
...Cw // mention of kiss....
Langit Singapore dilanda gelap gulita, memang gelap karna malam yang menyelimuti, namun ditambah guyuran hujan yang bergemuruh. Membuat para manusia yang berada disana menghentikan aktivitasnya di luar atau masih ada yang di luar sambil berteduh entah itu di dalam mobil atau berteduh di tempat yang bisa memayungi diri mereka.
"Hujan. Kita gak jadi makan di kapal." ucap lesu Amira. Padahal ketika diajak gadis ini sok-sok an menolak, giliran sekarang dia malah bersemangat walau lesu karna tidak jadi. Karna hujan membuat mereka tidak bisa keluar, ditambah dinginnya malam ini membuat mereka memilih berdiam diri saja di kamar.
"Gapapa. Masih ada waktu lain kali." hibur Alkan tidak ingin gadis itu sedihnya berkepanjangan.
"Tapi besok kita pulang."
"Lain kali bukan berarti besok. Masih ada beberapa waktu lain, right?"
Amira mendesah kecewa, lalu membenarkan duduknya yang asalnya menatap kaca yang menampilkan rintikan hujan di luar sana. Dia melirik Alkan yang sedang fokus dengan laptopnya lalu berdecak pelan. Mengapa rasanya dia jadi cemburu dengan laptop yang bisa tanpa bosan Alkan tatap.
"Kamu lagi ngapain?" Amira mendekatkan dirinya pada tubuh Alkan. Melirik jari Alkan dengan terampil mengetik disana.
"Ngurus kerjaan dulu." jawabnya dengan simpel membuat Amira merengut.
Malam ini Amira sangat clingy. Entah kesurupan setan hotel ini atau dedemit Singapore, dia merasa ingin dimanja dan diperhatikan, namun Alkan malah sibuk sendiri dengan kerjaanya.
Dia menghela nafasnya panjang lalu menyender di bahu Alkan dengan masih memperhatikan laptop Alkan. Laptop itu menampilkan data grafik yang tidak Amira pahami. Yang jelas bukan bidang Amira pastinya.
Suara notif masuk ke dalam Whatsapp Alkan yang dihubungkan di web laptopnya. Disana terpampang nama Jia mengirim pesan; 'Kamu harus tanggung jawab!'
Kening Amira mengernyit membaca pesan ambigu itu. Dadanya langsung berdesir hebat, merasakan sakit hati. Apa Alkan masih mempunyai hubungan khusus dengan Jia? Ditambah alasan mereka berpisah karna kepercayaan mereka berbeda, namun siapa tahu kan? Perasaan mereka masih sama.
"Jangan mikir macem-macem. Itu Jia lagi marah." katanya bagai mengerti pemikiran Amira yang sedang berperang saling menganalisa.
"Marah kenapa? Kamu ngehamilin dia?" tuding Amira.
"Ngaco!" lalu suara notif kembali masuk membuat Amira dengan cepat melihat dan membaca pesan itu.
Jia mengirim pesan dengan capslock; 'BEN GAK SEMBUH-SEMBUH! HARUSNYA KAMU TANGGUNG JAWAB NGURUSIN DIA. INI MALAH KABUR KE SINGAPORE! DASAR SIALAN!'
Amira menelan ludahnya, merasa ngeri dan sekaligus membayangkan wajah galak Jia. Walau galaknya gadis itu malah terlihat lucu, namun Amira tahu kalau dia marah tidak akan main-main marahnya.
"Kamu apain orang sampai sakit?" Amira meminta penjelasan.
"Gak ngapa-ngapain. Orang udah sakit dari sananya. Jia aja yang riweuh."
"Kamu kok tau bahasa riweuh?" tanya Amira dengan gelakan tawa karna baru mendengar Alkan berbicara seperti itu.
"Sering denger dari Jasmine. Aku jadi kebawa-bawa."
__ADS_1
"Jasmine cewek kamu yang mana lagi?" tuding Amira dengan mata menyipit.
Pertanyaan bagai seorang kekasih yang sedang menangkap basah pacarnya yang ketahuan berselingkuh. Padahal mereka berdua jelas tidak ada hubungan apa-apa.
"Nggak, astaga. Kenapa sih kamu ini? Jasmine udah kaya adik aku sendiri."
Amira mendengus, "Banyak banget sih adik kamu. Katanya Ibu kamu gak punya anak perempuan."
"Ya, emang gak punya kan? Tapi dia suka nganggap perempuan muda di sekitarnya jadi anaknya kalau merasa nyaman sama orang itu."
"Aku gimana?"
"Apa?"
