
Amira sudah membayangkan akan terjadi seperti ini, semua mata karyawan yang bekerja di perusahaan ini pasti akan menatap ke arahnya dengan tatapan bingung apalagi dia sedang bersanding melangkah dengan anak bos mereka atau mungkin bisa disebut bos mereka juga.
Dia berjalan dengan gugup, mereka dia diberi ujian dengan dua kali lipat menerima kegugupan ini? Ini lebih dari yang biasa dia lakukan saat akan manggung mengantarkan suaranya untuk dinikmati para fansnya. Ini lebih dari ketika dia diomeli oleh Mbaknya, karna jika diomeli Mbaknya dia akan diam saja yang sebenarnya tidak mendengarkan perkataan Mbaknya itu.
Balik lagi ke topik, Amira sudah yakin. Mereka akan mulai menyebarkan gosip, karna bahwasannya manusia tak pernah luput dari menggosipkan seseorang. Apalagi soal artis, herannya mengapa dia senang sekali mengurusi hidup orang lain padahal hidupnya saja tidak keurus. Tapi, yasudahlah mungkin itu hiburan bagi mereka kalau ketidak becusan mengurus hidup yang memang agak brengsek ini.
Alkan menyapa asisten personal Ibunya. Gadis berambut itu tersenyum dengan hangat menyambut mereka, dia sempat juga melemparkan senyum pada Amira membuat Amira membalas senyuman itu.
Alkan masuk ke dalam ruangan bernuansa putih serta dihias oleh tanaman hijau di setiap pojok sana. Wanita cantik yang sudah menua itu masih rajin duduk, bergelut dengan komputernya mengurusi pekerjaan yang tidak ada hentinya itu.
"Ibu, Alkan pulang." Sapanya ketika mereka memasuki ruangan ini.
"Hi, anak Ibu yang paling tampan." Ibunya melepaskan kacatama yang bertengger di hidungnya itu, dia berdiri menghampiri kedua orang itu.
Memeluk Alkan dengan hangat, lalu beralih pada Amira. "Hallo, siapa ini?" Sapanya tersenyum ramah pada Amira.
Berbanding balik dengan Jia, Ibunya Alkan menyapanya dengan hangat dan ramah. Amira menyambut dengan baik pelukan itu, dia jadi merindukan Ibunya karna pelukan itu.
"Saya Amira, Tante." Ketika pelukannya terlepas, dia memperkenalkan dirinya.
"Panggil Ibu saja. Kalau itu saya udah kenal. Maksud saya, kamu siapa itu. Siapanya Alkan sampai berani datang bersama Alkan begini?" Katanya membuat Amira kebingungan lantas melirik ke arah Alkan.
"Ini yang waktu aku bilang calon pacar, Bu."
"Yang ini?" Tunjuknya pada Amira sambil menyipitkan matanya yang sedikit terlihat kerutan. "Keren. Anak Ibu selalu keren milih calon." Candanya dengan guratan tawa.
Dia menghembuskan nafasnya dengan tenang. Dia kira akan menghadapi drama kedua kalinya seperti di bawah tadi. Tapi ternyata tidak, sepertinya.
"Ayok, duduk." Ajak Ibunya Alkan, menyuruh mereka duduk di sofa yang pernah Amira duduki itu untuk menunggu Alkan pulang dan makan bersama disana. "Kalian sudah makan?" Tanyanya ketika mereka sudah duduk.
"Udah, Ibu udah?"
__ADS_1
"Belum. Ibu baru aja tadi pesen ke Maya." Jelasnya lalu meminum minumannya dari botol minumnya. "Tadi Jia mencarimu."
"Ya, tadi udah ketemu."
"Bagus kalau gitu. Kamu pasti diserang habis-habisan."
"Ya, seperti biasanya."
Ibu itu tertawa membuat Amira terpana seketika, sekarang Amira tahu dimana Alkan mendapatkan ketampanan itu. Mereka cukup mirip, Alkan sangat mirip dengan Ibunya ini. Dari mulai hidung dan matanya benar-benar mirip.
"Amira, bagaimana acara di Solo kemarin?" Tanyanya dengan diselipkan senyuman manis.
"Lancar, Tante."
"Ibu," Koreksi Ibunya Alkan, "Panggil Ibu saja. Saya lebih suka dipanggil Ibu dari pada Tante." Jelasnya lebih detail.
