The Singer

The Singer
032. Bingo


__ADS_3

Alkan masih belum beranjak ke rumah sakit. Dia masih membereskan kerjaanya di perusahaan ibunya. Dari tadi dia bolak-balik mengurus kerjaan yang tertunda karna dia ikut ke Solo.


"Jadi kamu ikut ke Fashion Week di Paris?"


"Iya, Kak eh Pak, Saya udah daftar sama ngirim dua model kesana, selebihnya bapak bisa baca yang udah saya tulis di email."


Alkan mengangguk-anggukan kepalanya sambil membaca file yang diberikan Jasmine.


"Btw, Pak. Saya mau nanya boleh gak?" Mereka sedang makan siang di luar, Alkan sengaja ngajak bareng Jasmine bareng.


Restoran bertema Jepang ini sejuk di tambah cukup sepi hanya terisi beberapa orang.


"Nanya apa? Di luar kerjaan?"


Alkan sudah mengenal Jasmine ketika sejak kecil, karna Jasmine adalah anak dari teman ibunya dan mereka sempat bertetanggan dulu sebelum Ibunya meninggal. Alkan bahkan sudah menganggap Jasmine seperti adiknya sendiri sama seperti Jia, bahkan kedua gadis ini saja sangat akrab dalam membahas fashion. Ditambah Jasmine adalah ketua designer di perusahaan Ibunya Alkan.


"Iya, kamu ada hubungan sama Sesil, Kak?" Tanyanya sambil menyuap.


"Hm? Gak ada. Itu gosip doang."


"Kalau Amira? Kemarin heboh tuh satu kantor ngegosipin kalian."


Memang isi di kantor Ibunya itu biang gosip. Bahkan sinyal internet saja kalah dengan kecepatan gosip itu menyebar ke seluruh kantor atau bahkan bisa keluar kantor.


"Kalau itu sih, bisa jadi."


"Bisa jadi, bisa jadi. Emangnya kita lagi main game apa?" Katanya dengan nada kesal.


Alkan terkekeuh pelan, "Saya juga gak tau, Min. Lagi ngejalanin aja, menurut kamu gimana?"


"Sama kaya pas kamu nanya soal Jia. No comment. Hubungan kamu ini, jadi ya terserah kamu. Asal jangan jadi buaya aja." Peringatnya.


"Memangnya kamu pernah lihat saya jadi buaya nyakitin perempuan."


Gadis itu menyimpan sumpitnya, lalu bersedekap dada. "Sebenarnya Kak, tanpa kamu jadi buaya aja, kalau kamu punya pacar pasti ada aja cewek yang patah hati. Ya jadinya mereka sakit sendiri deh, padahal kamu gak ngapa-ngapain dan kamu juga gak tau soal perasaan mereka."


"Sama kaya kamu, ya? Ngagumin orang tanpa dia tau."

__ADS_1


Jasmine berdecak dengan kesal, "Ck, gak usah diingetin! Udah tau. By the way, dia apa kabar, ya?"


"Siapa?"


"Sahabat terbaik kamu."


"Baik, dia masih di singapore dan masih langgeng sama pacarnya, kabarnya sih mau nikah. Kamu gimana?"


"Aku nanyain kabarnya doang! Kamu malah merembet kemana-mana."


Alkan tergelak mendengar omelan itu. Jasmine menyukai sahabatnya sejak gadis itu dalam masa remaja, bahkan sepertinya sampai sekarang masih menyimpan perasaan itu. Alkan jadi teringat pertama kali perempuan itu patah hati namun tetap setia mengagumi sahabatnya sampai dia menolak semua lelaki yang pernah dekat dengannya, hanya beralibi karna dia ingin sendiri dulu.


"Udahlah. Kamu move on aja."


"Aku udah move on kok!"


Bohongnya. Alkan tahu gadis itu tidak bisa move on, bahkan terkadang masih suka stalking akun instagram sahabatnya.


"Iya, iya. Percaya. Percaya udah move on sama orang yang sampe sekarang masih aja jomblo."


"Kamu juga jomblo, terakhir pacaran sama Jia gak pernah deket sama cewek lagi. Baru aja akhir-akhir ini kabar kamu deket sama cewek." Sindirnya.


