
"Tiba-tiba?" Tanya Ibunya Alkan ketika Alkan baru memberi tahu persoalan dia melamar Amira.
Sudah terhitung berapa minggu Alkan tidak menemui Ibunya karna dia memang sedang masa-masa sibuk. Keduanya, sama-sama disibukan dengan pekerjaan. Dan Alkan juga tidur di apartnya yang asalnya selalu pulang ke rumah semenjak Ayahnya meninggal.
Namun, karna keadaan rumah sakit dan perusahaan Ibunya sedang membuat kepalanya pusing karna pekerjaan menumpuk.
"Iya, aku ngelamar dia pas di Singapore." Ibunya menoleh pada Alkan yang tadinya fokus pada piringnya.
"Kapan kamu ke Singapore?"
"Beberapa minggu yang lalu, Bu. Maaf, gak izin ke Ibu."
Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya, selalu memaklumi anaknya yang akan menceritakan sesuatu ketika sesuatu itu sudah lama kejadian dan bahkan sudah beres tanpa tersisa pun Ibunya ingin membantu.
"Jadi? Mau tunangan dulu atau menikah?"
"Langsung nikah aja."
"Kamu serius kan ini? Bukan main-main. Kamu tahu Amira itu punya masa lalu yang kelam, Kan. Kamu jangan sampai main-mainkan dia."
"Aku tahu, Bu. Aku serius." Jawab Alkan dengan serius.
Tidak ada alasan untuknya, untuk mempermainkan seseorang. Apalagi mengingat dia punya seorang Ibu, gak akan mungkin kan dia melukai seseorang yang sama seperti Ibunya. Dan dari dulu, ibunya selalu mewanti-wanti untuk Alkan tidak menyakiti seorang perempuan, ditambah dia selalu diingatkan kalau dia lahir dari seorang rahim perempuan.
Maka dari itu dari dulu prinsipnya tidak akan pernah menyakiti perempuan, tapi melainkan perempuan yang menyakiti dirinya sendiri karna menaruh harapan cintanya pada Alkan yang berujung tidak terbalas akhirnya mereka yang merasa sakit sendiri.
"Amiranya sekarang di mana?"
"Dia lagi tour konser. Dia bakal berhenti jadi artis untuk waktu yang lama."
"Bukan kamu yang nyuruh, kan? Ingat ya, Alkan. Biarin dia kerja sesukanya, jangan kamu atur-atur. Dari pada dia kesiksa sendiri, memangnya dia itu burung apa kamu kurung di dalam sangkar terus?"
"Bukan, Bu. Astaga... Kenapa sih? Punya firasat buruk terus ke aku."
"Ya, kamu ini ada tampang brengseknya. Ibu kadang was-was sendiri."
__ADS_1
Alkan menghela nafasnya panjang, benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran orang di sekitarnya. Orang-orang selalu menganggapnya lelaki brengsek hanya karna wajah Alkan yang ada tampang brengseknya, memangnya Alkan ini preman apa? Sembrangan sekali kalau mereka berbicara.
"Aku udah ngurus semuanya."
"Siapa yang ngurus?"
"Jasmine."
"Kamu ini kebiasaan. Jasmine itu udah disibukan sama kerjaan di perusahaan. Kamu malah nambah-nambah kerjaan dia aja, lama-lama dia bisa kabur."
Bukannya merasa bersalah, Alkan malah terkekeuh pelan. Memang kalau persoalan pesta, Jasmine akan pasti repot. Karna dia yang diandalkan untuk segala sesuatu urusan itu sampa acara lancar.
"Ya, gak apa-apa. Bu. Bonus dari aku kan lumayan buat dia."
"Maksud kamu, gaji dari Ibu kurang buat dia?"
Astaga... Kenapa wanita itu selalu membuat kalimat menjadi salah. Rasanya akan salah terus dengan apa yang dikeluarkan oleh mulutnya.
"Ngga gitu... Kenapa sih? Ibu nih perasaan banget."
Mungkin, jika Alkan tidak takut kualat. Dia akan membawa cermin besar agar Ibunya bisa mengaca. Siapa yang selalu asa ceplas ceplos? Dari situ maka Ibunya akan sadar diri.
