The Singer

The Singer
026. Jiani Wu


__ADS_3

Rambut bergelombang berwarna merah itu terombang-ambing. Mengikuti arah larian kecil manusia setengah bidadari itu. Amira melihat ke arah Alkan, lelaki itu membuat ekspresi terkejut dan tersenyum menyambut wanita yang cantiknya kelewatan. Dia merentangkan tangannya untuk menyambut ingin memeluk.


Namun berbanding balik dengan gadis mungil itu, dia malah memukul dada Alkan dengan kesal. Amira bahkan yang menontonnya ikut terkejut. Bukan datang dengan salam atau pun sapaan, dia malah melemparkan pukulan bertubi-tubi. Adegan ini menjadi seperti Alkan ketauan selingkuh bersama Amira karna Jiani memandang Amira yang tatapan yang sulit Amira tebak.


Alkan langsung menahan kedua tangan kecil itu,"Hey, hey, tenang-tenang, oke? Kenapa sih? datang-datang malah main pukul."


Gadis itu melepaskan tangannya dari cengkramannya, "You punya hubungan sama cewek yang namanya Sisil atau Susil, ya? Ah pokoknya yang lagi digosipin itulah!" Wajah putihnya itu sedikit memerah karna memendam kesal, bahkan mata kucing sipitnya itu semakin sipit karna kemarahannya.


"Hah? Maksud kamu Sesil?" Tanyanya memastikan.


"Iya, cewek itu siapanya Kakak?!" Suaranya naik menjadi satu oktaf.


"Tenang dulu, oke? Ngomongnya biasa aja. Kamu dapet informasi dari mana sih, Jia?"


"Dari akun Lambe Turah."


Amira menganga, ternyata artis papan atas seperti dia, bisa mempercayai akun begituan ya? Dia kira artis sepertinya akan selektif ketika memilah informasi.


"Sejak kapan sih kamu ngikutin berita gituan?" Mendengar itu Alkan menjadi kesal.


"Karna fansnya Jia, tag-tag Jia disana. Kan Jia jadi penasaran..." Cicitnya mulai takut pada nada Alkan.


"Astaga... itu cuman hoax, kamu jangan percaya, oke? Kalau aku punya pacar lagi pun yang ada bakal digantung sama kamu kalau gak dikenalin dulu ke kamu."


Perempuan itu berdecak pelan lalu melirik pada Amira dengan mata sipitnya semakin menyipit, menyelidik. "Terus itu siapa?" Tunjuknya dengan dagunya.


Alkan memegang punggungnya lalu mendorong dengan pelan untuk agak maju kedepan, sejajar dengannya, karna dari tadi dia belakang menatap drama live streaming ini.


"Ini Amira, Amira ini Jiani. Ad-"

__ADS_1


"Mantannya Kak Alkan," Serobotnya menyodorkan tangannya.


Ah, mantannya. Berarti yang diceritakan saat malam itu tentang perempuan yang diangkat menjadi anak adalah Jia? Sungguh amat makmur pasti hidup anak ini. Mempunyai dua keluarga yang sama-sama kayanya. Pasti dia selalu kelebihan uang, apa pernah dia bingung ingin membelikan apa karna uangnya tidak habis-habis?


Amira langsung mengambil uluran tangan itu, saling bersalim. Bahkan tangannya saja pas dengan warna kulitnya yang berwarna susu dan sangat lembut. Ini keterlaluan, perempuan di depannya ini terlalu sempurna dalam hidupnya. Amira jadi sedikit iri.


"Amira," Katanya menyembut dengan senyuman hangat.


"You sapanya Alkan?"


"Yang sopan kamu anak kecil." Tegur Alkan pada Jia.


Jia hanya melirik Alkan dengan sengit. "Suka-suka i lah."


"Euh..."


Wajah kecilnya itu berkerung, Amira jadi takut dia tidak disukai. Kenapa juga dia malah gugup?


"Serius? Sejak kapan?"


"Kamu pengen tau banget sih?" Alkan malah membalas semakin membuat kesal Jia.


"Ish! Jia harus nyeleksi dia dulu sebelum lolos bisa jadi pacar kamu." Penuturannya sambil melihat penampilan Amira dari atas sampai bawah. Padahal Jia lebih pendek darinya, tapi entah mengapa auranya sangat mengintimidasi.


