
Jalanan solo sepi, jelas sepi karna sudah pukul 10 malam. Siapa pula yang masih mau mengelilingi dunia di malam hari? Mungkin kalau manusia kelelahan seperti Amira akan lebih memilih untuk tidur di kasur hotel yang empuk itu, namun sangat disayangkan itu hanyalah khayalan semata yang tidak ada terwujud.
Karna sekarang Amira, Rania, dan Alkan sedang berada berada di MCD yang berada di dekat sini. MCD ini bahkan hanya tersisa satu pengunjung ditambah mereka bertiga. Ketika mereka bertemu Amira bisa melihat keterkejutan dari wajah Alkan karna Amira bersama Rania.
Mereka berjalan menuju tempat pemesanan, Alkan di depan dan kedua wanita itu di belakangnya.
"Kamu mau pesen apa?" Tanya Alkan pada Amira.
"Aku mau pesen Mc Flurry sama Cheese burger, Kak," Yang menjawab adalah Rania dan yang membuat Amira terkejut bukan karna wanita itu yang jawab padahal dia yang ditanya tapi soal kenapa Rania memanggil Alkan dengan 'kak?' padahal umur mereka terpaut cukup jauh.
Alkan meliriknya sekilas, "Oke, Ami?"
Ami langsung menatap menu yang berada di atas itu, bingung ingin makan apa karna sebenarnya dia tidak lapar. "Mc Flurry sama Mc Nuggets aja."
Lelaki itu langsung mengangguk dan segera memesan, "Kamu tunggu aja dulu di meja. Nanti aku yang bawain makanannya."
"Oke," Amira baru saja ingin meninggalkan Alkan namun lengannya malah ditahan oleh Rania yang berada di sampingnya.
"Diem dulu." Bisiknya.
"Biar aku temenin, kak." Niatnya hanya untuk pencitraan.
Alkan tidak ambil pusing mereka menunggu disana dengan canggung, ditambah Amira tidak membawa ponselnya sedangkan Alkan malah fokus dengan ponselnya itu.
"Lo ngobrol kek!" Bisik kembali gadis itu tepat di telinga Amira.
"Males." Katanya langsung disenggol oleh Rania karna dia menunjukan dia kesal.
Akhirnya makanan sudah siap dan Alkan langsung menyodorkan ponselnya pada Amira membuat Amira hanya menatap ponsel itu dengan kebingungan.
"Apa?" Tanyanya.
"Tolong pegangin." Tanpa babibu lagi Amira langsung mengambil ponsel berlogo apel itu. Siapa tau itu bisa dijual karna lelaki itu pasti mengikhlaskannya tapi pasti banyak kerjaan juga yang tersimpan di ponsel itu.
Alkan memegang nampan itu berjalan di belakang mereka menuju meja kosong yang bisa dipilih mau duduk dimana saja.
Akhirnya mereka duduk, Rania duduk bersama Amira berdampingan sedangkan Alkan duduk di depan Amira.
"Kak Alkan, kirain gak akan ikut ternyata ikut, jadi makin semangat pas tau Kak Alkan ikut." Celetuk Rania.
"Iya, tadinya saya gak akan ikut. Tapi mau liat prosesnya secara langsung."
Rania mengangguk-anggukan kepalanya, "Kak Alkan, keren banget deh jadi kagum. Katanya Kak Alkan ngurus rumah sakit juga ya? Kok sekarang ngurus perusahaan Ibunya Kak Alkan juga?" Rentetan pertanyaannya sudah seperti wartawan yang sedang mewawancarai.
"Ibu saya lagi sakit, jadi saya yang harus ngurus." Jelasnya pendek.
"Kak Alkan emang gak punya sodara lain?"
Amira hanya mendengarkan mereka sambil mengemil nugget itu dengan nikmat bahkan kantuknya sudah mulai merayapi matanya.
__ADS_1
"Ada, adik saya masih kuliah." Dengan senang hati Alkan masih menjawab pertanyaan itu, "Mau gak?" Tambahnya menawarkan kentang goreng pada Amira.
Amira menatap kentang goreng dengan diam dan rasa kantuk.
"Kalau Ami gak mau, aku mau kok, kak!"
Amira menolehkan kepalanya pada Rania.
Gadis ini benar-benar ingin mendekatkan dirinya pada Alkan, tingkahnya di luar.
"Kamu pesen aja lagi kalau mau." Jawab Alkan pada Rania.
