The Singer

The Singer
025. Who is she?


__ADS_3

Suara langkah kaki memasuki ruangan kantor Your Glow. Suara heelsnya selalu bisa menarik atensi orang-orang untuk meliriknya, terlebih gadis ini terbiasa memakai baju yang kalau kata orang kurang bahan. Contohnya sekarang, dia memakai crop top dan rok sepaha, heels pendeknya mengetuk lantai. Kulit putihnya kontras dengan crop top hitamnya itu, sedangkan roknya yang berwarna biru tua itu sangat cocok menyesuaikan dengan atasannya.


Rambut panjang merahnya bergelombang, sampai ke pinggangnya yang ramping membuat perempuan di sekitar iri menginginkan. Dia berhenti di tempat Asisten seorang CEO perusahaan ini. "Ibu ada?" Gadis yang asalnya fokus pada komputernya itu mendongak menatap kedatangan Jia.


"Eh, ada, Kak. Mau langsung masuk?"


Jia mengangguk lalu berjalan membuka pintu itu, ketukan langkahnya masih terdengar ciri khas Jiani ketika sedang kesal. Jalannya akan menjadi cepat dan berisik.


"Jia..." Wanita paruh baya itu entah menyapanya atau menegurnya. "Kebiasaan kamu itu kalau lagi kesal pasti jalannya akan membuat orang-orang tidak fokus saja. Ingat ini kantor bukan tempat fashion show yang selalu kamu datangi. Banyak orang yang lagi konsentrasi tapi malah keganggu sama suara jalan kamu."


"Maaf, Bu. Jia mau cari Alkan tapi ternyata disini gak ada. Di rumah sakit juga gak ada." Katanya dengan gerutuan kesal lalu duduk di sofa sana.


Ibunya Alkan menggeleng-gelengkan kepalanya memaklumi tingkah gadis manja ini, "Kamu ini. Mau diapakan Alkannya?"


"Mau Jia marahin! Enak aja dia main punya hubungan sama gadis lain tanpa ngomong dulu ke Jia!" Dia mulai menampikan wajah cemberutnya.


"Masih aja protektif ya? Padahal sudah jadi mantan." Sindir Ibunya.


"Ibuuuuu!"


"Bercanda, sayang. Alkan lagi di luar kota. Bentar lagi pulang, tadi dia bilang katanya lagi di jalan mau kesini."


"Serius?"


"Ya... kamu bisa jewer dia sesuka kamu.


Ibunya Alkan sejak pertama kali mulai menganggap Jia anaknya, jadi lebih sering membela Jia dari pada anak kandungnya sendiri. Jia dan adiknya Alkan itu sudah seperti kembaran, sedangkan Alkan anak pungut.


Jiani tersenyum gembira saat ini. "Dia pacarnya Alkan, Bu?"


"Siapa?"


"Sesil, Sesil itu. Kok Jia punya firasat gak enak ya ke dia?" Katanya sambil berpikir.


"Hah? Kamu dapat informasi darimana sih?"


"Lambe turah."

__ADS_1


"Sejak kapan kamu mantengin akun begituan?" Tanyanya dengan heran.


"Fansnya Jia tag-tag Jia terus disana. Bawa-bawa Jia! Kirain Jia itu bukan Alkan yang diomongin, ternyata Alkan. Kalau Alkan sih, jelaslah Jia marah!"


Ibunya Alkan bisa melihat wajah cantik di depannya dipenuhi kekesalan yang terpendam. Jia ini anaknya mudah tersulut emosi. Kalau sedang marah dia akan seperti kucing garong, mana mukanya memang mirip kucing, matanya juga sipit seperti kucing. Namun, tetap menggemaskan dimata Ibunya.


"Kamu ini ada-ada aja. Jangan liatin begituan ah, gak baik."


"Ngga, kok. Jia cuman baca sekilas aja. Ini Alkannya masih lama gak sih, Bu?"


"Sebentar lagi tunggu aja."


"Lama ih! Jia ada janji nih sama orang." Ucapnya sambil melirik jam tangan kecil yang membalut tangan kecil itu.


"Yasudah, nanti lagi aja."


"Iya, deh kayanya. Jia pulang aja, ya? Nanti malam kalau sempat Jia mampir ke rumah Ibu," Gadis itu bangkit lalu mendekat ke meja tempat Ibunya bekerja lalu mengecup pipi Ibunya itu, "Bye, Ibu!" Pamitnya lalu pergi sambil berlari kecil.