"Oiya, Ibu..." Katanya dengan gugup namun mendapat respon baik dari Ibunya Alkan.
"Kamu suka minum Teh?" Ibunya Alkan kembali membuka topik obrolan.
"Gak terlalu, Bu."
"Setiap weekend kalau ada waktu. Ibu selalu menyempatkan meminum teh di Bogor bersama dengan Jia. Disana, saya membuat tempat khusus untuk meminum teh. Kapan-kapan kamu harus ikut, ya? Saya akan kirimkan undangan minum tehnya."
"Pasti saya mau kok. Pasti akan menyenangkan," Dia menerima undangan itu.
Dia juga ingin merasakan membuka diri pada orang-orang baru. Apalagi Ibunya Alkan terlihat seperti Ibu-ibu yang sangat menyayangi anaknya, akan terlihat mengasyikan kalau dia bisa mendekatkan dirinya, akan mengasyikan juga dia bisa kembali merasakan kehangatan sang Ibu yang sudah lama tidak Ami dapatkan.
"Tapi tidak dengan Alkan, ya. Ini hanya khusus perempuan. Terkadang para lelaki suka menghancurkan suasana." Sindirnya.
"Yang suka menghancurkan itu Arvin, Bu. Bukan Alkan."
__ADS_1
"Kalian sama saja tengilnya." Katanya.
Arvin adalah adik Alkan yang sedang menempuh pendidikan di negara asing sana.
Amira terkekeuh mendengar itu. Perseteruan Ibu dan Anak memang akan selalu ada mau itu dari kalangan mana pun.
"Dan juga, kapan-kapan kita Dinner ya? Atau mau shopping? Atau kamu pasti sudah dibooking duluan shopping bareng Jia, ya? Anak itu punya kebiasaan ketika bertemu ingin mengenal orang baru akan mengajaknya berbelanja." Katanya dengan senyuman geli.
Lihat, betapa Ibunya Alkan mengenal gadis bernama Jiani Wu itu. Amira jadi semakin penasaran seberapa lama mereka saling mengenal satu sama lain?
"Iya, tadi dia langsung ngajak Ami shopping sekalian menyeleksinya katanya."
Ibunya ketika mendengar itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maafkan sifat keposesifan Jia, ya? Itu adalah bentuk perlindungan pada orang yang dia sayang. Jia sudah menganggap Alkan kakaknya sendiri."
Kakak namun pernah berpacaran ya? Gumam Amira. Dia jadi semakin penasaran soal hubungan antara mereka. Bahkan Amira jadi iri melihat bakat kedekatan gadis ini pada keluarga Alkan.
"Gapapa. Saya memakluminya kok, apalagi Jiani nganggap Alkan sebagai kakaknya." Dia masih mempertahankan senyumannya.
Ibunya memperhatikan Amira beberapa lama membuat Amira jadi kikuk sendiri, "Amira." Panggilnya lembut khas seorang wanita tua memanggil anaknya.
"Ya, Bu?" Suara Amira yang lembut terdengar halus di telinga Ibunya Alkan.
"Kamu suka anak saya? Saya agak heran aja dia ini bilang kamu calon pacarnya, memangnya kamu mau sama dia?"
Alkan mendengar itu menatap Amira ingin tahu dengan jawaban yang akan dikeluarkan perempuan yang sedang duduk di sampingnya ini. Bahkan Ibunya saja juga penasaran ingin mengetahui jawaban Amira.
Amira kelimpungan mencari jawaban yang pas, jelas tidak bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah dia juga menyukai Alkan? Atau hanya dia terbawa dengan rasa penasarannya?Lantas jika dia menjawab tidak? Apa dia mematahkan harapan para orang disini? Atau jika dia menjawab iya, apa dia akan membohongi dirinya sendiri?
Pertanyaan ini terlalu sulit dari pada ujian matematikanya ketika dulu dia duduk dibangku sekolah.
Amira menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab, "Saya... gak tau, Bu. Atau mungkin belum?" Katanya dengan penuh kegugupan melandanya.
__ADS_1
Alkan dan Ibunya yang mendengar itu malah tersenyum tipis entah apa maksudnya. Amira selalu bingung dalam situasi ketika dekat dengan Alkan. Lelaki ini selalu menariknya ke dalam teka-teki.