Alkan menaruh beberapa potong kentang goreng itu pada wadah nugget Ami. Ami mendongak, menatap Alkan karna dia sedang bertumpu pada lengannya.
"Kamu ngantuk ya?" Tanyanya.
Amira tidak menjawab karna malas berbicara, malah sibuk melanjutkan makannya.
"Amira emang hobbnya tidur, Kak."
"Kenapa gak bilang aja kalau ngantuk? Jadi kita gak keluar, kamu tidur aja di kamar jadinya."
Amira yakin pasti Rania sedang kelimpungan mencari jawaban yang untuk membalas ucapan Alkan.
"Euh... Tadi sih Ami bilangnya laper."
"Aku juga laper hehe."
"Yaudah kalo gitu cepet abisin makanannya biar bisa cepet tidur," Katanya sambil menepuk-nepuk kepala Ami yang langsung Ami lepas begitu saja.
"Eh, Kak, aku mau nanya boleh?" Tanya Rania membuka obrolan baru.
"Ya, boleh."
"Aduh, jadi gak enak nanyanya. Soalnya ini agak privasi." Ucapnya dengan berbelit-belit.
Amira yakin pasti Rania ingin bertanya soal foto Alkan dan Sesil yang sedang panas di sosial media itu. Apalqgi Rania adalah ratu gosip.
"Tanya aja langsung."
"Kakak ada hubungan apa sama Sesil?"
Kan...
Alkan menaikan alisnya, bingung. "Gak ada huhungan apa-apa."
"Tapi di akun lambe turah lagi rame tau, Kak. Soal foto Kakak sama Sesil."
"Lambe turah tuh apa?" Alkan dengan kepolosanya entah kebegoannya.
__ADS_1
"Masa gak tau, Kak?"
"Dia ini bule, Ran. Mana ngerti begituan." Akhirnya Amira menimbrung percakapan.
Mendengar kalimat dari Amira, Alkan tersenyum tipis.
"Oh, iya ya? Lambe turah itu biasanya buat ngegosipin artis, Kak. Nah tadi rame banget soal foto Kakak sama Sesil jadi pergosipan di instagram kayanya sih bakal nyampe sampai twitter juga atau facebook bisa jadi." Dia menjelaskan dengan panjang lebar.
"Oh... Saya gak tau soal itu. Tapi memang tadi Sesil ngajak saya foto bareng katanya untuk dokumentasi ke agensinya."
"Wah, rame tuh, Kak. Gimana?"
"Saya gak peduli sih. Orang saya gak merasa punya hubungan sama dia." Katanya dengan santai namun matanya menatap ke arah Amira yang sedang menyuap McFlurrynya.
"Loh, Kakak gak keberatan?" Tanyanya kembali.
Alkan diam dulu beberapa menit sebelum menjawab pertanyaan Rania, "Amira,"
"Hah?" Amira mendongakan kepalanya.
"Kamu keberatan gak?"
Amira bengong mendapat pertanyaan itu, "Keberatan apa?"
"Keberatam kalau ada yang gosipin saya ada hubungan sama wanita lain?" Alkan mengulangi dengan lebih jelas.
"Apa hubungannya sama saya?" Bukannya menjawab dia malah bertanya balik.
"Iya, kenapa malah nanya Ami?
""Karna yang ada hubungan sesungguhnya itu saya sama Amira, iya kan?" Katanya dengan santai namun Amira tidak santai, dia menendang kaki Alkan di bawah sana membuat Alkan mengaduh.
"Aduh!" Ringisan pria itu.
"Eh, kenapa Kak?" Rania yang jadi khawatir sedang Amira menampilkan watadosnya (wajah tanpa dosa).
"Anak curut tadi nendang kaki saya." Katanya dengan asal.
"Hah?"
"Udah ah, ayok pulang. Aku ngantuk." Amira berdiri mencoba mengakhiri obrolan ini dan menghindar dari kesalahannya.
"Ih masa udah balik aja? Baru juga jam 11."
"Udah ayok pulang. Kasian bayi butuh tidur." Kata Alkan lalu dia ikutan berdiri, "Ayok!" Ajaknya.
"Yaudah deh, ayok." Akhirnya Rania ikutan berdiri.
Dan jelas Amira yang duluan berjalan karna sudah mulai mengantuk. Alkan langsung menyusulnya menyelaraskan jalan mereka agar jalan. "Saya takut bayi tiba-tiba jatoh karna ngantuk." Alasannya untuk berjalan di samping Amira.
__ADS_1