"Bye, hati-hati, Jia!" Tegur Ibunya karna mengingat Jia memakai heels tapi dia berlari-lari, ngeri takut jatuh.


"Eh, kok sebentar, Kak?" Tanya Asisten Ibunya itu ketika Jia keluar.


"Bye!" Lalu mengumpat karna memang dia sedang menjadi babu sih, Jia itu punya kebiasaan asal ceplas-ceplos kepada orang yang sudah dikenalnya.


...----------------...


"Dibilang saya gak mau! Kenapa sih kamu maksa banget?" Amira sudah kelewat kesal karna ajakan laki-laki itu. Ketika di Airport lelaki ini menculiknya, mengajaknya untuk pulang bersama. Beralibi akan mengantarkannya langsung ke rumahnya.


Tapi kenyataannya apa? Dia malah mengajaknya ke kantor Ibunya ini karna ingin menyapa dulu Ibunya. Tidak kesal gimana coba? Dia bahkan sekalian ingin mengenalkan Amira, hey! Amira mana mau. Dia malu lah, mana dia hanya memakai kaos dan celana jeans hitam lusuh.


Mereka sekarang berada di teras lobby kantor, sedang beradu argumen, tarik-menarik, saling memaksa tetap pada pendirian masing-masing.


"Sebentar doang ayok! Janji sebentar doang."


"Bukan masalah sebentarnya, Alkan. Tapi saya malu kalau ketemu Ibu kamu ditambah penampilan saya gak banget." Jelasnya mulai lelah menolak.


"Penampilan kenapa sih? Biasa aja perasaan."

__ADS_1


"Gak mau, pokoknya gak mau. Udahlah. Saya nunggu di mobil aja."


"Jangan dong! Ayok ikut masuk aja gak akan apa-apa." Alkan masih memaksa.


Bahkan para satpam yang menjaga disana menonton tingkah bosnya dan artis sedang saling beradu cekcok.


"Malu tau gak sih? Diliatin orang."


"Yaudah kalau malu, makanya ayok masuk ke dalam. Sebentar doang ini kok." Alkan malah semakin membujuknya, bukannya menyerah.


"Ya, mending saya diem di mobil lah!"


"Mending masuk."


"Di mobil."


"Kenapa sih kamu keras kepala banget?"


"Ya saya maluuuu!"


"Gak usah malu. Ibu saya baik, kamu gak akan digigit sama dia ini." Tetap berusaha membujuk.


Amira sekarang dalam hatinya berdoa; Ya Tuhan, berikanlah hamba pertolongan agar tidak jadi masuk kesana. Dia terus berdoa begitu, siapa tau dikabulkan. Kalau pun tidak, yasudah ganti saja doanya jadi Alkan menyerah untuk mengajaknya.


"Bukan masalah gigitnya. Saya lagi jelek, jadi gak mau."


"Emangnya ngapain sih cantik-cantik? Saya cuman mau nyapa Ibu saya terus kamu ikut bukan mau ngenalin kamu sebagai calon menantunya." Katanya membuat Amira tersadar seketika itu juga.


Iya, juga ya, ngapain dia repot-repot amat ingin membuat impression pertama kali dengan penampilan yang baik? Yang penting kan prilaku dia yang baik saja. Lagian Ibunya Alkan bukan presiden yang harus berpenampilan dengan sopan, jadi harusnya santai aua kan? Tapi tetap saja. Rasanya entah mengapa, dia ingin terlihat bagus di mata ibumya Alkan nanti.


"Ayok..." Masih dengan ajakannya.


"Tapi janji sebentar aja kan?"


"Iya..." Katanya dengan yakin. Berdoa saja benar-benar sebentar.


Ketika mereka sudah membalik ingin masuk ke dalam, ada teriakan seorang perempuan memanggil nama Alkan. "Kak Alkan!"

__ADS_1


Di depan sana. Perempuan cantik semampai, memanggil Alkan. Amira seperti tidak asing dengan wajah perempuan itu, dia merasa mengenalinya. Dia ingat, dia pernah melihatnya ketika di google. Kakaknya Kaili Wu dan dia adalah Jiani Wu yang sedang berjalan mengarah ke arah mereka.


Dia berlari kecil dengan heelsnya yang mengetuk-etukan lantai. Amira jadi ngeri sendiri takut gadis itu jadi keseleo. Tapi yang menjadi fokus Amira adalah mengapa, dia memanggil Alkan dengan sebutan Kak?


__ADS_2