
Alkan sedang berada di restoran jepang dia dan sekretarisnya yang sebenarnya itu sekretaris ibunya, namun karna dia yang menghandle jadi dia yang mengurus semuanya. Asistennya pulang ke kantor karna sedang mengurus sesuatu. Dia belum beranjak dari restoran itu padahal kerjaan di kantor masih menantinya.
"Pak, saya mau nanya boleh?" Tanya sekretarisnya setelah menyelesaikan tugasnya.
"Tanya aja." Jawabnya sambil menyesap kopinya.
"Bapak suka sama Amira?"
"Keliatannya gitu ya?" Bukannya menjawab pertanyaan dia malah membalik bertanya.
"Ya soalnya kan bapak kaya gencar banget ngedeketin dia."
"Menurut kamu dia gimana?"
Lana alias sekretarisnya itu berpikir sebentar sebelum menjawab, "Kalau cantik sih, cantikan Sesil ya, Pak? Tapi setelah saya tadi lihat sifat dia yang asli nyebelin banget ya? Saya kira dia cewek cantik yang lemah lembut, anggun, ramah gitu. Ternyata aslinya agak nyebelin."
Alkan tertawa mendengar itu. "Saya pernah lihat dia di acara sosial. Dia emang aslinya ramah kok sama orang lain."
"Ah, itu mah penjilat, Pak. Jual tampang aja biar makin tenar." Julidnya.
"Hush... Kamu ini malah ngajak saya ngejulid."
Bukannya merasa bersalah, Lana malah cengengesan. "Hehehe, maaf. Jadi asli Bapak suka Amira? Kok bisa sih, Pak?"
"Emangnya kenapa pakai tidak bisa segala?"
"Heum... Seinget saya kan para mantan Bapak itu bule semua. Nah, kalau Amira kan wajahnya, wajah Asia banget. Saya kira type Bapak emang cewek western gitu."
"Mantan pacar saya bule, ya karna dulu kan saya tinggalnya di luar negri. Ya jelas saya ketemunya sama yang bule-bule."
"Oh... Iya juga ya? Dodol banget ternyata saya." Katanya mengatai dirinya sendiri. "Jadi gimana? Bapak nih gak jawab-jawab pertanyaan saya. Bapak beneran suka sama Amira?"
"Saya gak tau, Lan. Cuman lagi tertarik aja, mungkin?"
"Heh, gak boleh mainin perempuan tau, Pak."
Alkan terkekeuh mendengar peringatan dari Lana membuatnya jadi merindukan adik perempuannya yang sedang kuliah di Belanda.
__ADS_1
"Kalau Ibu tau soal kabar ini gimana, Pak? Apalagi kan Ibu sering ngenalin Bapak sama anak temennya Ibu."
"Memangnya kenapa kalau Ibu saya tau?"
"Takutnya Bapak nanti gak direstuin gitu sama Amira. Kaya disinetron-sinetron. Nanti Amira didatengin sama Ibu dikasih uang 1 miliar nyuruh jauhin Bapak, wah seru banget. Itu kan biasanya drama anak orang kaya."
Alkan kembali tertawa mendengar obrolan sekretarisnya yang aneh itu. "Kamu pikir ini sinetron apa? Memangnya Ibu saya kelihatan jahat?"
"Euh... Ngga sih. Eh Ibu emang mukanya judes sama kaya Bapak tapi aslinya baik, super baik. Saya sampai kagum, bahkan di usianya setua ini. Dia masih suka ngurus perusahaan."
"Ya, mau diurus sama siapa lagi habisnya?"
"Sama Bapak aja lah. Soalnya kalau Bapak yang handle suka lancar jaya!" Pujinya.
"Saya kan ada tanggung jawab ngurus rumah sakit peninggalan Ayah saya."
"Oh, iya juga ya. Hadeuh orang kaya emang kerjaanya ngurus duit terus. Saya yang liat doang pusing, apalagi Bapak ya."
"Udahlah, ayok kita pulang. Kamu udah kan makannya?"
Lana tersenyum, mengangguk. "Udah kok, Pak. Makasih ya traktirannya. Saya seneng kerja disini. Lambung saya akhirnya nyicip makanan mahal, hehe."
---
Amira membuka ponselnya yang dari tadi mendering. Entah jam berapa ini yang pasti Amira sudah tertidur pulas namun terganggu oleh suara dering telpon yang sedang di-charge, di meja sebelah tempat tidurnya.
