The Singer

The Singer
013. Sushi ow sushi


__ADS_3

Pemandangan yang Ami lihat hanyalah Alkan yang sedang bergelut fokus pada laptopnya. Entah sedang mengerjakan apa, karna sudah pasti Ami tidak mengerti. Kalah sedang diam begini, Ami jadi ingin memuji pria itu bahwa dia tampak sangat berkharisma. Auranya memancar terang lebih terang dari pada masa depan.


Lihat saja sekarang, dengan balutan kemeja kerjanya yang sangat pas pada tubuhnya itu terlihat keren apalagi ditambah baju bagian lengannya, dia gulung ke atas memperlihatkan jam tangan keluaran rolex yang bisa dipakai untuk beli satu motor. Ami jadi berpikir, orang ini sepertinya kalau daftar jadi artis pasti suka laku keras dengan menjual tampang tampannya. Ami jadi membayangkan kalau lelaki itu memainkan film boss-boss ganteng idaman seperti di film-film, tapi sayangnya sikapnya menyebalkan, menurut Ami. Tapi dia kan tidak perlu jadi artis dulu supaya merasakan feel menjadi bos, orang dia sudah menjadi bos dalam dunia nyata.


Ck, Amira sangat iri dalam garis takdir pria itu. Dia terlalu sempurna dalam ukuran manusia di bumi ini.


Ami dari tadi menguap bosan, rasa mengantuk berkelabut dalam matanya. Apalagi Ami type orang yang mudah tertidur dimana saja kalau dia sudah mengantuk. Dia jadi takut akan tertidur disini, apalagi di depannya ada manusia yang tidak bisa di percaya walau dia seperti orang sebenarnya, Ami masih mempunyai trust issues.


"Kamu kalau ngantuk tidur aja." Alkan berbicara namun matanya dan jarinya masih fokus menari pada laptop itu.


"Kamu kapan selesainya sih?" Bukannya tertidur saja. Dia malah bertanya karna ingin pulang.


"Masih banyak. Kalau saya lembur, kamu temenin saya ya?"


"Gila..." Celetuknya pelan namun masih bisa terdengar oleh Alkan.


"Sebentar lagi kok, sabar." Bujuknya.


"Sejam setengah lalu kamu bilang sebentar."


"Artian sebentar kita kan beda."


Ami menghelakan nafasnya untuk sekian kalinya, mungkin dalam hari ini sudah puluhan kali saking lelahnya.


Sekelebat pikirannya bermunculan, apa dia kabur saja ya? Tapi masalahnya tunggu. Tasnya kan di Mbaknya. Semua isi dompet berada di sana. Ami hanya menggenggam ponsel sebagai senjata.


Sial, dia memang tidak diizinkan kabur sih kalau sudah begini.


"Kamu udah laper?" Tanya Alkan, kali ini menatap Ami.


"Ya..." Jawabnya, padahal Ami bukan laper, hanya saja bosan dan mengantuk. Apalagi Ami itu type manusia yang jarang makan, dia makan kalau ingat saja.


"Kita order aja ya? Gapapa? Kayanya saya males kalau cari makan di luar."


"Suka-suka kamu aja lah." Ami sudah benar-benar pasrah.


Alkan mengambil telpon yang biasa digunakan untuk memanggil anak kantor di luar. "Cit, tolong masuk ke ruangan saya ya?" Pintanya lalu dia menutup, meletakkan kembali telepon itu.


Beberapa saat suara ketukan pintu terdengar di pintu keluar sana, memunculkan seseorang wanita yaitu Asisten Personal Alkan. "Ada apa, Pak?"


"Tolong pesenin makan buat saya, bisa?"


"Bisa. Mau beli apa, Pak?" Tanyanya.

__ADS_1


Alkan berjalan ke arah Ami sambil membawa laptopnya lalu duduk di samping Ami, dia menyimpan laptopnya terlebih dahulu di meja pendek depannya, "Kamu mau makan apa?" Tanya Alkan menghadap Ami.


Ami memundurkan badannya sedikit karna terlalu canggung, "Apa aja asal jangan nasi."


"Daun?"


Mendengar hal itu, Ami langsung melihat ke arah Alkan, "Bisa gak, kamu stop ngomongin hal yang berhubungan dengan kambing?"


"Padahal saya gak ngomongin kambing. Kamu aja yang sensitif. Atau jangan-jangan kamu beneran kambing ya?"


