
Amira disibukan dengan jadwalnya yang membuatnya lembur. Bahkan hubungannya dengan kasur menjadi sedikit renggang, jadi sering terpisah dikarenkan Amira harus kerja rodi dan tidurnya jadi berkurang.
Namun berbeda dengan hubungannya bersama Alkan, semenjak malam kala itu dia pulang dari agensi langsung menelpon dengan pemberitahuan bahwa Amira menerima lamarannya, dan yang sedikit membuatnya kesal adalah respon dari Alkan.
"Aku mau. Mau nikah sama kamu. Tapi, syaratnya habis aku tour konser." Ucap Amira dengan tegas dan segala keberaniannya setelah banyak membuat pertimbangan.
Bahkan, tadi dia sempat berlatih dulu di toilet, berlatih dengan dirinya sendiri di depan cermin. Padahal ini hanya sekedar pembicaraan di telpon tapi mengapa dia sangat gugup sih?
"KAK! BEN KENAPA TIDUR TERUS GAK BANGUN-BANGUN!"
Amira bisa mendengar suara teriakan Jia memasuki ruangan Alkan, dan bisa ditebak kalau lelaki ini sedang sibuk.
"Dia cuman tidur, Ji... Bukan meninggal. Stop berlebihan." Decaknya sebelum menjawab obrolan dari Amira.
Amira meremas bajunya, ketakutan kalau dia salah waktu padahal ini sudah menunjukan pukul 8 malam tapi ternyata laki-laki itu belum pulang ke rumahnya.
"Ami?" Panggilnya memastikan kalau Ami masih menyambungkan telponnya.
"Hah? Ya?"
"Oke, thanks, ya. Nanti aku telpon lagi, aku lagi mau ngurus pasien dulu."
Lalu telpon itu ditutup secara sepihak membuat Amira berkedip-kedip kaget, mengapa responnya begini saja?! Padahal dia sudah membayangkan bahwa Alkan pasti akan heboh dan bahkan dia sudah latihan selama sejam lebih, tau kalau begini saja sih dia tadi menelpon langsung saja tanpa membuat dramatis.
Dan sekarang Amira berada di Bandara, bersiap akan terbang ke kuala lumpur menggelarkan konsernya disana untuk yang pertama kali.
Amira sudah menyiapkan dan menggelarkan 15x di kota yang berbeda-beda dan hanya di kuala lumpur saja yang berbeda.
Helaan nafas tidak kunjung berhenti karna Amira sambil menatap ponselnya, menunggu pesan atau telpon masuk sebelum pemberangkatannya ke Negri sebrang itu.
"Nungguin apa sih? Telpon dari Alkan, ya?" Tanya Rania. Kali ini gadis ini mau tak mau harus bisa dipekerjakan karna jadwal padat Amira dan walau sedikit tidak berguna setidaknya terbantu sedikit.
"Iya,"
Rania mendelik, "Kemaren aja sok-sok'an jual mahal. Ternyata ujungnya suka juga." Sindirnya dengan datar.
Tak Amira tanggapi karna dia malas berdebat, dia rasanya ingin segera naik saja ke pesawat lalu tidur disana tapi matanya terus menatap ponsel menunggu seseorang mengabarinya.
"Mbak Amira?" Tanya seorang pria tinggi tegap dengan membawa paper bag.
__ADS_1
"Ya? Kenapa?"
Lelaki itu mengangguk lalu menyerahkan paper bag dari toko kue terkenal di Jakarta. "Ini dari Mas Alkan. Dia berpesan untuk menyerahkan pada Mbak Amira. Dan juga dia minta maaf gak bisa buka ponsel karna sedang mempersiapkan operasi pasien." Jelasnya membuat Amira sedikit mulai menenangkan diri.
"Oh..." Amira mengambil paper bag itu, lalu mengangguk, "Terimakasih, Pak."
"Sama-sama. Kalau gitu saya permisi dulu, mari." Lalu pria itu pergi tanpa berbicara hal lain lagi.
"Mau dong. Gue laper." Celetuk Rania.
Seperti biasa, Amira yang kelebihan kadar baiknya jelaslah dia akan menyerahkan paper bag itu pada Rania dan juga Leo yang mendekat ingin meminta.
...----------------...
