The Singer

The Singer
030. Langkah selanjutnya.


__ADS_3

Sesil dari tadi mondar-mandir, menunggu seseorang mengangkat telponnya. Gadis itu tidak sabaran karna yang di sebrangnya sangat lama dalam merespon.


Dia gelisah ingin tahu buru-buru kabar soal Jiani. Dia ingin tahu apa yang bakal Jiani lakukan kalau tahu Alkan dengannya mempunyai hubungan khusus walau itu hanya perpepsi dari warga netizen saja.


Akhirnya telpon itu tersambung dengan seseorang, "Hallo, Sil? Sorry, tadi aku lagi di kamar mandi." Alasannya dengan suara langkahan kaki sedang menaiki tangga.


"Iya gapapa kok, jadi gimana soal tadi kantor?" Sesil berusaha sabar dan masih mempertahankan nada lembutnya walau ingin mengomel karna orang ini lama sekali tidak mengangkat telponnya.


"Tadi Jiani keliatan marah banget. Dia sampai mukul-mukul Pak Alkan. Pas datang aja udah keliatan keselnya karna kalau kesel jalan dia suka berisik." Jelasnya.


Sesil mulai mengembangkan senyumannya, "Serius?" Rasanya dia jadi ingin melihat secara langsung ekspresi si anak manja itu ketika dia marah atau mungkin bisa jadi iri dan cemburu kan?


"Iya, serius. Dia ngomel-ngomel sama Pak Alkan di depan kantor sampe satpam sama orang yang lagi di lobby ngeliatin."


Sesil tergelak pelan, "Terus? Apa lagi yang kamu liat tadi?"


"Pak Alkan malah ngenalin Amira ke Jiani."


Saat itu sudah senyumnya luntur seketika bagai ketika mendapat uang dalam saku namun ternyata robek, "Maksudnya?"


"Disana ada Amira juga. Dan dia dikenalin sebagai calon pacar ke Jiani. Aku gak denger kelanjutannya lagi karna dipanggil atasannya. Tapi aku tau wanita itu ular tiap ada cewek yang lagi deket sama Pak Alkan dia bakal gesit nyingkirin cewek itu."


Yang dia harapkan adalah Jiani melabraknya dan dia akan balik menyerangnya menumpahkan emosionalnya yang terpendam selama ini pada saat. Namun, semua rencananya gagal melebur seketika itu juga. Dan semua ini gara-gara anak gak jelas itu doang? Sungguhan, sebenarnya Sesil tidak ingin menambah musuhnya. Tapi, kenapa Amira selalu berada di tengah saat dia merencanakan sesuatu? Rasanya orang itu adalah penghancur segala rencana Sesil dan dia tidak bisa tinggal diam begitu saja.


"Aku gak paham kenapa Pak Alkan malah ngenalin Amira sebagai calonnya, padahal kan lagi deket sama kamu, ya? Atau emang cowok kaya Pak Alkan sih playboy, tampangnya ganteng begitu dan juga duitnya segudang, dia bisa aja tinggal milih mau cewek yang mana." Tambah gadis itu dan Sesil menyetujuinya, namun sayangkan Alkan cukup susah di dekati.

__ADS_1


Apa harus dia sekalian memakai cara kotor? Atau kah dia harus menyingkirkan Amira terlebih dahulu sebelum Jiani memegang gadis itu?


"Ya, aku juga gak tau." Jawabnya berusaha menahan emosinya kembali.


"Sabar ya, Sil? Santai aja cowok masih banyak kok. Apalagi kamu kan cantik, dibanding si Amira itu pasti bakalan dibuang bentar lagi juga sama Pak Alkan."


"Gapapa. Aku tutup telponnya? Makasih buat infonya."


"Oh, okay. Semangat ya, Sil." Katanya dengan riang berbanding balik dengan Sesil.


"Iya, thanks." Lalu sambungan telpon itu mutus.


Sesil mengacak-acakan rambutnya, pusing. Bagaimana dia harus menyingkirkan Amira? Bagaimana cara agar Alkan ilfeel pada Amira? Dia harus segera berbuat sesuatu yang bisa merusak citra baik gadis itu. Dia harus mencari tahu soal masa lalu gadis itu yang bisa membuat gadis itu hancur seketika.


Perempuan itu langsung mengetikan nama seseorang untuk dia telpon lalu menyambungkan telpon itu sampai akhirnya tersambung.


...----------------...


Amira jarang, atau belum pernah mungkin? Melihat penampilan Alkan hanya menggunakan kaosan dan celana rumahannya. Itu sangat berbanding balik dengan jas kantornya. Aura Alkan ketika memakai itu rasanya benar-benar seperti manusia biasa? Maksudnya, benar-benar Alkan anak ibunya. Sedangkan saat di kantor, auranya bak bukan manusia, pria ini ini terlalu sempurna juga disandingkan di bumi sama seperti Jiani.


Amira jadi penasaran seperti apa respon orang lain ketika melihat Jiani dan Alkan bergandengan, apa mereka akan menanggapi hal itu dengan respon sebagai pasangan sempurna? Apakah hal itu masih berkelanjutan sampai sekarang? Karna pada dasarnya seorang fans kalau artisnya mempunyai pacar sampai putus pun kalau dia merasa cocok pada pasangan itu akan terus diungkit bahkan ketika salah satu diantara mereka mempunyai pasangan baru, akan dikomen tidak cocoklah, cocokan sama yang kemarin lah, serasian pas sama yang kemarin lah. Amira terkadang bingung sendiri, memangnya mereka ini siapa menentukan cocok atau tidaknya? Keluarga bukan.


"Mikirin apa sih?" Lamunan Amira buyar karna Alkan.


"Gak mikirin apa-apa."

__ADS_1


Mereka sedang berada di mobil, dari tadi hanya mengelilingi jalanan Jakarta yang mulai sepi. Sepertinya para warganya kelelahan sampai mereka memutuskan untuk mengurangi berkeliling di jalan raya ini, berbeda dengan Alkan. Pria ini apa tidak capek ya?


"Kamu gak capek? Tadi kerja kan?" Amira berinisiatif bertanya.


"Capek," Jawabanya sambil memutar stir.


"Kalau capek kenapa gak tidur aja? Istirahat di rumah bukannya malah keliling nyetir kaya gini."


"Tiap orang kan beda-beda cara mengobati rasa capeknya. Kamu tau, gak? Ketika saya capek liatin jalanan Jakarta yang macetnya keterlaluan itu, saya ngobatinnya pakai jalan-jalan di tengah malam ketika jalanan mulai sepi. Karna saya harus merefresh otak saya supaya gak terus-terusan menaruh kebencian di jalanan Jakarta karna pasti ketika kita benci sesuatu kejelekan itu ada kebaikannya juga. Tinggal kita cari aja." Alkan dan segala pemikirannya. "Sama kaya kamu, saya tau rasanya jadi artis berat kan? Memakan banyak waktu maka ketika luang kamu akan ganti dengan tidur sepuasnya."


"Ngerti banget kamu soal artis, mentang-mentang mantannya artis." Entah kesialan dari mana mulutnya tiba-tiba mengeluarkan hal ini.


"Ya saya kan ngeliat dari pengalaman. Kenapa kamu cemburu?" Tanyanya dengan nada jail.


Amira mendelik, "Saya lebih cemburu sama kecantikan dia dari pada cemburu sama kamu."


"Masa sih? Ngapin kamu cemburu sama kecantikan seseorang."


"Perempuan kan selalu ngerasa insecure ketika ngeliat ada perempuan cantik di sekitarnya."


"Dan tinggal gak usah insecure. Mungkin ini keliatan gak gampang. Tapi kamu tinggal terapin hal positif dalam diri kamu, kamu tahu? Ini adalah yang selalu dipakai oleh psikogi, ketika kamu mempercayai bahwa kamu cantik, ya pasti akan cantik dan sebaliknya, ketika kamu mempercayai bahwa kamu jelek, ya aura kamu pun ikutan jelek. Semuanya tergantumg pembawaan kamu bagaimana."


"Kamu kayanya lebih cocok sebagai motivator dari pada seorang pembisnis." Sindirnya ketika mendapat ceramahan itu


Alkan tergelak ketika mendengar jawban dari Amira. "Kamu kayanya lebih cocok jadi istri saya dari pada jadi artis."

__ADS_1


"Kamu selalu flirting seperti ini memangnya kamu ada rasa beneran sama saya?" Tanyanya dan pertanyaan itu mengambang tanpa jawaban.


__ADS_2