The Singer

The Singer
014. Because I Miss You


__ADS_3

Kamarnya gelap gulita, sengaja dia matikan. Bahkan ponselnya saja dia matikan, orang-orang rumah sedang keluar. Katanya Leo ingin menonton film keluaran baru. Kalau Rania entah kemana, yang pasti sedang keluyuran tidak ingat pulang.


Matanya masih membuka, ingin tidur namun dari siang sudah tidur. Minggu paginya tidak ada yang menarik selain tiduran di kasur sambil melamun lalu ketiduran lalu melamun lagi. Perutnya berbunyi namun dia terlalu malas untuk bangun mengambil makan, stock snack di kamarnya habis. Bibi pembantu di rumahnya juga ikut bersama Mbaknya pergi ke bioskop. Mau memesan pun dia terlalu malas untuk mengambil ponsel yang di ujung sana sedang dicharge.


Helaan nafas hanya dia bisa hembuskan. Ami jadi memikirkan hal dua hari yang lalu, saat Alkan mengantarnya pulang. Pria itu seperti benar-benar berniat mendekatinya, Ami tidak bodoh amat soal perlakuannya akhir-akhir ini. Hanya saja, Ami takut kalau laki-laki itu hanya ingin mempermainkannya, Ami terlalu enggan mengambil resiko untuk sakit hati karna urusan yang tidak penting-penting amat. Dia hanya harus fokus pada karirnya.


Mbaknya selalu menyuruh Ami mengambil celah, membuka hati untuk Alkan. Katanya, lumayan untuk ketenaran dan ditambah pasti akan mendapat cipratan uang dari lelaki itu. Tapi Ami terlalu malas mengambil resiko dan siapa yang akan menjamin kalau nantinya Ami tidak akan hanyut dalam permainan pria itu? Maka dari itu, dia harus memasang perisai terlebih dahulu sebelum dia terserang virus budak cinta.


Dering ponsel terdengar, kamar Ami tidak hening lagi karna terisi suara dering telponnya. Ami menimbang-nimbang, mengangkatnya atau membiarkannya saja?


Karna dia malas kuadrat maka dia mengambil pilihan mengabaikannya, ponsel itu berhenti berdering. Namun tidak seling lama, berdering kembali membuat kerjapan cahaya yang memasuki kegelapan.


Akhirnya Ami bangun, duduk lalu mengusap wajahnya gusar. Mengambil ponsel itu yang berada di nakas. Melihat siapa yang menelponnya, ponsel itu menampilkan nama Alkan Ganteng. Ami mengernyit, kenapa sih dia belum mengganti juga nama alay itu? Dan juga sepertinya lelaki ini memiliki feeling yang kuat, karna baru saja dipikirkan sudah muncul langsung di ponselnya. Jangan sampai di hadapannya juga.


Ami langsung menggeser fitur mengangkat telpon itu, "Hallo?"


"Kamu di rumah? Saya di bawah nih tapi rumah kamu gelap banget," Katanya dengan suara di barengi suara motor.


"Bawah mana?" Tanya Ami sambil berjalan mendekat ke jendela, membuka jendela itu.


"Rumah kamu. Keluar coba, cepetan." Perintahnya lalu telpon itu dimatikan begitu saja tanpa ada waswiswus terlebih dahulu.


Jendela itu memperlihatkan Alkan yang dibawah sana sedang menyender pada mobilnya. Ami langsung menutup kembali gordennya, pergi keluar dari kamarnya untuk ke bawah. Setiap ruangan gelap, Ami lupa menyalakan lampu rumah karna seharian ini dia tidur. Dia menyalakan lampu-lampu setiap ruangan terlebih dahulu sebelum keluar dari rumahnya.


Ami melangkahkan kakinya yang terbalut sendal tidur berbentuk kelinci itu mendekat pada Alkan yang sedang melihatnya, "Mau ngapain?" Tanya Ami ketika mereka sudah saling berhadapan.


Alkan memperhatikan penampilan Ami yang tanpa memakai riasan pada wajahnya, rambutnya yang sedikit acak-acakan, wajahnya khas orang bangun tidur tanpa cuci muka terlebih dahulu namun tetap menawan, baju tidurnya bergambar minion kuning. Alkan tertawa pelan, ini terlalu lucu. Ternyata tidak sia-sia dia kemari, lumayan mendapat hiburan.


Wajah Ami cemberut, "Heh, ngapain ketawa?" Sentaknya ingin memberhentikan tawa Alkan.


