
Semenjak tiga hari yang lalu, pertemuan antara Alkan dan Ami. Ami jadi terus-terusan mendapat buket bunga yang siapa lagi kalau bukan Alkan yang mengirimnya. Lelaki itu selalu menuliskan note nomornya sendiri, ingin Ami hubungi. Cih, setelah melihag bunganya saja dia rasanya ingin membuangkan karna teringat kejadian memalukan itu.
Entah kenapa perasaannya menjadi campur aduk. Antara kesal, malu, dan juga tidak enak, apalagi dia sudah menolong Ami tapi bahkan sikapnya malah dingin seperti ini. Tapi kan Ami sudah bilang dia tidak ingin lagi mereka bertemu dan kalau pun bertemu tolong pura-pura tidak kenal, namun kelakuannya malah terbalik. Dia malah dengan sengaja dia mempermainkan Ami.
Ami jadi penasaran, apa yang laki-laki itu rencanakan. Dia dengan terus-terusan mendekatinya secara langsung seperti kemarin ketika bertemu, dan tidak bertemu pun dia malah megirimnya bunga. Mana bunga putih lagi, dikira Ami ini sudah meninggal apa? Pikiran negatifnya sudah berkeliaran dalam benak gadis itu.
Dia harus segera siaga jika kelakuan pria itu besok masih mendekatinya. Sejujurnya Ami takut akan ada gosip yang beredar tentang mereka, dia takut disangka yang tidak-tidak apalagi para netizen itu suka membuat persepsinya senditi padahal kenyataannya tidak begitu dengan kata lain, mereka itu suka memfitnah dan julid.
"Mbak, aku pengen ikut dong besok." Adik ipar alias Rania dari tadi mengikuti langkah kakaknya itu. Masih dengan membujuk ingin ikut photoshoot besok.
"Kamu kan ada kelas, Ran. Udah fokus aja kuliah." Ucap Mbaknya sambil memotong-motong wortel.
"Ih tapi aku pengen ketemu Mas Alkan, Mbak. pengen liat dia secara langsung, pasti ganteng banget." Katanya dengan senyuman mesem-mesem alias genit.
"Ck, mau kerja apa mau genit sih kamu?" Mbaknya sudah membalikan badannya dengan menghadap Rania dan pisau di tangan Mbak Astrid belum terlepas. Kalau dilihat secara langsung menyeramkan.
Ami yang sedang duduk di ruang tengah bersama anaknya Mbak Astrid menguping pembicaraan dua perempuan rempong itu.
"Ayolah, Mbak. Please, boleh ya?" Masih dengan bujukannya.
"Gak. Kamu kuliah besok."
"Bolos sesekali gapapa kali."
Dan kali ini darahnya Mbak Astrid pasti sudah mendidih kalau mendengar kata bolos yang keluar dari mulut Rania.
"Heh, aku capek-capek kerja dan kamu malah mau bolos? Mau ditusuk hah?" Katanya sambil menunjuk-nunjuk dengan pisau yang di tangannya.
"Mamih serem ya, uty?" Leo yang sedang bermain lego mengajak gibah Ami. Dan ya, Leo punya kebiasaan memanggil Ami dengan sebutan uty alias seharusnya dia memanggil aunty.
"Iya, bentar lagi perang dunia nih. Kamu dukung siapa?"
Mata bulat cerah anak lelaki itu bersinar, wajahnya langsung menunjukan ekspresi dia sedang berpikir. "Aku dukung mamih aja ah, Uty Ani galak!" Katanya membuat Ami ingin tertawa.
"Kalau Uty Ami gimana?" Tanyanya dengan kedipan genit.
__ADS_1
"Hmm... Kalau Uty Ami cantik sama baik."
Setelah mendengar itu akhirnya Ami tertawa dengan renyah, "Anak pinter. Nanti Uty Ami belikan Kinder Joy oke? Doain semoga Uty Ami di endorse sama Kinder Joy biar kamar kamu penuh sama itu."
Anak lelaki itu langsung membuat gerakan seperti orang mau berdoa, "Ya Tuhan, semoga Uty Ami di en- eh apa namanya Uty?" Katanya kelupaan.
"Di-endorse."
"Nah, itu Ya Tuhan. Tolong kabulkan doa Eo, aamiin.." Lalu dia mengusapkan kedua tangannya itu ke wajahnya.
Ami tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aamiin."
...----------------...