"Memangnya dia mau masuk perguruan tinggi apa? Pakai diseleksi segala."


"Haruslah! Cewek yang you pacarin gak boleh asal-asalan. I harus tau dia cocok sama you apa ngga." Katanya sedikit membuat Amira tersinggung, entah mengapa dia menjadi kebingungan sendiri dan takut dengan makhluk kecil di depannya.


"Astaga." Alkan hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Gadis itu melirik jam tangan yang melingkari lengan cantiknya itu, "God, i harus buru-buru ada janji. Lain kali i harus minjem dia, eh siapa tadi nama you?"


"Amira." Katanya dengan pelan.


"Nah, ya. Amira, nanti kapan-kapan kita harus shopping bareng. I harus nyeleksi you orangnya kaya apa, dah, bye!" Lalu dia pergi dengan larian kecilnya lagi.


Amira memandang kepergian gadis itu, namun gadis itu berbalik menuju ke arah mereka lagi.


"I lupa!" Dia mengambil lengan Alkan untuk menyalimkan tangannya pada jidatnya. "Bye, Kak! Bye Ami!" Dia berdadah-dadah dengan lariannya.


Dia apa tidak apa tidak takut jatoh ya? Pikir Amira melihat langkah kaki itu.


"Maafin Jia, ya? Dia emang gitu, agak protektif dan posesif ke orang-orang terdekatnya. Makanya adiknya sampai sekarang gak pernah pacaran." Jelasnya sambil mengajak Amira kembali jalan memasuki kantor itu.


"Gapapa." Kata Ami memaklumi, apalagi gadis itu kan sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Alkan, pantas saja dia bersikap begitu.


Mungkin jika Amira menjadi Jia pun dia akan protektif pada adiknya atau pun kakaknya. Tapi, tidak deh. Dia dulu membebaskan kakaknya berpacaran dengan siapa saja. Apalagi kakaknya itu saat dulu di cap playboy karna selalu bergonta-ganti pacar, dia adalah definisi cowok red flag dan brengsek sampai sekarang pun dia sama brengseknya. Pergi, kabur entah kemana. Meninggalkan keluarganya begitu saja tanpa jejak setitik pun.


"Jia aslinya baik kok, dia akan sangat baik kalau kamu baik sama dia. Dia agak judes di awal karna menurutnya itu adalah sikap melindungi dirinya dari orang-orang munafik di awal. Entah maksudnya apa, yang jelas aslinya dia itu ramah dan manja. Ketika kamu dekat dia, kamu bakalan ngerasa punya adik." Jelasnya menjelaskan sesosok Jia yang pernah bersinggah di hati pria yang sekarang sedang berjalan bersamanya.


Amira jadi bertanya-tanya, apakah pria ini benar-benar sudah move on? Apalagi gadis itu cantiknya keterlaluan, pria tidak waras mana yang berani melepaskannya. Lalu alasan mereka putus karna apa? Amira benar-benar ingin tahu, apa harus dia mulai mencari tahu sosok lelaki ini.


Namun untuk apa? Memangnya dia siapanya? Amira kan sudah berianji untuk tidak mengikutinya terlalu jauh. Atau sepertinya dia yang harus mulai menjauh dan memberhentikan Alkan sebelum semuanya terlambat.


Atau mungkin, memang sudah terlambat. Apa Amira benar-benar sudah terbawa arus? Karna sesak cemburu ini nyata bukan karna Sesil saat didekat Alkan, namun karna sosok Jia yang pernah singgah dalam hidup Alkan menjadikan sosok wanita yang dia cintai.


Dia memegangi dadanya, merasakan sakit. Menatap punggung Alkan di depannya yang sedang memencet tombol lift itu.


Bolehkah dia jatuh cinta kembali? Bolehkah dia jatuh di dalam lubang yang sama kembali? Pertanyaan itu diberikan kepada dirinya sendiri dan tidak pernah akan terjawab atau mungkin akan nantinya, ketika dia sudah menemui akhir dari arus yang dia ikuti ini.

__ADS_1


__ADS_2