
Ruang make up itu riuh dengan beberapa orang. Tiga orang sedang duduk dan dirias oleh perias artis yang profesional. Mereka sedang bersiap-siap untuk melakukan photosboot di perusahaan ini.
Sesil dari tadi selalu memandanginya dengan tatapan yang menurut Ami sulit diartikan, entah dia marah padanya. Tapi marah karna apa coba? Apa dia punya salah? Ami dari tadi jadi gelisah. Ditambah dia jadi takut mengagalkan pekerjaanya ini. Dia terus-terusan menarik nafasnya lalu membuang dengan pelan, mencoba menenangkan kegugupannya.
Ami berada di tengah-tengah kedua orang yang baru saja dikenalnya itu. Seperti yang sudah dijelaskan, Ami itu sulit beradaptasi. Dari tadi dia hanya mendengar obrolan dari kedua orang di sampingnya sampai rasanya, apa boleh Ami pindah saja? Agar mereka bisa mengobrol tanpa halangan. Yaitu, Ami.
"Btw, Ami?" Panggil Sesil ketika mereka sudah berdiaman dengan Langga.
"Ya?" Ami menjawab singkat karna periasnya sedang memasangkan lipstick.
"Kamu ada hubungan apa sama Alkan?" Tanyanya.
Ami jadi takut orang yang berada di ruangan ini nantinya membuat kesimpulan lalu menjadi gibah keman-mana. Karna, informasi gibah itu selalu melesat dengan cepat bahkan sinyal 4g saja kalah.
"Ngga ada kok."
"Tapi kok kalian kaya keliatan deket?" Tanyanya penuh selidik dari cermin yang memantulkan pantulan mereka.
"Kita cuman sekedar kenal doang. Kemarin, mungkin dia cuman iseng aja. Kayanya dia emang orang yang suka bercanda kan? Hehehe." Katanya dengan tawa garing agar tidak terlalu tegang.
"Oh ya? Kayanya tau banget tentang Alkan. Aku aja yang udah kenal setaun lebih selalu liat dia itu dingin." Katanya membuat Ami mati kikuk karna alasannya itu jelas salah.
Ami tidak tahu harus menjawab apa, dia terdiam berpikir mencari alasan lain.
"Emang kenapa sih kalau Ami sama Pak Alkan ada hubungan? Kamu suka sama Pak Alkan?" Langga jadi menimbrung dengan celotehan para gadis di sampingnya.
"Ya? Mungkin? Siapa yang gak suka sama modelan kaya Alkan kan?" Katanya dengan wajah datar tanpa takut orang-orang di belakang mereka bisa membocorkan hal itu.
__ADS_1
Atau mungkin Sesil sudah biasa dengan edaran gosip tentangnya. Berbeda dengan Ami, Ami adalah orang yang anti dihadapi dengan gosip negatif. Maka, dari itu dia jarang mengikuti sosial luar di lingkungannya.
"Kamu suka juga sama Alkan, Mi?" Tambah Sesil dengan to thet point.
"Ngga."
"Serius? Gak munafik kan?"
Akhirnya Ami bisa tau, kalau Sesil ternyata tidak selembut itu. Dia kira sikap ramahnya memang asli ternyata palsu. Atau mungkin karna dia sedang dilanda cemburu maka perkataan kasarnya keluar.
"Jangan bikin ribut. Bentar lagi mulai!" Langga melerai aura panas di ruangan ini.
Ami bisa melihat dari kaca, orang yang sedang berada di belakang mereka sedang menguping. Ami merapalkan doanya supaya dia tidak masuk ke dalam lambe turah atau tempat gosip lainnya yang membuat dia kepalang pusing.
Sesil pergi duluan, keluar dari ruangan ini. Menyisakan Langga, Ami, dan beberapa perias. Ami menghelakan nafasnya sudah melewati ujian hidup seperti ini.
"Ami! Ayok ke depan! Kita briefing dulu." Mbaknya itu menyusul, mengajak Ami untuk pergi ke depan. Bersiap dengan pekerjaan yang sangat tidak Ami sukai.
...----------------...
