
Warning: Bunuh diri // Depression.
Flashback on.
Rumahnya berisik karna tangisan seorang bayi. Mbak Astrid menangis disana sedangkan Ibu tetap berada di kamarnya, mengurung diri. Yang hancur bukan Amira saja, namun seluruh keluarganya.
Amira menghampiri kakak iparnya itu yang sedang menangis di bawah kasur sedangkan anaknya merengek di kasur entah meminta apa. Amira bingung, kamar Mbaknya berserakan dengan baju-baju.
"Mbak? Mbak kenapa?" Amira menghampiri Mbaknya yang sedang menundukan kepalanya dengan tangisan.
"Mas Andra, Mi. Mas Andra udah pergi."
Amira bingung dengan jawaban itu, "Pergi kemana? Pergi ke rentalan kan?"
Mereka mempunyai rentalan motor yang diurus oleh kakaknya selama ini.
Mbaknya menggeleng dengan sesegukan tangisnya, "Selama ini motor-motor udah dijual, Mi. Dan uang itu dibawa kabur sama Mas Andra." Katanya lalu kembali menangis.
Amira terdiam, entah harus menjawab apalagi. Cobaan apa lagi yang akan dia hadapi selanjutnya? Hal menyakitkan apa lagi yang akan dia saksikan?
Dia harus menguatkan dirinya dan membantu Mbaknya menenangkan anaknya yang terus merengek diatas kasur bayi sana.
...----------------...
Sore hari itu rumah kembali sepi karna Mbak Astrid pulang ke rumah orang tuanya. Disini, di rumah besar ini. Dia hanya tinggal berdua bersama dengan ibunya yang tidak pernah keluar dari kamarnya. Para pembantu sudah diberhentikan ketika mendapat berita itu karna dia bingung akan membayarnya dengan apa sedangkan dia belum bekerja.
Amira hanya memegang uang dari tabungannya yang tidak seberapa untuk makan. Amira membawa nampan berisi makanan dan segelas air untuk dibawa ke kamar ibunya.
Hembusan nafas untuk memulai kuat harus dia hadapi, dia mulai mengetuk pelan pintu kamar itu. "Ibu? Ini Ami. Boleh masuk? Ami bawa makanan tadi beli di depan komplek."
Tidak ada sahutan dari dalam, biasanya dia mendengar suara lirihan pelan ibunya mengizinkan dia masuk ke dalam kamar.
"Bu? Ibu di dalam kan? Ami langsung masuk aja ya?" Dia memutuskan untuk langsung membuka pintu itu.
__ADS_1
Gelap adalah untuk mendeskripsikan kamar ibunya, barang-barang berserakan di lantai karna terkadang ibunya menjerit-menjerit sendiri. Ibunya tidak ada di kasur atau pun kursi di depan cermin. Bahkan cermin iru telah hancur.
"Bu?" Panggil Ami kembali.
"Disini, Ami." Lirihan suara itu dari balkon kamar ini.
Amira menyimpan makanan itu di kasur lalu mendekat pada balkon kamar untuk melihat ibunya sedang melakukan apa. Dia membelalakan matanya bahkan sampai menelan air ludahnya sendiri saking terkejut dan tidak tahu harus berkata apalagi.
Ibunya sedang duduk di atas pembatas balkon itu. Jika dia jatuh akan menghantam kaca di bawah sana karna rumah ini memiliki peneduhan kaca di atas, di depan pintu utama.
"Ibu? Ibu ngapain? Nanti jatoh. Ayok turun." Bujuk Ami takut untuk mendekat.
"Ami, Ibu udah gak kuat. Boleh Ibu pergi? Atau mau ikut Ibu?" Suaranya berat dan melemah.
Amira mulai menangis ketika dia sudah berjanji dua hari lalu tidak akan menangis lagi. Janjinya patah karna menyaksikan cobaanya lagi yang tersisa.
"Ibu, jangan pergi... Ayok turun. Ibu jangan tinggalin Ami."
"Kalau gitu kamu ikut." Katanya tanpa melirik ke belakang.
"Ibu, pamit ya, Ami?"
Detik itu juga suara hantaman di bawah sana pada kaca retak. Tangisan Amira kembali menjerit. Dia menangis dengan meraung-raung memanggil Ibunya karna melihat keadaan Ibunya yang naas bersimbah darah di bawah sana.
