
Ingin tahu apa yang mengejutkan dan membuat Amira kesal? Amira sudah menebak kalau laki-laki ini sudah pasti akan ada saja tingkah menyebalkannya, buktinya, sekarang Amira berada di restoran bintang 5. Sebenarnya dia tidak masalah diajak kemari, yang menjadi masalah adalah penampilannya malam ini.
Melihat penampilan seseorang yang sangat mewah dan elegan membuat Amira merinding seketika karna berbanding balik dengannya. Masih mending lelaki itu walau pun hanya menggunakan kaos dan jeans namun terlihat menawan dan tampan sekaligus rapih. Sedangkan Amira? Menggunakan baju tidur minion pendeknya yang dibalut hoodie kebesaran dan juga sendal bulu-bulu berwarna pink ikut melangkah bersama kakinya. Amira rasanya ingin menangis saja. Ditambah bahkan dia cuci muka saja tidak tadi, rambutnya masih agak acak-acakan walau sudah dia sisir menggunakan jarinya. Wajahnya yang tanpa menggunakan make up apa pun bahkan skincare saja tidak.
Wajahnya cemberut, kesal. Alkan yang melihat itu malah terkekeuh membuat Ami semakin sebal ingin menendang lelaki itu kalau bisa.
"Kenapa sih mukanya di tekuk begitu?"
Lihat? Bahkan lelaki itu sangat tidak sadar diri. harus kah dia menimpuk kepala lelaki itu dengan vas bunga yang berada di meja mereka? Mungkin kalau Ami gila dia akan melakukan hal itu.
"Kamu gila ya? Ngajak saya kesini dengan keadaan begini?" Tanya Ami sedikit berbisik takut terdengar orang lain.
Pelayan itu datang dengan baju khasnya, membawa kertas untuk mencatat pesanan mereka.
"Selamat malam! Ingin pesan apa?" Tanyanya dengan ramah.
"Gila kenapa sih?" Alkan sambil membolak-balikan buku menu itu. "Kamu mau pesen apa?"
Amira tidak menjawab, sudah kepalang kesal. Pelayan itu menatap Amira dan sudah dipastikan pasti mengenal Ami. Semoga restoran ini profesional dalam bekerja tidak menyebarkan gosip aneh-aneh nantinya.
"Kamu mau pesen apa?" Tanyanya kembali dengan intonasi tenang.
"Apa aja yang penting bisa dimakan."
Alkan menatapnya sebentar lalu kembali membaca buku menu itu. Dia menyebutkan sesuatu makanan yang tidak Ami tahu, karna ini adalah restoran bertema Italia. Lalu pelayan itu pergi meninggalkan mereka dan menyuruh menunggu.
"Memangnya ada yang salah disini? Kamu gak suka dibawa kesini?" Kembali kepada topik soal dia sebal.
"Kamu pikir aja sendiri. Penampilan saya kaya begini malah dibawa kesini." Amira membuka ponselnya karna mendapatkan pesan dari Mbaknya, menanyakan keberadaanya.
"Penampilan kamu? Perasaan saya liat biasa aja."
__ADS_1
Ami meletakankan ponselnya di meja, "Biasa aja gimana? Lihat, aku cuman pake baju tidur doang!" Katanya dengan kesal.
"Kamu masih cantik kok. Lucu." Tawa ledekan keluar dari bibir pria itu.
Ami kelewat kesal, sudah merencanakan akan membalas pria itu. Awas saja nanti kalau dia tidak lupa itu juga.
"Udah jangan marah. Kamu pakai apa pun masih sama aja. Tetep Amira Dewangsih." Tambahnya lalu mengangkat telpon dari ponselnya yang berdering di sakunya itu.
"Hallo? Ya Bu?" Ternyata yang menelponnya Ibunya.
Amira tidak bisa mendengar suara percakapan mereka selain suara Alkan. Suara Ibunya tidak terdengar karna jarak mereka yang terhalang meja itu.
"Lagian di luar. Kenapa Ibu butuh bantuan?"
"Kan udah aku bilang, jangan lihat dulu kerjaan." Gerutunya.
Pelayan datang membawa makanan, desert, daging dengan pasta yang entah apa namanya, lalu minuman coklat dan kopi dengan diracik oleh rasa lain.