Ami berjalan, berkeliling rak-rak snack yang berjejer di depannya. Ami memakai celana hitam, hoodie hitam, ditambah masker hitam dan kacamata hitam bertengger di matanya, membuat kesan seperti ninja atau maling mungkin. Dia sengaja berpenampilan seperti ini agar tidak ada fans yang mengenalnya, maksudnya dia malas berbasa-basi. Orang-orang yang melewati Ami dari tadi memandangnya dengan aneh.
Snack kesukaannya ternyata ada di paling bawah, membuatnya harus membungkukan badannya. Dan malah membuat kacamatanya lepas begitu saja. Sekarang harus apa yang dia salahkan, kacamatanya yang kebesaran atau hidungnya yang pesek tidak bisa menahan kacamata itu.
Ami berdecak lalu mengambil kacamata itu tanpa langsung memasangnya, mengambil snack itu lalu dia berdiri dan berjalan mundur. Tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang, membuat Ami langsung membalikan badannya.
"Eh, maaf-maaf saya gak sengaja." Katanya menundukan wajahnya.
Dan kali ini mungkin dunia memang sedang tidak berpihak padanya. Atau mungkin ini adalah karma karna dia selalu membuang bunga-bunga kiriman dari pria itu. Makanya, sekarang dia ada di depannya langsung, mau melabraknya mungkin atau memang tidak sengaja bertemu. Eh, tapi kalau sengaja bagaimana? Jangan-jangan dia selama ini menguntit Ami.
"Kamu? Kamu ngapain kamu disini?"
Pria itu terkekeuh pelan, "Menurut kamu? Di tempat berbelanja ini saya bisa nyuci gak?"
"Apa sih ngaco." Katanya sambil memutarkan bola matanya.
"Ya jelas saya belanja dong."
"Boong! Kamu pasti ngikutin saya kan?" Tudingnya membuat kerutan dahi dari si pria itu.
"Geer banget?"
__ADS_1
"Buktinya kamu gak bawa troli kalau sekarang lagi belanja." Masih kekeuh dengan tudingannya itu.
"Saya banyak uang, jadi saya bisa minta tolong bawain troli saya. Gak perlu saya yang dorong-dorong, ngerti kamu?"
Ami langsung mengumpat dalam hatinya betapa sombongnya pria di depannya ini.
"Terus sekarang mana trolinya? Siapa tau kamu nipu kan?"
"Kok kamu mau tau banget? Perhatian juga ya?"
Ami langsung membuang wajahnya ke arah lain, yang penting tidak melihat wajah menyebalkan pria ini.
"Kamu udah belanjanya?" Tanyanya.
"Ngapain tanya-tanya." Jawabnya masih dengan nada sewot.
"Jawab aja."
"Udah. Jadi tolong minggir, saya mau lewat."
"Saya juga udah."
"Terus apa hubungannya sama saya? Mau minta dibayarin maksudnya?"
Alkan menaikan alisnya, kebingungan. "Kamu ini emang suka mikir negatif terus ke orang ya?" Tudingnya membuat Ami kikuk karna emang itu faktanya.
"Reon!" Panggilnya kepada seseorang di belakang pria itu.
Ami melirik ke arah sana, disana ada dua pria. Yang satu memegang troli dan satunya lagi sedang memegang ciki coklat dengan berpenampilan gagah. Ami jadi berpikir, ternyata cowok kekar begitu juga suka jajanan anak kecil ya? Lucu juga.
Pria yang tadi sedang memegang ciki itu langsung melempar cikinya ke troli yang di pegang temannya, lalu dia sedikit berlari menghampiri Alkan. "Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong bawain troli dia langsung ke kasir. Terus anterin ke mobilnya, bayarin juga sekalian." Perintahnya yang langsung dipatuhi.
"Eh, apa-apaan sih?" Ami mengecilkan suaranya takut terdengar oleh orang lain. "Kamu jangan sembrangan bayarin belanjaan aku, emangnya aku gak mampu apa? Dikira aku wanita bayaran?"
__ADS_1
"Ami..." Pria itu mendekat ke arah Ami, dengan refleks Ami memundurkan badannya namun ditahan lengannya oleh Alkan, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Ami membuat gadis itu semakin tegang. "Menurut kamu apa saya juga lelaki bayaran? Kamu jnget pernah bayar saya ketika kamu minta tolong masuk mobil saya?" Bisiknya di dekat telinga Ami langsung.
Ami terdiam menyadari tindakannya kala itu, dulu kan Ami tidak tahu kalau lelaki ini yang masuk list orang terkaya di Indonesia. Kalau dipikir-pikir mungkin gaji Ami tidak seberapa bagi Pria itu. Ami merasa jadi meremehkannya dulu. Ya Tuhan, kenapa dia selalu membuat hal memalukan.