"Aku gimana? Dianggap apa sama Ibu kamu?" tanya ulangnya memperjelas.
"Sebelum kamu nanya soal dianggap sama Ibu aku. Lebih bener aku nanya dulu, kamu maunya jadi apa?"
"Aku..." Amira memutar otaknya mencari sesuatu yang bisa mengalihkan obrolan mereka, "Aku mau wine."
"Hm?"
"Minum, yuk? Aku udah lama gak minum." pintanya, kali ini sudah tidak menyenderkan dagunya di bahu Alkan.
"Jangan mabok tapi, ya?"
Amira mengangguk dengan bersemangat karna disetujui permintaanya.
"Janji dulu."
"Janji! Ayok pesen winenya." pinta Amira dengan menarik-narik pelan lengan Alkan.
Alkan mengangguk lalu menelpon seseorang meminta untuk dibawakan wine ke kamar yang sedang mereka tempati.
Telinganya dengan setia mendengarkan percakapan dari telpon itu sampai telponnya ditutup.
"Tunggu sebentar lagi datang. Aku beresin kerjaan dulu, ya?" izinnya agar Amira tidak merasa terabaikan.
"Oke,"
Mereka berdua akhirnya hening, suara yang menemaninya hanyalah rintikan hujan. Sedangkan mata Amira masih setia menatap siluet Alkan yang sedang fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya. Lelaki itu terlihat berkali lipat tampan kalau sedang fokus pada laptopnya, bayangannya seperti sugar daddy yang pernah dia tonton di laptopnya. Ditambah lengan kemejanya yang dia gulung ke atas itu membuat urat-urat di lengannya semakin terlihat.
Suara bel kamarnya berbunyi membuat Amira terkesiap memalingkan tatapannya ke arah pintu sana. Alkan yang akan bangkit langsung ditahan oleh Amira.
__ADS_1
"Aku aja yang bukain."
"Oke, thanks." ucapnya dengan senyuman manis.
Beberapa detik kemudian Amira kembali sambil membawa satu botol wine dengan senyuman gembiranya. Dia mengacungkan botol itu sambil menyengir bak anak kecil yang habis diberi balon.
"Seneng banget?" tanya Alkan ikutan tersenyum karna melihat binar di wajah Amira.
"Ayok, kita minum!" Amira mulai mengambil gelas lalu menuangkan wine itu pada gelasnya. "Mau aku tuangin?" tawarnya.
"Sure."
Amira mengambil gelas untuk Alkan lalu menuangkan wine itu menjadi setengah gelas.
"Cheers?"
Amira mengangkat winenya untuk disatukan dengan gelas Alkan sampai gelas mereka membuat suara dentingan dari benturan gelas.
Gelas itu menyentuh bibir Amira sampai minumannya tandas habis, Alkan memperhatikannya dengan diam.
"Jangan mabuk." Peringat Alkan. Dia tidak ingin kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu.
Namun, disaat sedang begini Amira tidak mungkin mengindahkan peringatan dari Alkan. Gadis itu sibuk menuang kembali winemya lalu meminumnya kembali dengan sedikit-sedikit sampai habis. Ditambah kepalanya sedang runyam soal karirnya, membuat dia kalang kabut ketika diajak mabuk. Bahkan sekarang kepalanya mulai berat bak mengangkat beban di atas kepalanya.
"Alkan..."
"Hm?"
"You ask me about kiss and the answer is; i want but im scared." ucap lugu gadis itu yang sudah kepalang mabuk.
"I'm just kidding."
Tapi kalau dikasih beneran mau. Siapa yang akan menolak kalau disuguhkan begitu? Jelas manusia tidak waras.
"Aku takut..." cicitnya pelan sambil menatap sayu gelasnya yang telah kosong, "Aku takut jatuh cinta sama kamu. Aku takut ditinggalin."
"No one gonna leave you, Mi."
"Everyone leave me." jawabnya dengan teguh, "Tapi sekarang aku berani. Aku gak takut soal yang kedepannya akan bagaiaman, karna sekarang adalah aku yang disini. Di masa sekarang, bareng kamu. Gak peduli soal kamu yang mungkin akan ninggalin aku nanti. Tapi sejujurnya, aku sekarang mau kamu. Can i kiss you?" kalimatnya keluar dengan tenang, bahkan matanya kali ini sudah menatap Alkan dengan tatapan sayunya.
"Really? Kamu mabuk beneran?" tanyanya dengan terkekeuh apalagi Amira mulai mendekatkan dirinya pada tubuh Alkan.
"Can i?" tangannya sudah memegang kedua pipi Alkan dengan halus dan kelewat berani.
__ADS_1