"Selamat menikmati." Pelayan itu akhirnya.
"Aku lagi mau makan, Bu." Infonya lalu menatap Ami yang sedang meminum coklatnya, "Sama orang."
Ami meletakkan kembali minumannya dan menatap Alkan untuk menunggu orang itu menyudahi telponnya lalu mereka bisa memulai makan. Kan tidak enak kalau Ami yang duluan makan, padahal yang bayar ini semua jelas Alkan.
"Ya ada lah, Bu. Udah dulu ya aku makan dulu. Nanti aku pulangnya ke rumah Ibu." Alkan mengambil minuman Ami yang berada di meja, lalu meminumnya melalui sedotan.
Ami terkejut dengan tingkah laki-laki itu yang malah meminum minumannya ditambah itu sedotan yang sudah dipakai Ami? "Itu minuman aku!"
Alkan belum melepaskan ponselnya dari telinganya, dia menatap Ami dengan menaikan alisnya. "Ini punya saya. Saya yang pesen. Kamu bukannya suka kopi kan?" Tanyanya sesuai dengan apa yang pernah dia baca di internet dan kali ini Ami menyesali perbuatannya itu, perbuatan yang dia selalu mengada-ngada memberikan informasi soal kesukaannya karna yang jelas Ami tidak terlalu suka kopi.
Ami cengo mendengar itu, "Tapi itu sedotan bekas saya."
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Jadi kaya berciuman secara tidak langsung?"
Hah...
Astaga, Amira rasanya ingin menenggelamkan kepalanya sekarang juga kalau bisa ke dasar laut sekalian agar dia hanyut dalam rasa malu dan kesalnya.
"Itu calon pacar aku, Bu. Doain aja. Udah ya? Aku tutup dulu, bye i love you." Alkan mengucapkan itu dengan santai sedangkan Amira ingin melempar kopi yang berada di meja itu pada mukanya.
"Kamu udah gila..." Suaranya memelan lalu mulai fokus makan saja karna menghadapi Alkan dia membutuhkan energi yang harus diisi.
"Gila kenapa? Gak ada yang salah sama perkataan saya."
"Otak kamu yang salah kayanya." Amira menyuapkan makanan itu.
"Itu juga punya saya tau." Katanya membuat Ami menjeda, sendok itu baru saja akan dimasukan untuk kedua kalinya ke dalam mulutnya. "Serius?"
"Ya..."
Amira merutuki dirinya. "Pesen aja lagi. Ini udah saya makan dikit."
Bukannya memesan makanan baru, Alkan malah mengambil piring dan sendok Ami dipindahkan ke depannya lalu mendorong piring yang tadinya berada di depannya. Dia menyuap dengan santai dengan sendok bekas Ami tadi.
Dia tidak habis pikir dengan kelakuan laki-laki di depannya atau memang dia sengaja demi aksi modusnya berjalan lancar? Ami menghela nafasnya lalu dia hembuskan. Mari kita selesaikan makan malam ini lalu pulang agar terhindar dari darah tinggi.
Berada di dekat Alkan membuat Ami merasa darah tingginya semakin naik. Bisa-bisa dia kumat kalau begini.
Alkan memberhentikan suapannya lalu melihat ke arah Ami yang belum juga memakan, makanannya. Hanya mengaduk-adukan. "Ayok makan atau kamu mau saya suapin?"
Ami berdecak lalu mulai memakan makanannya dengan cepat. Alkan yang melihat itu terkekeuh karna sudah berhasil membuat gadis itu kesal.
Entah mengapa rasanya ada rasa puas sendiri pada diri Alkan kalau berhasil mengganggu gadis itu. Karna yang dia selalu lihat di dalam ponselnya, gadis itu adalah gadis yang ramah dan sabar tidak pernah terlihat emosi dalam wajahnya. Kali ini Alkan selalu melihatnya, melihatnya seperti manusia sungguhan yang mempunyai rasa emosional. Besok-besok dia akan berdoa juga semoga Ami jika bertemu dengannya tidak kesal melulu, kali-kali dia ingin melihat Ami dalam keadaan tersenyum karnanya. Ya mari berandai terlebih dahulu.
__ADS_1