
Warning // self harm.
Detingan jam mengisi ruang kerja Alkan, malam saja dia masih berkutat dalam pekerjaannya. Dia sedang mengecek data pasien pada bulan ini.
"Alkan?" Panggil seseorang di depan pintu.
Alkan menoleh tatapannya ke depan, "Masuk aja, Bu."
Ibunya masuk lalu mendudukan dirinya di sofa depan sana. "Kamu udah baca berita?" Tanyanya ketika sudah menduduki sofa itu.
"Berita apa?" Alkan masih membaca data pasiennya.
"Soal Amira."
Kali ini tatapannya lepas dari data itu, beralih menatap Ibunya. Dengan wajah menampilkan raut kebingungan dan terkejut.
"Soal apa?" Alkan mengambil ponselnya untuk membuka kontak gadis itu. Pesan dan telponnya memang tidak terbalas, membuat Alkan jadi gelisah ketika mendengar perkataan Ibunya. Dia kira Amira hanya seperti biasa, tidak pernah membalas pesan tidak pentingnya itu.
"Soal dia sama keluarganya dulu. Ada yang bocorin berita yang udah diapus dan ditenggelamin. Tapi kali ini ada yang naikin lagi berita itu kayanya demi menurunkan karir Amira."
Alkan bangkit dari duduknya lalu menghampiri ibunya yang sedang memainkan Tabnya. Ia tahu ibunya akan memperlihatkan berita itu.
Ibunya memberikan Tabnya dan disana berisi artikel-artikel soal bapaknya Amira dan juga kasus bunuh diri ibunya.
"Kalau kamu tahu Amira seperti ini apa akan mundur Alkan?" Tanya Ibunya, menatap sang anak yang sedang fokus pada artikel itu.
Entah apa yang dimaksud ibunya menyampaikan kalimat itu seakan ibunya menginginkan Alkan.
"Maksudnya?"
"Ibu cuman ngetest kamu, kalau orang yang sedang kamu perjuangin sekarang ada diposisi gini, perasaan kamu gimana?"
__ADS_1
Jujur, Alkan sendiri tidak tahu soal perasaanya. Namun dia keikut takut dan juga khawatir pada gadis itu. Dia khawatir gadis itu akan melakukan hal gila terlebih dia mempunyai masa kelam yang sekarang terungkit kembali.
"Kamu akan kesana?" Tanya ibunya kembali.
Alkan tidak menjawab, malah mengambil ponselnya lalu menghubungi manajer Amira yaitu Mbak Astrid.
Sambungan telpon itu terangkat, mengeluarkan suara khas Mbaknya Amira itu.
"Hallo?" Suara itu diselingi suara penutupan pintu.
"Amira ada? Dia... Dia baik-baik aja?"
Mbaknya Amira tidak langsung menjawab, dia berdiam diri dulu beberapa detik. "Untuk sekarang, sepertinya baik-baik aja. Tadi saya Check ke kamarnya dia lagi tidur di kamarnya sama Leo. Kalau ada Leo dia gak mungkin akan bertindak gila." Ucapnya membuat Alkan menghembuskan nafasnya, lega.
"Oke, kalau gitu besok pagi saya kesana."
"Alkan?" Panggilnya pelan.
"Makasih ya, saya minta tolong. Amira gak punya siapa-siapa, jadi tolong jangan sakitin dia, ya?"
"Iya.." Lalu sambungan telpon itu diputuskan oleh Mbaknya Amira.
Ibunya memperhatikan Alkan dari tadi. "Kamu sayang dia Alkan?"
"Aku gak tau, Bu."
"Kalau kamu khawatir. Berarti kamu sayang dia. Kamu istirahat aja, dari bulan kemarin Ibu liat-liat kamu makin gila kerja."
Alkan terkekeuh pelan, kenyataannya dia memang bagai tidak punya waktu untuk dirinya istirahat. Dia sudah seperti orang gila kerja.
"Alkan, Ibu pernah bilang, kan? Jangan sakiti wanita dan jangan ninggalin dia ketima kamu tau kelemahannya. Ngerti?" Ucap Ibunya karna Ibunya pernah merasakan rasanya ditinggalkan.
__ADS_1
Alkan mengangguk lalu mengecup pipi Ibunya, "Makasih, Bu."
...----------------...