"Kok bisa kamu suka sama dia? Yang, euh... Sorry bukan aku maksud ngejudge, tapi dia paling beda sama deretan mantan kamu."


"Justru karna itu. Dia beda dari yang lain. Keren kan?"


"Ya, lumayanlah. Cuman aku kasihan aja sama Amira pastinya. Dia terperangkap sama buaya pro. Pasti kamu yang maksa-maksa dia."


"Fitnah."


Well, walau faktanya dia sedikit juga memaksa Amira. Tapi kalau tidak, hubungan mereka tidak akan maju-maju kan?


...----------------...


Lokasi syuting itu ramai oleh crew. Sesil sekarang sedang duduk di belakang, mereka sedang break syuting. Sesil mendapat tawaran series adaptasi aplikasi dan adaptasi cerita novel.


Gerah, dari tadi dia protes kegerahan karna mereka sedang syuting di lapangan. Dari tadi dia mengipasi wajahnya yang panas di tambah make upnya, rasanya dia ingin menghapus make upnya dan berenang mendinginkan badannya.

__ADS_1


Kepalanya bahkan sudah pusing melihat orang-orang yang berteriak-teriak ditambah aktingnya yang mengharuskan dia berteriak-teriak.


Dia sedang syuting film bertema horror. Maka dari itu suaranya diperlukan untuk menjerit-jerit seakan ketakutan setan, apesnya syuting film setan pun tidak di malam hari saja. Di siang hari juga dan cuaca hari ini benar-benar panas bagai simulasi neraka.


"Sil! Mau makan gak?" Tanya manajernya, menghampiri Sesil dan duduk di samping gadis itu yang sedang mengcepol rambutnya.


"Nggak." Gelengnya.


"Ada paket nih! Katanya buat lo gak tau dari siapa. Lo pesen sesuatu? Tadinya mau gue buang tapi takut lo emang pesen sesuatu."


"Kenapa mau dibuang sih?" Sesil mengambil paket berukuran kecil itu.


"Takut hal macem-macem yang membahayakan lo." Katanya berjaga-jaga.


"Ini emang gue pesen."


Sesil membuka paket itu tanpa bantuan alat apa pun. Kotak berukuran kecil, entah apa itu isinya. Sesil langsung membukanya dan menemukan sebuah flashdisk. Raut wajah bingung Sesil terpancar lalu dia mengambil kertas yang di dalamnya.


Kertas itu berisi tulisan tangan jelek. "Ini yang lo cari udah dapet. Jangan lupa bayaran fullnya."


"Lo ngapain beli flashdisk?"


"Punya Marga. Lo ada laptop? Minjem dong." Tanyanya pada manajernya.


Marga adalah sahabatnya yang penuh tato dalan tubuhnya itu.


"Bentar." Katanya lalu beranjak pergi untuk mengambil laptop.


Sesil tidak tidak sabaran ingin segera membuka flashdisk itu sambil melirik-lirik ke belakang menunggu manajernya kembali membawa laptop.


"Nih." Katanya sambil menyodorkan laptop berlogo apel kegigit monyet itu.


Sesil langsung mengambilnya dan menyimpannya di pangkuannya. Gadis itu dengan cepat memasukan flashdisk itu. Ketika flashdisk itu masuk, jarinya dengan lincah membuka file dari flashdisk itu yang berisi berita-berita yang sempat terhapus dan disembunyikan oleh Amira.


Sesil berdecak, pantas saja gadis itu bisa jadj artis dengan tenang dan damai. Ternyata fansnya belum tau kelakuan keluarganya, ya? Sesil jadi tidak sabar untuk menyebarkan berita ini. Ini segera melihat keredupan gadis itu dan langsung dijauhi oleh Alkan, apalagi gosipnya Alkan sangat membenci soal perkorupsian, kalau tahu bapaknya Amira pernah mempunyai jejak sebagai koruptor bagaimana, ya responnya. Sesil tidak sabaran dengan hal itu.


"Lo bisa bantuin gue mau nyebar ini?" Tanya Sesil pada manajernya.

__ADS_1


Manajernya memperhatikan laptop itu, "Lo udah gila? Jangan cari masalah deh."


"Yaudah kalau gak bisa tinggal bilang. Gak usah ngatur. Gue bisa sendiri." Katanya lalu menelpon seseorang untuk meminta bantuan.


__ADS_2