The Singer

The Singer
009. Akal-akalan.


__ADS_3

Alkan menghampiri Ami yang sedang memainkan ponselnya, entah sedang melihat apa. Namun Alkan bisa melihat jika Ami sedang sibuk itu entah mengapa tingkat kecantiknya menjadi naik level, wajah fokusnya dengan datar itu terlihat menarik berkali lipat. Dia meletakan handphonenya ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan kotak makannya. Alkan juga bisa melihat gadis itu membawa makanan ayam teriyaki dan nasi.


"Hi!" Sapanya sambil menarik kursi di belakang ke depankan untuk dia duduki. "Saya gak bawa makan."


Ami menatap orang di sebelahnya yan tanpa izin, main duduk saja. "Terus? Apa hubungannya sama saya?"


"Ami... Bapak mau makan? Tadi Ami masak banyak kayanya cukup kalau bapak mau." Tegur Mbaknya.


"Ami yang masak?"


Managernya itu mengangguk, "Mau, Pak?"


"Ami mau ngasih? Saya takutnya dia keberatan, hahaha."


"Emang." Celetuknya membuat Mbaknya melotot, kesal.


"Kamu lupa sesuatu ya?" Pertanyaan itu membuat Ami memikirkan sesuatu dan langsung Ami ingat ancaman pria itu soal dia tidak boleh bersikap dingin.


"Kasih aja, Mbak." Suruh Ami pada managernya.


Manager Ami mengeluarkan kotak makan lagi yang kosong untuk diisi makanan yang akan diberikan pada Alkan. "Mbak Astrid gak makan?"


"Eh? Saya udah kenyang kok." Bohongnya. Padahal mereka membawa dua kotak makan untuk makan bareng-bareng. Tapi demi membuat citra yang baik, dia rela memberikan makanan itu kepada orang kaya yang bahkan bisa beli makanan itu yang lebih enak dari pada masakan Ami sendiri.


Alkan menerima makanan itu lalu berterima kasih kepada dua wanita itu dan yang menanggapi hanya Astrid seorang. Kalau Ami sih sibuk makan tak memperdulikan kehadiran seseorang di sampingnya.


"Kamu malem ini ada waktu? Saya mau ngajak kamu makan malam di luar." Ajaknya secara tiba-tiba.


"Pak, tapi malam ini jadwal bapak makan di rumah Ibu." Asistennya itu memperingatkan bosnya, takut bosnya lupa.


"Saya tau. Makanya saya ngajak Ami makan bareng. Kamu mau?"


Ami menatap lebih dulu Mbaknya sebelum menjawab ajakan Alkan. "Maaf, Saya sibuk, Pak. Mungkin bapak boleh cari orang lain aja."


"Emangnya kamu ada rencana apa malam ini?"


"Tidur." Katanya singkat, padat, mengkode untuk bisa tidak kita selesaikan obrolan ini.

__ADS_1


"Oke lain kali akan saya coba lagi." Katanya lalu kembali fokus pada makannanya.


Makanan itu tandas habis. Sepertinya Alkan tidak makan seharian, mungkin. Habisnya, benar-benar habis tidak tersisa sedangkan Ami punya kebiasaan menyisakan sedikit saja makanan.


"Ami, saya boleh pinjam ponsel kamu?" Pintanya.


"Buat apa?" Ami juga sudah selesai makan. Bahkan sudah menyimpan kotak makannya kembali ke dalam tas.


"Saya lupa nyimpen ponsel dimana. Pinjam sebentar boleh?"


Ami menaikan alisnya, bingung. Tapi dia yang kelewat polos menyodorkan handphone itu tanpa curiga. Lelaki itu mengetikan sesuatu dari handphone Ami lalu suara dering telpon muncul dari belakang mereka.


Handphone Alkan berada di tas Asistennya. Asistennya yang sedang sibuk mengobrol dengan seseorang terkejut mendengar suara telpon masuk.


"Oh, ternyata ada di asisten saya." Katanya dengan tertawa pelan, "Nih, terima kasih ya atas makanannya dan nomornya sudah saya save."


Alkan menyerahkan kotak makanan itu kepada Asistennya yang langsung di terima oleh Asistennya walau dengan kebingungan.


"Kotak makan saya mau dikemanain?"


"Saya cuci. Nanti saya balikin kalau kita ketemu lagi. Habis ini saya ada kerjaan lain." Jelasnya.


