
"Aku sampai lupa soal niat awal kita kesini."
Setelah mereka sampai basement, Alkan tidak langsung mengajaknya turun, malah berdiam diri di mobil berada di basement yang cukup sepi.
"Emang niat kita kesini mau ngapain?" kening Amira mengerut karna kebingungan soal apa yang dibilang Alkan.
"Ngelamar kamu." dia mulai mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya, Amira berkedip-kedip melihat kotak yang jelas isinya adalah cincin. "aku tau ini mendadak banget. Bahkan aku sendiri gak tau perasaan kamu kaya gimana. Tapi aku gak peduli soal itu, maksudku kalaupun kamu menolak. Yaudah, gapapa. Dan aku gak bisa membuang waktu aku terlalu lama. Jadi, will you marry me?"
Amira berkedip-kedip pelan, dia memang sudah menebak Alkan melamarnya nanti malam. Namun, dia kira semuanya tidak akan jadi karna dinnernya saja tidak jadi. Karna hujan menggyuru malam.
Yang membuatnya terkejut adalah tidak pernah dia membayangkan akan ada seseorang yang melamarnya, karna dasarnya dia tidak pernah dekat dengan seseorang. Adapun jika seseorang lelaki mulai memberikan kode pendekatan akan langsung Amira cut off , karna dia masih mempunyai sisa-sisa rasa trauma dalam dirinya.
Dan ini pertama kalinya, Amira sejauh ini dekat dengan seseorang karna Alkan yang terus-terusan menghantui hidupnya.
Lalu sekarang, bisakah Amira menaruh harapannya pada Alkan? Bisakah dia membuka kembali hatinya untuk seseorang yang bahkan baru Amira kenal.
"Mi? Aku gak akan maksa kamu. Semua keputusan ada di tangan kamu." katanya kembali memastikan.
Hidupnya sekarang sedang diambang batas kehancuran. Bisakah dia membangun dunianya bersama Alkan? Dan jika Amira menolak, apakah dia sanggup menjauh dari Alkan yang sudah mulai terbiasa ada di hari-harinya.
"Aku gak tau. Aku bingung banget, serius. Boleh kasih aku waktu?"
"Hmm gapapa. Take your time, aku bakal nunggu kok."
"Emangnya kamu cinta sama aku?" tanya Amira ingin memastikan sesuatu kalau laki-laki ini tidak bermain-main dengannya.
"Aku tahu ini terdengar aneh. Tapi entah sejak kapan rasanya aku selalu pengen lihat kamu terus, rasanya ada yang aneh kalau aku gak tau kabar kamu, rasanya aku pengen banget bareng kamu seterusnya sampai aku mutusin kamu ngajak kamu nikah."
Rasanya, mulut Amira terlalu kelu untuk mengeluarkan kata-kata, dia tidak tahu harus menanggapi bagaimana karna rasanya terlalu mendadak. Dia kira Alkan hanyalah ingin bermain-main dengannya tidak sampai menuju ke jenjang ini.
...----------------...
Kakinya kembali menginjak rumahnya. Dia berjalan menuju kamarnya dengan masih tatapan kosong, serta pikiran yang melayang kemana pun pikirannya ingin.
"Uty!" Leo berlari menuju Amira dengan senyuman kecil bocah itu, "Uty, kata Mamih habis liburan ke Singapore?"
"Iya, sayang."
__ADS_1
"Bawa apa buat eo?" bocah kecil ini memalak dengan wajah yang lugu, mungkin kalau yang memalak adalah Rania jelas Amira akan akan kesal. Tapi karna ini Leo dia jadi terkekeuh.
"Bawa mainan nih. Bawa si merah, siapa namanya? Uty lupa." tanya Amira sambil berpura-pura berpikir karna jelas dia memang lupa.
"Mekwin!" jawabnya dengan suara riang semakin membuat Amira tertawa.
"McQueen, Eo."
"Hu-uh..."
Amira langsung memberikan paper bag yang berisi mainan berupa mobil-mobilan berwarna merah. Ketika setelah membeli parfum, Amira melewati store mainan yang langsung membuatnya teringat Leo di rumah. Otomatis dia langsung membelinya sebagai oleh-oleh.
"Suka?"