Matanya tak bisa terpejam dari semalaman, kepalanya penuh oleh bayangan yang membuatnya kembali takut. Bahkan Amira sudah tidak bisa menangis lagi, gadis itu takut membangunkan Leo jika harus menangis kembali. Dari semalam dia hanya menatap atap kamarnya yang gelap, dari semalam dia bagai menonton kembali kejadian kelamnya.
Dia menatap kaca di depannya yang menampilkan penampilan Amira pagi ini. Rambutnya acak-acakan, terlihat jelas kantung matanya dan juga matanya yang sedikit memerah. Amira memperhatikan jemarinya yang kemerahan karna dia remas semalaman. Dia tidak tahu harus menyalurkan rasanya kemana, yang menjadi sasaran adalah jemarinya.
Ini bagai reka adegan, Amira bagai bisa mendengar untaian kalimat dari orang-orang untuknya. Suara itu bagai nyata menghantuinya. Bahkan suara tangisan Ibunya membuatnya pening karna terlalu keras dalam benaknya yang bercampur dengan suara penuh cacian maki lainnya.
Dia dari tadi menghelakan nafasnya lelah, dadanya mulai terasa penuh ingin menangis. Matanya sudah berkaca-kaca tidak bisa menahan bendungan air itu. Sekarang dia menangis dengan sesegukan dan memukul-mukul dadanya yang terasa pengap. Ini terlalu menyakitkan, dimaba dia harus berlindung? Dimana dia harus mengadu? Dimana dia bisa berteriak menyampaikan rasa penuh kemuakan ini?
Dulu, ia selalu menguatkan diri karna dia tahu yang lebih menderita adalah Ibunya. Namun kali ini, apa harus dia berpura-pura kuat? Jika dia tetap berpura-pura kuat, apakah dunianya akan baik-baik saja? Apakah karirnya saat ini akan baik-baik saja? Apakah dia masih bisa melanjutkan pekerjaanya yang membuat kepalanya pening, bahkan sumber yang dia dapatkan ini adalah dari orang-orang yang mendukungnya. Namun dia mereka sudah tahu aibnya apa mereka masih akan mendukungnya?
Amira tidak tahu harus menyalahkan siapa atas kejadian ini.
Langkah pelannya mendekati bathub untuk mengisi air lalu dia membuka lemari kecil yang berisi alat mandinya. Disana, ada silet yang biasa dia gunakan untuk membuka plastik atau alat bantuan untuk membuka sesuatu.
Tangannya yang gemetaran itu mengambil silet itu. Lalu dia masuk ke dalam bathub yang sudah penuh dengan air. Dia duduk, menyender, berdiam diri disana sambil menatap pergelangan tangannya. Haruskah dia menggambarkan kembali sama seperti saat dulu? Haruskan dia membuat yang menurutnya seni itu pada tangannya?
Tangisnya masih belum berhenti, mulutnya masih mengeluarkan sesegukan. Tangannya yang gemetar itu mulai menggoreskan sesuatu pada lengan mulus tanpa celah yang menganggu.
Dia mulai menyalurkan rasa sakitnya kesana, membagi rasa sakitnya dan juga mendapat kepuasan tersendiri. Rasanya, lukanya bagai terbagi tidak terbendung dalam batin dan benaknya saja. Namun, kali ini pada bagian tubuh luarnya yang merasakan rasa sakit itu.
Telinganya mendengung karna pening karna merasakan kedinginan, dia mulai menggigil merasakan dinginnya air yang memeluknya dalam bathub ini.
Hoodie putih dan air bening itu sudah berubah warna bercampur dengan apa yang lengannya keluarkan. Amira menatap itu dengan lemah, tubuhnya tak berdaya bahkan dia sudah menjatuhkan silet itu entah kemana, lengannya sudah menjuntai pada pinggiran bathub menahan tubuhnya agar tidak tenggelam.
Hidupnya benar-benar sial, bagai dia adalah manusia yang tidak pantas untuk hidup di muka bumi ini.
Matanya terpejap akibat kelelahan, dia bisa mendengar suara sayup-sayup seseorang memanggilnya dari luar. Dan juga yang terakhir dia dengar adalah suara Alkan memanggil namanya dengan teriakan kencang dan juga dobrakan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Kesadarannya sudah terkikis hilang. Hanya bayangan Alkan yang hendak mengangkat tubuhnya yang dia lihat untuk terakhir sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya.