
"Amira mantan gue, Kan." singgung Rega di sela-sela jam makan siang mereka.
Topik obrolan persoalan pekerjaan mereka telah selesai. Kali ini, entah mengapa rasanya Rega gatal ingin mengatakan persoalan ini. Apalagi aneh rasanya duduk bersama manusia yang kini menjalin hubungan dengan gadis yang dulu dia puja-puja.
"Gue tau kok." jawabnya setelah meminum jus orangenya.
"Tau dari mana? Amira cerita sama lo?"
Alkan memggeleng, karna memang nyatanya tidak. Alkan hanya menebak hubungan antara mereka. Dan ternyata feelingnya benar, dia tidak pernah salah ketika menebak seseorang.
Lagi pula, Rega bukan ancaman baginya. Rega hanya sekedar bagian dari masa lalu Amira. Dan juga Alkan tahu kalau Ayahnya Rega yang menangkap Ayahnya Amira. Dari sana, bisa disimpulkan alasan kedua orang ini berakhir tragis.
"Nggak. Ngapain gue cewek gue cerita masalah mantannya." sindir Alkan dengan sunggingan senyumnya. "Terus ngapain lo ngasih gue soal ini?"
"Pamer aja. Kalau gue pernah sama Amira."
"Tapi ujungnya Amira benci sama lo."
Sial! Mungkin itu yang yang akan dikatakan Rega kalau tidak mengingat bahwa Alkan berumur diatas dia. Rasa umpatamnya harus dia telan-telan sampai menjadi bagian daging di tubuhnya.
Rega terkekeuh miris dengan kenyataan pahit yang memang nyatanya adalah kebenaran. Amira membencinya, semua untaian yang pernah mereka jalin telah menjadi debu yang berserakan terbawa arah angin.
"Gue nyesel banget soal dulu. Rasanya gue pengen ngulang waktu buat memperbaiki semuanya."
"Udah telat. Gak usah mendramatis sekarang. Setidaknya lo pernah jadi bagian alasan Amira bahagia aja udah harusnya bersyukur. Jangan maruk mau segalanya. Ini semua juga karna apa yang lo jalanin."
Ya, benar. Harusnya Rega berhenti memikirkan soal ini. Harusnya dia sudah lega mendapat kabar kalau Amira bersama dengan orang yang akan bisa menjaganya daripada dia yang malah berujung menjadi luka untuk Amira.
"Gue bisa percayain Amira sama lo kan?"
__ADS_1
"Lo bukan bapaknya. Ngapain nanya-nanya begitu? Lo udah bukan siapa-siapanya Amira juga."
"Seenggaknya gue orang yang masih sayang sama dia. Dan kalo lo nyakitin dia, gue orang pertama buat nonjok lo."
Alkan terkekeuh kecil mendengar ancaman dari Rega. Entah mereka ini hanya membuai candaan atau memang faktanya mereka sedang bertengkar.
"Harusnya lo nonjok diri lo sendiri. Harusnya lo ngaca dulu sebelum ngomong kaya gitu."
Seandainya Rega boleh membeberkan segalanya terdahulu, dia akan menjelaskan bagaimana rasanya dia menyiksa dirinya.
Dulu ketika dia mendengar penuturan kalau Amira membencinya, dia juga membenci dirinya. Bahkan, Rega seperti tidak mengenal dirinya sendiri sampai Ibunya yang bertindak menghentikan aksi Rega yang selalu mabuk-mabukan dan menyiksa dirinya dengan tidak makan lalu mengurunng diri di kamar.
Dan mungkin, semua itu kurang. Dia memang seharusnya menonjok dirinya agar dia semakin sadar diri.
"Gue balik duluan." Pamita Alkan, sebelum dia pergi, dia menepuk-nepuk pundak Rega memberi sedikit wejangan. "Yang lalu biarin aja berlalu. Harusnya sekarang lo mulai fokus sama kehidupan diri lo sendiri. Dan biarin Amira fokus sama hidupnya, lo harus sadar diri kalo lo itu emang luka yang bakal membasah lagi kalo kembali. Gue balik ya, thanks atas waktunya." lalu Alkan pergi begitu saja sambil mengangkat telpon.
"Hallo, sayang?"
Rega tebak yang menelpon pria itu pasti Amira.
...----------------...
Alasan Amira dari dulu menolak tour konser adalah dia sudah membayangkan akan secapek apa dirinya, sebagai dia adalah kaum rebahan yang hobbynya leha-leha dan ini malah banting tulang kesana kemari. Terhitung sudah 4 kota Amira injakan jejaknya, rasanya dia mau menyerah saja.
"Tadi ada yang ngeselin." adu Amira.
Kalau kalian mau tahu, mungkin memang benar Amira saat baru kenal itu dinginnya minta ampun dan orangnya tsundere. Tapi kalau dia sudah sangat dekat dengan seseorang, sudah menaruhkan harapan hidupnya pada orang itu. Dia akan sangat menjadi wanita manja lebih dari Jia kalau dijelaskan lebih rinci.
"Siapa?"
__ADS_1
"Sponsor. Om-om. Dia genit, gangguin terus aku. Deketin terus, masa ngajak aku ngamar!" Adu Amira dengan bersungut-sungut.
Dia sedang berada di kamar hotelnya, sambil majan siang nasi goreng. Nasi goreng di siang hari memang agak tidak jelas sih. Tapi perutnya kepalang lapar jadi dia asal bilang memesan makanan di hotel ini untuk diantarkan ke kamarnya.
"Siapa? Coba bilang sama aku. Biar aku urus dia sekalian. Dia gak megang-megang kamu kan?"
Amira terdiam baru menyadari kalau dia sudah salah mengadu pada Alkan. Akan lebih seram dan bisa menjadi perang dunia kalau Alkan sudah bertindak.
"Ada deh. Aku gak diapa-apain kok. Cuman dia ngomong genit doang."
"Tapi itu sama aja pelecehan verbal. Kamu ini gak belajar dari masa lalu, ya? Dulu gak mau aku bantu cari pelakunya, sekarang juga gak mau."
Bukan tidak mau, tapi dia malas akan berurusan panjang. Dan akan menjadi gosip dimana-mana. Dia ini hanya malas mengurusi hal yang membuatnya letih, jadi dia terbiasa bodoamat kalau ada yang menyakitinya.
"Biarin aja lah. Aku males ngurusinnya."
"Terus kamu ngebiarin para penjahat kelamin itu berkeliaran di dunia tanpa dihukum karna kelakuannya yang bejat?"
Dulu, Amira mengira. Alkan salah satu manusia yang dia sebutkan tadi. Ternyata Amira salah, lelaki ini lempeng-lempeng saja walau tampangnya seperti buaya. Tapi lelaki ini kelewat baik kalau sudah menyukai wanita ternyata akan dijaga sampai akar-akarnya dan kalau ada yang menganggu jelas akan bertindak.
Dan soal omongannya benar juga, Amira memang malas mengurusi masalah ini. Tapi kalau dibiarkan berarti Amira membiarkan seseorang yang akan menjadi korban kebejatan lelaki ini dong? Amira sama saja membuka celah untuk para lelaki bejat itu melancarkan aksi brengseknya.
"Kamu tahu pemilik Mie instan Rasaku?"
Alkan di ujung sana mengernyitkan keningnya ketika mendengar penuturan dari Amira. Dia sambil membuka pintu mobil ketika sudah sampai di rumah sakit lalu berjalan santai sambil masing memegang ponselnya yang terhubung di telpon Amira.
"Pak Sugio maksud kamu?"
"Iya, dia."
__ADS_1
Brengsek. Emang orang itu selalu tersanding kasus pelecehan tapi tidak dipenjara terus karna backingannya kuat. Orang ini terlalu kuat karna mempunyai orang dalam yang akan bisa mengeluarkannya dengan gampang. Mau si korban menangis darah pun karna orang ini terlalu seperti iblis jadi menggampangkan dirinya melakukan tindakan sesukanya.
"Tapi, yaudahlah. Biarin aja, semoga dia cepet kena karma aja. Aku gak kamu kenapa-kenapa. Aku denger dia punya orang-orang yang kuat di negri ini, jadi susah, Kan. Udah, ya? Biarin aja. Semoga bakal ada orang yang bakal ngurus dia sampai dia membusuk di penjara."