Amira baru saja menghempaskan tubuhnya di kasur dalam pukul 1 malam. Konsernya baru saja beres tadi pada jam 11 membuatnya keletihan dan haus menerus. Rasanya badannya bagai sudah menjadi manusia jompo alias dimana-mana merasakan pegal apalagi dari tadi dia memakai heels tinggi.
Untungnya kesadarannya untuk bersih-bersih diri dan memakai skincare masih ada dalam dirinya. Dan sekarang dalam keadaan siap tidur, Amira merebahkan badannya dengan helaan nafas lega.
Namun sepertinya telponnya tidak mengizinkan Amira untuk terlelap dalam kantuknya karna ada suara telpon.
Amira meraba-raba sekitarnya untuk mencari letak ponselnya dan akhirnya ketemu, ketindih oleh pahanya. Mata Amira menyipit karna cahaya dari ponselnya karna kamar hotelnya itu gelap gulita. Nama Alkan terpampang jelas disana, membuat Amira langsung mengangkat video call itu.
Layar ponselnya menampilkan wajah Alkan yang letih, dia melepaskan kacamatanya dan masih memakai jas putihnya yang khas seorang dokter itu.
Amira menyalakan lampu yang berada di nakasnya agar sedikit meneranginya dan menampilkan wajahnya.
"Kamu udah mau tidur?" Tanyanya kembali.
Amira mengangguk, "Hmm..."
"Capek?"
Sepertinya lebih capek Alkan daripada Amira. Tapi kita tidak bisa mengukur kadar kecapek'an seseorang. Karna tiap orang itu berbeda-beda kekuatannya.
"Lumayan. Kamu katanya gak akan pegang pasien lagi? Tapi sekarang aku dapet kabar lagi kalau kamu nanganin operasi lagi."
Karna ini kedua Amira mendapat kabar. Satu saat di bandara oleh pesuruh Alkan dan tadi dari Ibunya Alkan yang mengirimkannya pesan.
"Hmmm..." Alkan meletakan ponselnya di meja lalu dia melepaskan jasnya dan ditaruh di kursi kerjanya. "Aku cuman bantu dikit-dikit dan ngejaga aja. Selebihnya dokter lain yang ngoperasi." jelasnya lalu dia duduk menyender sambil menatap ponselnya yang menampilkan Amira sedang tiduran dengan menatap ponsel.
__ADS_1
"Kamu gak pulang?"
"Pulang. Lagi nunggu jemputan. Aku agak gak sanggup kalau nyetir sendiri." ujarnya dengan kekeuhan kecil.
"Kamu udah makan?"
Amira mengangguk pelan, kantuknya mulai merayapinya. "Udah. Aku tadi makan yang kaya di upin ipin."
"Hm?"
"Nasi lemak."
Alkan terkekeuh kembali, dia tidak pernah menonton upin ipin tapi dia pernah memakan nasi lemak yang katanya terkenal di film kartun upin ipin.
"Enak?"
"Heeeum..." jawabnya dengan mulai menutup matanya karna tidak kuat menahan rasa kantuknya.
Alkan terkekeuh kembali, rasanya dia jadi sering tertawa hanya karna melihat Amira.
"Kamu kok cantik banget sih? Tidur doang cantiknta keterlaluan."
"Gombal." Dalam mata tertutup, Amira tersenyum tipis mendengar itu.
"Serius tau. Kamu kenapa gak pernah percaya?"
"Trust issues."
"Oke... Gapapa, aku suka sama orang yang pernah percayaan."
"Apasih?!"
"Tidur aja. Rest well, Mi." Katanya bak alunan pengantar tidur. Karna Amira memang benar-benar larut dalam letihnya yang membuatnya menjadi menidurkan dirinya.
Alkan menatap lama Amira yang tertidur dari ponselnya, rasanya dia memeluk Amira dan mendekapnya sepanjang malam. Bersama hingga pagi dan akan terua terulang ketika mereka sama-sama sudah menikah nanti.
"I love you. Aku matiin, ya? Supir aku udah nyampe di bawah." Pamit Alkan walau pria itu tahu kalau Amira tidak akan menjawab karna Amira sudah pergi ke alam mimpi yang entah sedang memimpikan apa.
Lalu telpon itu terputus dan Amira tidak menegakan ponselnya kembali karna dia membalikan posisi tidurnya menjadi ke arah lain, mencari kenyamanan.
__ADS_1