The Singer

The Singer
043. Suatu kesalahan.


__ADS_3

Jalanan macet total. Amira menghelakan nafasnya berapa kali ingin segera sampai ke rumah dan kamarnya. Dia ingin segera merebahkan tubuhnya yang jompo ini. Entah sudah berapa kali dia berdoa semoga mobil ini segera melaju namun sepertinya para kendaraan di depannya seperti tidak berniat untuk maju.


Sepertinya orang-orang sangat betah berada di jalanan dari pada pulang di rumah.


"Kamu kenapa?" Mbaknya sedang menyetir juga sepertinya terlihat lelah karna kemacetan waktu pulang kerja ini.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa gak jadi pulang sama Alkan?"


Pertanyaan itu bak tusukan jarum. Sebenarnya, Amira sendiri tidak tahu mengapa dia tiba-tiba tidak mau pulang bersama Alkan hanya karna rasa bersalahnya saja. Padahal seharusnya dia tidak perlu merasa bersalah, kan?


"Gapapa."


"Serius? Aneh banget."


Seperti seorang peramal dan detektif Mbaknya menatapnya dengan penuh selidik.


"Iya, seriusan."


"Bukan karna tadi ketemu Rega?"


Amira mengerjapkan matanya perlahan, bagaimana Mbaknya tau? Padahal kan tadi Mbaknya tidak ada disana.


"Tadi Mbak ketemu Rega pas dia keluar dari restoran itu. Kayanya, abis ketemu kamu. Mana sama Alkan lagi, ya?" Katanya dengan kekeuhan pelan lalu memajukan mobil sedikit.


Tanggung sekali, kenapa majunya tidak langsung sampai rumahnya sih?


"Jangan sampai kamu gagal move on dari Rega. Inget udah ada Alkan yang pasti."


Mbaknya dulu mengenal Rega ketika pria itu mengantarkan Amira pulang sekolah ke rumahmya. Dulu Rega dan Ibu cukup dekat, Rega selalu disuruh main kerumahnya untuk diajak makan barenglah, mengobrollah. Rega sudah seperti anak bagi Ibu Amira. Terkadang, malah Amira yang selalu cemburu kalau Ibunya lebih dekat dengan Rega.


"Siapa sih yang belum move on? Orang aku udah."


"Siapa tau, kan. By the way, kalian dulu putus karna apa sih? Dari masalah itu kan tiba-tiba putus. Apa karna masalah itu dia mutusin kamu?"


Mbaknya dulu terlalu pusing dengan urusannya sampai tidak tahu mengenai jalan hubungan antara Amira dan Rega.


"Nggak kok. Aku yang mutusin." Bohongnya. Dia malas harus menceritakan hal yang sesungguhnya. Semuanya akan berurusan menjadi panjang.

__ADS_1


"Serius? Kenapa? Karna kamu malu?"


"Nggak kok. Emang harus udahan aja."


"Hmm... Yaudah, jangan gagal move on, ya? Inget udah ada Alkan."


Alkan padahal bukan siapa-siapanya tapi mengapa kata-kata itu terasa Amira harus mengingatnya.


"Ya.."


Anyway, soal percyber bullyingan mengenai Amira, itu masih berjalan ternyata walau tidak serame kemarin. Tadi saja, ketika dia di Mall. Orang-orang masih membicarakannya bahkan di media social saja Amira suka iseng mengecek akunnya masih ada beberapa yang membullynya.


Sepertinya, Amira harua belajar memulai masa bodoh demi kehidupannya yang lancar. Karna dasarnya, kita gak bisa menutup dan mengatur mulut atau ketikan seseorang. Yang ada, harusnya kita yang menutup telinga dan mata agar tidak mendengar dan melihat hal yang menyakiti kita. Dia harus bisa membatasi dirinya.


...----------------...


Rega berjalan menuju rumahnya, dengan penuh pikirannya. Selama perjalanan dia memikirkan tentang Amira, masih kaget dengan pertemuan mereka. Rega selau berusaha tidak menghadiri acara yang mengundang Amira juga. Namun, tiba-tiba kali ini mereka dipertemukan kembali.


Pertemuan terakhir adalah ketika mereka terakhir ujian nasional. Karna ketika kelulusan, Amira tidak datang bahkan Rega sengaja datang ke rumahnya namum rumah itu terdapat plang bertulisan 'Rumah ini dijual.'