Sejak tadi mata Alkan tidak lepas memandang Amira. Sekretaris dan Asistennya bahkan heran. Dia sebenarnya tidak harus banget melihat secara langsung kegiatan ini. Karna penanggung jawabnya adalah ketua Tim Kreatif. Tapi entah mengapa dia tiba-tiba ingin menonton secara langsung berjalannya pekerjaan ini, membuat staff yang berada disana menjadi terdiam karna takut melakukan kesalahan. Alkan memang terbilang tegas, berbeda jika Ibunya yang menghandle pekerjaan ini, dia kelewat halus dengan bawahannya bahkan jika ada yang melakukan korupsi pun tidak ketauan.
Sudah puluhan kali Alkan membereskan kasus korupsi yang berada di perusahaan ibunya ini. Dia bahkan heran sendiri mengapa ibunya bisa kebobolan seperti ini dan bahkan masih mempertahan orang yang korupsi itu. Perusahaan ini terlalu keren untuk diijak pengecut seprrti mereka.
Alkan melihat setiap gerak gerik yang Ami lakukan, bahkan melihat bagaimana jarak kedekatan antara Langga dan Amira. Entah mengapa membuat Alkan menjadi panas, padahal ruangan ini terdapat AC yang menyala.
Sesil selalu bertingkah untuk mengambil atensinya, menurut Alkan itu cukup berlebihan. Karna fokusnya hanya menatap Ami. Sepertinya pelet Ami terlalu kuat sampai Alkan sendiri tidak bisa mengalihkan matanya, kalau pun bisa dia rasanya enggan melewatkan pemandangan itu walau hanya kedipan mata.
__ADS_1
Randy salah satu Tim Kreatif mengumumkan waktunya untuk istirahat. Para artis itu langsung berjalan menyingkir ke pinggir menghampiri managernya atau asistennya meminta minum.
Namun, berbeda dengan Sesil. Dia malah menghampiri Alkan dengan senyuman kelampau manisnya.
"Hi, Alkan. Aku kira kamu gak akan ada disini. Ternyata kamu nonton ya? Aku dari tadi jadi gugup, hahaha." Candanya.
"Iya, saya mau lihat Ami." Ucapnya terlalu jujur dan itu semakin membuat Sesil kebakaran jenglot.
"Oh ya? Kayanya Ami gak peduli soal itu. Kenapa kamu gak fokusin ke aku aja, dari pada ke Ami yang jelas-jelas gak ada apa-apanya gak sih?" Sindirnya membuat Alkan mengernyitkan dahinya.
"Maksud kamu gak ada apa-apa itu apa?"
"Dia gak punya apa-apa selain suaranya yang bagus."
"Dia punya sikap yang bagus dari pada kamu." Katanya sambil menayap Ami dan dibalas oleh Ami dari ujung sana. Mata mereka bersitatap lalu Ami yang langsung memutuskan tatapan itu.
"Ahahaha, Alkan apa sih? Aku cuman bercanda kali tadi. Itu lagi latihan akting aja. Gimana keren gak?"
Kalau Personal Asistennya berani mungkin dia akan julid sekarang juga, menyinyir kalau wanita alias artis di depan bosnya itu sungguh freak. Dia bahkan heran, ternyata wanita secantik itu bisa gila juga ya? Sungguh, memang di dunia ini tidak ada yang sempurna.
"Saya gak peduli tentang kamu, Sil. Bisa tolong minggir?"
"Mau kemana sih emang? Aku boleh ikut?"
Alkan menghela nafasnya, mungkin sudah letih menanggapi wanita cerewet itu. "Mau ketemu Ami. Kamu mau ikut jadi nyamuk antara saya dan dia?" Jelasnya. Lalu, Alkan pergi meninggalkan Sesil disana.
Sesil menatap kepergian Alkan. Dia mulai kehabisan kesabarannya. Namun, bukan Sesil namanya kalau pantang menyerah. Bagaimana pun caranya, dia harus mendapatkan Alkan sebelum Ami menjerat lelaki itu duluan. Ami bahkan tidak cocok jika disandingkan dengan Alkan. Pikiran Sesil ketika melihat bersama seperti sekarang. Dia bisa melihat Alkan mengajak Ami berbicara walau Ami acuh dengan kehadiran lelaki itu.
__ADS_1
Hah... Sok jual mahal.