Apakah ini yang terakhir? Jika iya, tolong jadikan yang terakhir. Karna Ami sekarang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kali ini yang tersisa hanyalah ibunya.
Tolong Ya Tuhan, jika ini semua adalah bayaran karna kehidupan sebelumnya. Maafkan semua dosa yang selama ini dia perbuat. Tolong jangan siksa dia kembali dengan ribuan pisau yang menancapnya.
......................
Kamarnya gelap, seperti biasa ia matikan. Tidak ada jadwal malam ini. Hanya ada dia dan kamarnya. Terbangun pada dini hari dengan degupan nafas yang tidak beraturan, bak habis mengikuti maraton lari.
Mimpinya buruknya datang kembali. Amira langsung duduk lalu menelengkupkan kepalanya dengan kedua tangannya, ketakutan. Gelapnya membuat dia semakin takut, dengab tergesa dia menyalakan lampu. Kosong, kamarnya tidak ada siapa-siapa. Hanya dirinya dan kesepian yang selalu mengikutinya.
__ADS_1
Bayangan ibunya yang bunuh diri dengan jeritan tangis depresinya masih terngiang-ngiang dalam benaknya, penangkapan ayahnya terekam kembali dalam benaknya bagai menonton televisi. Titik dimana kehancurannya berada.
Amira mengambil segelas air untuk meminum air di nakas, dia turun dari ranjangnya lalu duduk di karpet samping tempat tidurnya. Menyender pada kasurnya lalu menatap pintu kaca balkon, dia masih ingat dimana tempat ibunya bunuh diri, disana. Di balkon yang berbeda yang membuat Amira selalu merasa nyeri ketika melihat balkon, namun dia tetap mempertahankan balkon itu di kamar. Untuk mengenang ibunya.
Dia membuka laci yang disana berisi surat dari terakhir dari ayahnya.
Air matanya mengalir seiring dengan kabut dalam benaknya berputar-putar. Dia merindukan kehidupan lamanya. Dia merindukan ibu dan ayahnya. Membukanya dengan tangan gemetar. Kertas yang terdapat bercak air yang sudah dipastikan itu air matanya. Ketika membaca itu dia akan terus menangis, meratapi kehancurannya.
2013, Bandung.
Amira, ini Ayah. Maafkan ayah buat semuanya, semua ini Ayah lakukan karna ingin membahagiakan keluarga kita. Kamu jaga diri baik-baik ya, Ayah sayang kamu. Titip Ibu. Ini surat terakhir dari Ayah, sekali lagi maafkan Ayah.
Peluk hangat Ayah.
Setelah itu, itu benar-benar surat terakhir. Karna ketika surat itu sampai Amira mendapat kabar bahwa Ayahnya meninggal dunia.
Sedikit rangkaian kata itu bisa membuatnya sesak di dadanya dan hancur seketika. Amira bisa mendengar suara Ayahnya ketika dia membaca surat itu, suara tenang Ayahnya yang biasanya memanggilnya ketika dia memberi nasihat, suara ayahnya ketika dia sedang memarahinya. Dia rindu Ayahnya.
Tidak ada peninggalan apa pun dari ibunya. Hanya peninggalan suara jeritan tangisnya yang tersimpan di benaknya dan juga gambaran Ibunya yang meninggal di depannya.
Suara dering telpon memecahkan lamunan menyakitkan itu. Amira langsung mengambil ponsel yang berada di pinggirnya itu.
Alkan menelponnya, lelaki ini tidak pernah tidak apa ya? Mengapa dia selalu menganggu Ami.
Walau terganggu, nyatanya jari itu bukannya men-swipe tombol merah melainkan dia langsung memencet tombol hijau yang berarti mengangkat telpon itu.
"Hallo?" Ketika telpon itu terangkat, Amira bisa mendengar suara jalanan raya yang menandakan lelaki ini sedang berada di luar.
"Mau late night drive? Saya lagi di daerah dekat rumah kamu. Siapa tau kamu butuh udara segar." Tawarnya seperti dia mempunyai feeling atau indra ke-6.
Atau orang ini teramat peka ya? Dia bisa tahu kalau Amira memang benar-benar butuh udara untuk menghapus semua keresahan pada pikirannya.
"Mau. Jemput saya."
__ADS_1
"Oke, 3 menit lagi saya sampai. Tunggu, ya." Katanya lalu telpon itu terputus.