Namun soal itu, Alkan harus tanam dalam-dalam. Realitanya dia akan diam saja tidak menanggapi. Daripada semakinn salah.
...----------------...
Surabaya tempat ke entah berapa, rasanya Amira malas menghitung. Dia benar-benar ingin selesai saja rasanya. Walau hatinya buncah merasa senang akibat ramainya penonton yang ikut serta dalam konsernya.
Sekarang Amira sedang di backstage untuk beristirahat sehabis konsernya selesai. Rasanya dia tidak butuh kursi atau pun cemilan untuk menemani istirahatnya. Dia sangat membutuhkan kasur untuk dia istirahatkan pinggangnya yang encok ini. Maklum, dia adalah salah satu remaja jompo. Wajah dan badan muda, tapj kekuatan jompo bak orang yang sudah lanjut usia. Ditambah Amira itu anti olahraga. Jelaslah badannya sering merasa lelah, dia membenci segala jenis olahraga.
"Kak, Ami!" Teriak Kai dari arah masuk back stage sedang berjalan menuju ke arah Amira dengan senyuman dan mata segarisnya. Terlihat sangat lucu.
"Hii!" Sapa Ami ketika Kai sudah mendekat, "Sendiri?"
Kai mengangguk masih dengan senyumannya, "Ya, temen aku gak ada yang mau nemenin. Dan Cece aku juga, dia lagi di Jakarta."
__ADS_1
Amira ikut mengangguk, mengerti. "Gimana konsernya? Suka gak?"
"Suka! You did well, Kak. Keren banget serius. Apalagi lagu barumu, aku sehari udah ampir 50 kali dengerin lagumu."
Kekeuhan keluar dari mulut Amira karna mendengar kalimat Kai yang berlebihan menurutnya.
"Thank you, Kai."
"Oiya, aku bawa sesuatu buat kamu, Kak."
Kai mengeluarkan paper bag yang dari tadi dia jingjing dari tangannya. Amira melihat logo paper bag itu adalah berupa brand perhiasan terkenal yang selalu Amira pakai untuk accesories.
"Nih! Buat kamu, Kak."
"Apa ini?" Amira mengambil paper bag itu lalu didudukan di pangkuannya lalu membuka untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Kotak perhiasan berbentuk kotak lumayan besar itu berisi kalung cantik yang melingkar disana, membuat Amira menganga karna terkejut melihat ini. Ini adalah postingan dari brand yang pernah Amira like karna menyukai bentuk liontin dari kalung ini.
"Ini buat aku? Serius kamu, Kai?"
Kai mengangguk mantap, "Iya, serius. Aku harap kamu suka, Kak. Terus bakal kamu pakai terus. Jangan dibuang, ya?"
Mana mungkin Amira bisa buang kalung ini kalau harganya saja hampir membuat ususnya melilit. Sungguh mengapa Amira bisa dikelilingi oleh orang-orang yang kelebihan uang begini.
"Bakal aku pakai teruslah! Aku suka banget sama kalungnya. Makasih ya, Kai." Ujar Ami disertai senyuman manis yang membuat Kai menjadi salting.
"Oiya, by the way. Aku mau confess sesuatu, Kak. Aku tahu ini gila kebangetan. Tapi, aku suka kamu layaknya seorang perempuan, bukan sekedar suka sebagai idola." Katanya membuat Amira cengo, "Kalung itu bukti kalau aku bener-bener suka sama kamu. Aku tahu itu kalungnya gak seberapa, maaf kalau aku cuman bisa kasih itu."
Apa katanya? Gak seberapa gimana? Ini saja sudah membuat Amira terkejut. Tapi lebih terkejut soal pengakuan perasaan Kai padanya. Dunia sedang kenapa sih?
"Kai..." Panggil Amira karna bingung akan merangkai kata-kata bagaimana untuk penolakan. "Kai... Kamu itu ganteng, baik, terus perhatian juga. Pasti bakal dapet lebih yang dari aku. Bukan soal umur kita aja yang jauh tapi masalahnya Kai, aku udah ada yang lamar dan sebentar lagi bakalan nikah."
Bagai petir yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Kai merasakan hantaman besar ke dalam hatinya membuatnya terasa sakit.
Ini adalah patah hati terberatnya karna dia kepalang jatuh cinta sebelum memulai.
__ADS_1