"Oiya," Lelaki itu memajukan badannya, berniat membisikan sesuatu. "Kalau kamu emang gak mau dikenal sebagai Amira Bali. Maka mari kenalan dengan cara baru. Saya Alkan, senang bertemu dengan kamu." Dia memundurkan wajahnya lalu menyodorkan lengannya, mengajak Ami berjabat tangan.


Ami dengan pelan membalas jabatan tangan itu. Jempol Alkan mengelus tangan Ami dengan halus, membuat Ami buru-buru melepaskan jabatan tangan itu.


"Saya pergi dulu. See ya?"


Ami hanya mengangguk lalu menatap kepergian Alkan dan dua pekerjanya.


...----------------...


Perjalanan pulangnya melelahkan, ditambah jalanan macet membuat kepalanya pening. Ami bosan, dia ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya, merebahkan badannya yang kelelahan ini.


Jam empat sore memang jam yang sebaiknya tidak dipakai untuk berada dalam perjalanan, karna ini adalah jam para pekerja pulang. Sudah dipastikan macetnya bagaimana, rasanya seperti terjebak dalam neraka walau Ami belum pernah ke neraka sih.


"Ami, kamu ada hubungan apa sih sama Alkan?" Mbaknya yang sedang menyetir akhirnya membuka obrolan, mungkin dari pada mendengar suara klakson di luar sana mending mengobrol.

__ADS_1


"Gak ada hububgan apa-apa, Mbak." Suara Ami sudah lemas, mengantuk.


"Masa sih? Dia keliatannya suka sama kamu."


"Ngaco."


Mobil ini berjalan maju dengan pelan sedari tadi. Maju perlahan lalu diam lama. Seperti itu saja terus.


"Abisnya dia gencar banget ngedeketin kamu." Masih dengan rasa penasarannya Mbak Astrid.


"Ya gak taulah, Mbak. Aku pusing, gak mikirin itu."


"Lumayan tau, Mi. Dia bisa jadi aset kamu." Katanya sambil menekan klakson karna ada motor yang hampir menyalip.


"Aset apa sih? Emangnya dia apaan coba?"


"Ck, kamu nih pura-pura gak ngerti. Jangan gitu deh."


Ami sudah ada firasat bahwa Mbaknya pasti akan mengomel. Mengomentari segala tingkah laku Amira.


"Gitu gimana sih, Mbak?"


"Ya gitu. Sikap kamu dingin banget. Gak baik tau, itu bisa bikin citra kamu beneran buruk nanti." Ceramahnya.


"Iya, maaf."


"Lain kali jangan gitu. Gak ada salahnya kamu coba buat membuka diri ke seseorang. Gak semua orang jahat kaya yang ada di pikiran kamu kali."


Bagaimana Ami tidak berpikiran kalau orang itu tidak jahat? Kalau Mbaknya sendiri yang tersisa itu jahat. Mungkin, akhir-akhir ini saja dia menjadi baik karna Ami menghasilkan uang.


Ketika keluarganya hancur, Ami benar-benar tidak dianggap. Benar-benar di perlakukan seperti sampah. Ami masih menyimpan rasa sakit itu, namun dia kepalang sayang pada anak Mbaknya itu walau dia terkadang kesal pada Mbak Astrid dan Rania. Mereka benar-benar memanfaatkannya.


Ami bekerja gila-gilaan demi mempertahankan hidup mewah mereka, yang bahkan Ami sendiri terkadang tidak menikmati kemewahan yang dia hasilkan. Mungkin, orang-orang akan meyuruhnya bersyukur, dan kalau Ami jujur dia sangat amat bersyukur masih menyimpan sisa bakatnya yang bisa dia pakai demi menghidupkan kembali hidupnya yang walau tidak sama seperti dulu.


Ibu dan Ayahnya, Ami tidak bisa mengembalikan mereka. Rasa sesaknya kembali menjalar di hatinya. Ami rasanya ingin menangis, namun harus dia tahan karna dia sedang bersama Mbaknya.


"Mi, kamu denger Mbak kan?" Suara Mbaknya menyadarkan lamunan Ami.

__ADS_1


"Ya, Mbak. Aku denger."


"Oke. Kamu harus nurut apa kata Mbak ya? Kamu inget kan kamu disini udah gak punya siapa-siapa lagi selain Mbak."


__ADS_2