Dia mengambil handphone itu tanpa membuka matanya, meraba letak handphonenya sampai ada barang terjatuh. Amira terlalu malas untuk membuka matanya, akhirnya tangan itu mencapai handphonenya lalu mencabut kabel itu dari handphonenya.
Dia berniat menggeser warna merah yang ada di layar ponselnya yang berarti menolak handphone itu. Namun jarinya tidak bisa berkompromi, malah terpeleset memencet tombol hijauh hingga memunculkan suara seorang pria dari handphonenya.
"Hallo?"
Amira terkejut, langsung membukakan matanya lebar-lebar karna mendengar suara pria itu. Dia langsung menatap ponselnya, melihat siapa yang menelponnya. Disana terpampang jelas nama Alkan Gantemg. Dengan kesadaran yang baru 50% Amira berpikir sejak kapan dia menyimpan dan menamai nomor pria itu dengan nama semenggelikan ini.
"Hallo? Ami? Kamu disana kan?"
"Heh! Ini siapa?" Ami akhirnya membalas dengan kata-kata nyolot apalagi kekesalannya karna diganggu masih tersisa.
__ADS_1
"Ini saya, Alkan. Kamu lupa ya? Tadi kan udah saya simpen nomornya. Atau jangan-jangan kamu hapus lagi?" Tudingnya dengan keresek-keresek entah sedamg apa yang pria itu lakukan disana.
"Loh?" Ami langsung berusaha menyadarkan dirinya, mengingat kejaduan tadi siang. "Oh, jadi kamu yang namain kontak dengan sealay ini?"
"Alay? Apa tuh alay?"
"Masa kamu gak tau Alay? Kudet banget. Kasian banget gitu aja gak tau, kamu hidup dimaja sih, hah?" Ledek gadis itu.
"Di... USA."
Setelah mendengar itu Ami terdiam, entah malu karna sudah meledek kudet atau sudah mengasihani orang yang seharusnya dia lebih mengasihani hidupnya sendir. Hidup memang suka sebercanda ini.
"Kok diem? Kamu gak tidur kan?"
Dia mendengus kesal dengan pertanyaan ini, "Tadi saya udah tidur. Tapi kamu malah nelpon-nelpon dengan gak tau waktu. Kamu gak lihat apa ini udah tengah malam?"
"Tengah malam? Kamu gak salah? Ini baru jam 9 loh."
Hah?
Ami langsung melihat jam wekernya yang dia jatuhkan tadi ketika mengambil ponselnya. Dan benar saja jarum jam itu menunjukan pukul 8 malam.
"Kamu kaya bayi aja tidur jam segitu."
Amira mendengus kembali, sepertinya kalau mengobrol dengan Alkan dia selalu kesal. "Ini namanya tidur sehat. Masa kamu gak tau. Padahal kamu kan dokter, domter sendiri yang selalu nyaranin buat tidur awal dan yang cukup."
Alkan terkekeuh mendengar itu, "Dokter itu cuman buaian aja. Aslinya mereka yang lebih butuh tidur yang cukup. Kadang saya suka pengen ketawa sih kalau mendengar saran dokter suruh tidur yang cukup sedangkan para dokter sendiri kurang tidur karna harus siaga menangani pasien mereka."
Ami mendengar curhatan Alkan, kenapa dia jadi curhat sih? Tapi karna Amira yang baik hati. Dengan senang hati dia mendengarkan secara gratis. "Ini kamu curhat pengalaman kamu ya?"
"Saya? Gak terlalu sih. Saya nanganin pasien kalau ada waktu luang aja."
"Kok bisa? Kamu dokter abal-abal ya?" Tuduhnya lagi.
"Kan saya yang punya rumah sakitnya."
Sekali lagi Ami terdiam dan terkejut. Mungkin, akan ada lagi kejutan yamg menggemparkan Ami. Seperti kalau sebenarnya Alkan itu anak mafia.
__ADS_1
"Makasih ya udah nemenin saya, saya tutup ya? Tidur lagi." Setelah itu telponnya dimatikan secara sepihak.
Kalau dia sedamg dihadapan Alkan sekarang, mungkin dia akan menjerit mengatai kalau Alkan itu manusia paling tidak jelas di muka bumi ini.