"Ngga, ngga apa-apa. Keluar yuk? Kamu udah makan?" Kata Alkan sambil membukakan pintu penumpang di sebelah tempatnya menyetir.

__ADS_1


"Males, saya gak laper. Pulang aja sana." Tolaknya namun bertolak belakang dengan perutnya yang keroncongan menimbulkan bunyi.


"Kamu gak bisa bohong. Ayok masuk!" Dia masih setia memegangi pintu mobil itu.


"Saya males ganti baju."


"Kaya gitu aja, gapapa. Kamu masih tetep cantik kok." Pujinya yang kejujuran tapi kalau menurut Ami itu hanya buaian semata.


"Kalau kamu lupa. Aku artis," Pengingatnya.


"Oiya ya? Sebentar," Dia berjalalan ke belakang mencari sesuatu, mengambil hoodie dalam jok mobil belakangnya lalu berjalan kembali mendekat ke arah Ami, menyerahkan hoodie itu. "Nih, pakai ini. Biar gak dingin juga." Katanya, sedangkan dia hanya pakai kaos pendek putih polos.


"Emangnya kita mau kemana sih?"


Ami menerima hoodie itu lalu memakaikannya pada tubuhnya, celana tidur pendeknya bahkan malah tertutup oleh hoodie itu. Hoodie Alkan terlalu besar untuk tubuh kecil Ami walau Ami tinggi untuk seukuran perempuan di dalam negri ini.


"Saya udah booking tempat sih. Kamu tinggal ikut aja ayok."


"Aneh-aneh apa sih? Kan kita cuman mau makan."


"Soalnya kamu suka aneh-aneh!" Fitnah Ami eh walau faktanya sih.


Alkan terkekeuh kembali, "Tapi kalau kamu mau aneh-aneh boleh. Kamu mau?"


Ami tidak menjawab candaan dari Alkan. Perempuan itu langsung masuk pada pintu mobil yang sudah dibukakan untuknya, dari pada dia menanggapi orang tidak waras mending masuk ke dalam mobil, duduk atau melanjutkan tidur.


Alkan itu masuk dalam mobilnya, memasang seatbelt lalu melirik Ami yang belum memasang seatbeltnya. "Seatbeltnya," Tegurnya.


"Emangnya jauh?" Bukannya memasang seatbelt secara langsung, dia malah bertanya sesuatu.


Bukannya menjawab juga, Alkan malah mendekatkan badannya. Membungkuk untuk mengambil seatbelt di samping Ami lalu memasangkan pada tubuh Ami. "Jauh atau pun deket. Harus tetap pakai, biar aman." Katanya dengan posisi denggan posisi erlalu dekat. Mengingatkannya kala kejadian saat di Bali, membuatnya berdeham pelan.

__ADS_1


Ami pun ikutan menjadi canggung, dia melihat ke arah jendela sampingnya.


"Kamu tidur dari jam berapa?" Tanya Alkan memecahkan kecanggungan.


"Dari siang."


"Baru bangun tadi? Kamu tidur atau pingsan?"


"Udah dua hari saya kurang tidur karna habis ngisi acara di luar kota." Jelasnya.


Alkan mengangguk-angguk sambil menyetir membelokan mobilnya untuk keluar dari komplek perumahan Amira. "Pantesan saya telponin gak pernah kamu angkat."


Ami memajukan lengannya ingin menyalakan musik pada mobil itu, "Boleh nyalain musik?" Ijin Ami.


"Boleh."


Setelah mendapat izin dia menyanbungkan dengan dengan ponselnya untuk menyalakan playlist musik dalam ponselnya. "Karna saya sibuk, udah dua hari ngisi acara di bandung sama di garut jadi kurang tidur." Jelasnya.


"Jadi kamu bayar hari ini semua kurang tidur kamu?" Katanya dengan kekeuhan.


"Ya? Kayanya. Lagian kamu ngapain sih gabut amat nelponin saya mulu?" Jari Ami masih menscroll ponselnya bingung mau menyalakan lagu apa. "Kamu ada saran lagu?" Tanyanya kembali.


"Because I Miss You." Jawabnya dengan pendek.


"Hah?" Ami kebingungan karna entah Alkan menjawab pertanyaannya yang mana. Yang pertama atau yang kedua soal menanyakan lagu.


"Lagu. Kamu tadi nanya saran lagu kan?"


"Oh..." Jarinya langsung mengetik judul itu dan langsung memencet play pada musik itu.


"Itu juga jawaban dari pertanyaan yang tadi kata kamu 'kenapa'."

__ADS_1


__ADS_2