunjukan kelemahannya untuk kedua kali di depan lelaki ini. Cukup dulu saja.
Kini, Rega sadar. Sudah seberapa besar dia melukai Amira. Bahkan terpancar dari mata gadis itu bahwa dia trauma berat. Kini dia juga tahu, kalau dia adalah lelaki terbrengsek dan tidak tahu.
"Aku minta maaf, Mi."
"Kamu mau minta maaf seribu kali pun. Aku gak pernah maafin kamu." Pointnya. Dering telpon Amira mendering menandakan ada telpon masuk. Gadis itu langsung mengangkat telponnya dengan cepat. Rega memperhatikan tangan Amira yang bergetar.
"Hallo? Iya, iya nanti saya kesana. Tunggu sebentar, Pak."
"Aku harus pulang sekarang. Permisi."
Rega memegang lengan Amira agar menahan gadis itu tidak langsung pergi begitu saja.
"Tunggu, Mi. Aku mau nanya sesuatu."
Amira melirik lengannya yang disentuh oleh Rega, Rega menyadari itu langsung melepaskan sentuhannya.
"Kenapa? Cepetan. Aku gak punya banyak waktu."
"Alkan calon suami aku. Udah kan? Aku pulang dulu." Jawabnya lalu langsung pergi meninggalkan Rega.
Kini Rega semakin tahu. Kalau celah untuknya sudah tertutup rapat. Harusnya, dia semakin tahu kalau Amira tidak mungkin menjadi Amiranya lagi. Rega menatap punggung kepergian gadisnya yang masih terus berputar-putar di benaknya.
Dia menghembuskan nafasnya pasrah. Dja memang harus pergi menjauh dari Amira.
...----------------...
Siapa yang berani langsung masuk ke ruangan Alkan selain Ibunya, Adiknya, Asistennya? Yang pasti jawabannya adalah Jia.
Gadis dengan langkah rusuh itu berjalan cepat mendekati meja Alkan. Alkan menatapnya sambil menebak-nebak kenapa gadis itu begitu. Pasti gadis mini itu sedang kesal, sedih, atau bete.
"Ini rumah sakit. Sepatu hak kamu itu berisik."
Jia mencemberutkan bibirnya, "Sorry." Cicitnya pelan ketika sudah sampai di hadapan meja Alkan.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ben sakit. Kakak bisa tolong urusin dia? Kalau bisa sekarang langsung sembuh."
"Kamu kira aku punya ilmu sihir yang langsung bisa nyembuhin orang?"
Jia mendesah, gersah. "Besok jadwal Jia penuh. Gimana cara Jia jalanin kalau Ben sakit?" Katanya seakan ingin menangis.
Seharusnya gadis mini iti mengkhawatirkan keadaan sahabatnya. Namun, ternyata dia malah mengkhawatirkan jadwalnya. Alkan hanya bisa geleng-geleng dengan tingkah laku gadis ini.
"Kamu tuh. Orang lagi sakit bukannya dikhawatirin penyakitnya malah disuruh sembuh biar bisa kerja."
"Ben kan kuat. Tapi dia tiba-tiba sakit. Aneh banget."
"Yaudah, kan ada asisten kamu yang lain?"
"Ya, emang sih. Tapi kalau gak sama Ben Jia tetep pusing."
"Pusing gak ada yang nahan kamu kalau berbuat macam-macam?"
Jia berdecak kesal, "Jia anak baik."
Alkan mengangguk-angguk, "Iya, percaya. Yaudah, ayok temuin Ben. Dia di ruangan mana?" Tanyanya sambil berdiri agar bisa langsung pergi ke ruangan pasiennya.
Padahal Alkan sudah lama tidak menangani pasien, hanya ketika ada seseorang yang memintanya ingin dirawat secara langsung oleh Alkan.
"Ruangan vvip nomor 12."
Akhirmya Jia dan Alkan berjalan bersampingan menuju ruang rawat Ben.
"By the way, tadi Jia ketemu Amira di bawah. Tapi karna lagi buru-buru jadi gak nyamperin."
"Oh, dia emang abis ketemu aku." Ucapnya sambil memencet tombol lift.
"Tapi tadi Jia lihat dia lagi ngobrol sama cowok. Gak tau siapa, soalnya gak kelihatan jelas mukanya. Tapi yang pasti ganteng lebih ganteng dari pada kamu."
Setelah Jia berkata begitu bertepatan dengan suara pesan masuk ke ponselnya dari Rega yang mengabarinya bahwa dia sedang di bawah ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
"Tapi kakak tetep lebih kaya dari pada dia."