Detik itu juga dia tidak pernah mencari tahu lagi tentang kehidupan Amira. Rega akan melepaskannya, bahkan dia pindah kota demi menghindari pertemuan mereka. Sesak rasa bersalahnya masih terasa sampai sekarang.


Dia segan untuk mengajak gadis itu mengobrol, dia terlalu takut menatap tatapan kebencian itu. Rega bisa melihat tatapan Amira yang tanpa minat padanya. Tatapan mata berbinarnya dulu hilang, hanyut entah kemana. Rasanya dia ingin mengembalikan tatapan itu kembali.


"Aku gak laper, Mah." Jawabnya namum menghampiri Mamahnya untuk menyapa. "Lagi apa, Mah?" Rega duduk di depan Ibunya.


"Bikin jamu. Kamu mau?"


"Jamu apa tuh?"


"Jamu penghilang stress." Canda wanita di depannya itu dengan tawaan renyah. "Soalnya, kamu kaya lagi stress. Ada apa sih? Masalah kerjaan? Bapak kamu ngatur-ngatur lagi? Kalo iya, biar mamah omelin dia."


"Nggak kok, Mah."


"Terus kenapa?"


"Tadi aku ketemu Amira."


"Amira? Mantan kamu pas SMA itu?"

__ADS_1


"Iya."


Mamahnya mengenal Amira juga tahu mengenai misi awalnya mendekati Amira sampai Rega yang jatuh sendiri pada perangkap Amira. Mamahnya yang menyaksikan anaknya semata wayangnya itu uring-uringan karna seorang gadis. Bahkan sampai detik itu dia sampai tidak minat melirik gadis lain karna masih ada bayang-bayang dari Amira.


"Terus gimana? Kabar dia baik? Mamah tebak pasti dia masih ngebenci kamu."


"Kayanya iya. Dari tatapannya sih iya, soalnya tadi dia kaya jengkel banget pas ketemu aku."


Mamahnya Rega bukannya prihatin malah tertawa. "Sabar, ya. Udahlah kamu ikhlasin aja dia."


"Dia sama cowok juga, Mah."


"Puji syukur."


"Mah kok gitu sih!" Protes Rega karna terus-terusan diledek.


"Ahahaha. Habisnya, kasian anak mamah jadi sadboy."


"Dih, mamah tau bahasa itu dari mana sih? Ngomong-ngomong, emang kesalahan aku fatal banget ya? Sampai dia segitu jijiknya ketemu aku."


Mamahnya bangun dari duduknya lalu menyimpan alat perasan itu. Lalu dia mencuci tangannya sambil berbicara, "Salah banget lah. Siapa yang nggak sakit hati sih kalau ada yang deketin karna ada sesuatu yang dia incar dan itu malah jadi penghancur hidupnya."


"Tapi kan itu udah resikonya Ayahnya harus dipenjara karna kesalahannya sendiri."


"Bukan soal itu Rega... Kesalahan kamu itu bukan soal misi kamu mata-matain Ayahnya Amira. Kesalahan kamu itu pacaran sama dia cuman buat misi kamu dan Bapk kamu. Kamu gak mikir kesana ya sampai sekarang?"


Rega terdiam memikirkan kesalahannya itu. Dan memang faktanya begitu. Amira kecewa bukan soal penangkapan Ayahnya namun karna alasan kebahagiaanya juga ternyata hanya angan-angan.


"Gimana cara aku buat minta maaf sama dia, ya? Kayanya susah banget buat ngajak dia komunikasi."


"Pelan-pelan aja. Kamu tadi ketemunya dimana?"


"Tadi pas aku meeting. Dia lagi sama partner kerja aku."


"Yaudah, seringin aja ketemu atau minta tolong partner kerjaan kamu itu."


"Gimana kalau partner kerja aku itu pacar barunya Amira?"


"Memangnya kamu minta tolong buat ngajak Amira balikan?"

__ADS_1


"Nggak? Aku cuman pengen minta maaf aja karna kayanya balikan itu udah gak harapannya."


Mamahnya berjalan mendekat kembali, "Nah, itu. Kamu minta tolong aja buat selesain kesalah pahaman kalian. Kamu ngerti kan? Tolong ya, jangan jadi anak bego."


__ADS_2