Ami mendengus, kesal. "Terserah."


"Sushi?" Tanyanya kembali.


"Sushi kan ada nasinya. Saya kan udah bilang gak mau nasi."


"Oke, sushi. Citra, tolong kamu pesenin 2 box sushi ya, kalau kamu mau juga boleh. Tawarin Lana juga." Pintanya lalu memberikan kartu debit pada Asistennya itu.


Sebenarnya Ami sudah tau pasti lelaki ini akan menyebalkan, jadi dia sudah tidak kaget amat, walau ada kagetnya sedikit.


Citra pergi meninggalkan kita berdua lagi dalam ruangannya yang membuat Ami mengantuk, seriusan. Kok bisa Alkan tahan bekerja di ruangan ini padahal ruangannya seperti obat tidur atau memang Aminya saja yang ngantukan.


 


Ami tersadar dari tidurnya, dia menyender di pundak seseorang membuatnya kaget. Membangunkan kepalanya untuk duduk tegap. Kalau, tidur sebentar kepalanya akan pening seperti sekarang, tiba-tiba pusing melanda.


"Hah?"


"Kamu nyender sama saya, padahal saya lagi kerja. Tau gak itu bikin pegel." Sindirnya, Ami jadi merasa bersalah.


"Oh... Sorry," Maafnya.


"Tanggung jawab."


Dia kebingungan, mau tanggung jawab gimana? Apa dia harus ganti pundaknya Alkan? Atau harus beli pundak baru?


"Gimana cara beli pundak?"


"Hah?" Kali ini gantian Alkan yang meng 'hah.'


"Katanya suruh tanggung jawab? Berarti saya harus ganti rugi kan?"


Alkan menepuk jidatnya, tidak habis pikir dengan pemikiran wanita di sampingnya ini

__ADS_1


"Maksud saya, kamu pijitin kek, begitu. Tapi ya sudahlah. Kayanya kamu butuh makan biar otak kamu sekarang ke isi." Katanya lalu menyimpan kembali laptop itu dan mengambil box berisi sushi itu, menyodorkan ke arah Ami dengan senang hati Ami ambil.


Ternyata begonya ini ada gunanya. Buktinya rencana modusnya Alkan menjadi gagal karna kebegoannya, baru kali ini Ami bangga menjadi sedikit bego.


"Saya tidur berapa lama deh? Kok gak ketauan Mbak Chika masuk nganterin makanan?" Tanya Ami dalam keheningan makan mereka.


"Lama. Makanya sampe saya pegel, kamunya aja kebo. Makanya gak kedengeran."


Ami berdecak, kesal. "Lagian kamu berapa lama lagi sih kerjanya? Saya mau pulang. Atau tolong pesenin taksi online dong. Kamu yang bayar tapinya."


"Kok saya yang harus bayar?"


"Ya karna saya gak ada uang." Katanya dengan suara tidak jelas karna sambil mengunyah.


"Masa artis kaya kamu gak ada uang?"


"Lagi bokek."


"Bokek tuh apa?"


"Semacam kadal." Ami malas menjelaskan, jadinya dia asal ucap saja.


"Hah?"


"Jadi kapan kamu beres?" Tannya tanpa niat menjelaskan soal perbokek'an tadi.


"Udah selesai kok. Habis beres kamu makan, kita langsung pulang."


"Beneran?"


"Keliahatannya di tampang saya, ada muka boong?" Tunjuknya pada mukanya sendiri, Ami langsung memperhatikan wajah pria di depannya. Hanya ada 1 kata yang bisa Ami jabarkan, tampan.


"Ada, banyak!" Ledeknya.


Alkan terkekeuh dengan sungutan itu, "Kamu ini emang biasa tidur jam awal ya? Kalau bangun jam berapa?"


"Jam 2 pagi."


"Serius?" Kagetnya mendengar jawaban Ami.


Ami hanya mengiyakan tanpa minat menceritakan yang lain.


"Terus ngapain aja?"

__ADS_1


"Bengong doang atau nonton film. Aduh, ngapain ya saya jelasin ini ke kamu. Gak penting banget, kan?" Katanya merutuki mulutnya sendiri.


"Gapapa sih, menurut saya. Saya suka dengernya kamu ceritain tentang kamu."  Kalimat itu jadi membuat Ami terdiam.


__ADS_2