"Suka!" jawabnya dengan cengiran lalu memeluk mainannya itu dengan senang.
"Ami? Mbak kira kamu pulang besok. Mau makan?" Mbaknya datang habis dari dapur.
"Iya, Mbak. Masak apa?"
Amira berdeham, memang salah pertanyaanya. Kalau ketauan Mbaknya memasak sih jelas Amira akan kaget.
"Aku gofood aja deh." ujarnya sambil mengeluarkan ponselnya. Karna sejujurnya dia memang lapar. Tadi dia tidak sempat makan siang bersama Alkan karna Alkan buru-buru harus mengurus pekerjaannya di rumah sakit.
"Mau nitip?" tanya Amira menawarkan.
"Nggak. Udah pada makan."
Amira mengangguk lalu mulai memesan makanan dari aplikasi yang sering dia pakai.
"Kamu beli perhiasan?" tanya Mbaknya ketika melirik apa yang Amira bawa.
"Nggak."
"Terus itu apaan?" tunjuknya pada paper bag yang berlogo tiffany&co.
"Dari Alkan. Dia ngelamar aku."
__ADS_1
"Hah?!" Mbaknya kaget lalu duduk di sebelah Amira, meminta penjelasan. "terus kamu terima?"
Amira menggeleng karna nyatanya belum, "Belum. Aku masih bingung."
"Bingung kenapa?"
"Gak tau, Mbak. Bingung aja. Kaya terlalu mendadak banget. Masa dalam waktu singkat dia tiba-tiba lamar aku?"
"Waktu mah gak ada yang tau. Kadang ada yang baru kenal udah mantap buat ke jenjang yang lebih serius, ada juga yang udah bertahun-tahun hubungan masih aja ragu. Semua itu tergantung diri kamu, Mi." mulai dengan wejangannya, "kamu sendiri gimana perasaannya?"
"Kalo soal suka sama Alkan, aku jujur udah mulai suka sama dia. Tapi aku masih takut."
"Kamu harus lawan rasa takut kamu sendiri. Sama kaya dulu, awal kamu ngerintis karir asalnya kan kamu takut sama dunia. Tapi ketika kamu mencoba semuanya baik-baik aja, kan? Semuanya itu tergantung kamu bisa atau nggak ngejalaninnya, Mi. Yakinin aja dulu ke diri kamu. Dan kalaupun kamu butuh waktu, yaudah berarti kamu minta pengertian aja sama Alkan."
"Udah."
"Gak semua orang itu berniat jahat. Kamu harus bisa nyingkirain semua pemikiran negatif dalam diri kamu dan berdamai sama semua hal yang pernah kamu lalui dengan rasa sakit."
"Iya, Mbak. Makasih banyak."
Mbaknya mulai mengelus punggung dengan pelan, "Kamu gak sendirian, Ami. Jangan pernah mikir kalau kamu itu sendirian. Mbak disini, sekarang Mbak yang jadi Kakak kamu. Jadi kamu jangan sungkan kalau ada apa-apa itu cerita sama Mbak, ya?"
"Iyaa, mbak."
"Uty!" Leo menghampiri Ami yang asalnya bocah itu sedang duduk di karpet bersama mainannya. "Uty, ini gimana?" tanyanya sambil menyodorkan remot dari mobil-mobilannya.
Dari situ Amira malah menghambiskan sisa waktunya berlibue bermain dengan Leo sambil melupakan sejenak kelapanya yang dipenuhi oleh persoalan Alkan dan album barunya yang akan rilis.
Sejujurnya pun, dia tidak terlalu menyukai pekerjaannya karna dia selalu ditekan untuk memenuhi ekspetasi orang-orang yang mengenalnya dan itu adalah resiko menjadi public figure, salah sedikit saja langsung dihujat habis-habisan jika tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Bahkan kebaikannya yang lebih banyak dari satu keburukannya tertutupi. Orang-orang terlalu fokus pada titik hitam dalam lingkaran putih dan mengabaikan warna putih yang mencerahkan daripada si hitam.
...----------------...
Curhat dikit aku ngetuck banget sama bab ini, hahaha. Rasanya mau buru-buruin tamat, jadi maaf kalau yang kurang jelas. Soon akan aku revisi.
Jangan lupa baxa cerita baru aku!
__ADS_1