
Sedari tadi Alkan mencoba mengajak ngobrol Ami, namun Ami selalu mengalihkan dengan berbicara dengan yang lain. Bisa terlihat di wajah tampan lelaki itu bahwa dia teramat kesal dengan sikap Ami kali ini. Kalau bisa mungkin dia ingin mengajak Kabur Ami, agar mereka biar berbicara berdua.
Dan entah ide darimana rasanya Alkan ingin mendekati gadis itu. Padahal kalau disandingkan bergini, Sesil lebih cantik daripada Ami. Entah pelet apa yang gadis itu gunakan, Alkan lebih tertarik padanya daripada aktris itu.
"Kamu bukannya gak suka sayuran?" Tanya Alkan pada Ami.
Gadis itu menoleh ke samping, karna Alkan duduk di sampingnya dan Sesil di samping Alkan juga. Jadi, Alkan duduk di tengah-tengah para gadis ini. Sedangkan tiga bangku di depannya terisi oleh Personal Asistennya, manager Ami dan Langga yang daritadi tidak ikut mengobrol.
"Hah? Tau darimana?" Tanya Ami.
"Internet. Katanya kamu gak suka sayuran." Katanya dengan lempeng, daritadi memperhatikan gerak-gerik Ami.
"Oh... Euh, itu sebenernya ngasal aja." Katanya sambil menyuapkan sayuran ke dalam mulutnya.
Alkan jadi merasa dongkol sendiri karna kemakan omongan internet.
Dan Ami itu punya kebiasaan kalau menjawab interview asal-asalan. Karna menurutnya tidak penting orang lain tau tentangnya.
"Aku yang gak suka sayuran, Kan." Kata Sesil yang daritadi ikut menimbrung jika Alkan bertanya pada Ami.
Alkan tidak menjawab celotehan dari Sesil. Bahkan terlihat wajah kesal Sesil namun dia masih belum menyerah juga untuk mengajak ngobrol Alkan dan Alkan pun sama tidak mengajak ngobrol Ami.
Manager Ami daritadi memperhatikan tingkah adik iparnya yang acuh itu, membuat dia greget sendiri ingin menabok bahu si adik ipar karna sudah bertingkah tidak sopan begitu.
Alkan mengambil sayuran yang ada di piringnya untuk dipindahkan ke piring Ami, membuat yang lain ikut menyaksikan tingkah bos besar itu. Kecuali Langga dia masih sibuk dengan makanannya.
"Saya bukan kambing, Pak."
"Katanya kamu suka sayuran."
"Ya kalaupun saya suka sayuran. Gak sebanyak ini juga. Ambil balik." Perintahnya yang diacuhkan oleh Alkan karna pria itu baru memulai memakan makanannya.
Karna merasa tidak ada pergerakan dari Alkan. Tangan Ami langsung mau menyumpit sayuran itu untuk dipindahkan kembali ke piring Alkan.
Belum sampai ke piring Alkan, tangannya sudah dipegang, diarahkan kembali ke piringnya. "Udah kamu makan aja. Biar mirip kambing." Celetuknya dan disautin tawa dari Langga dan sesil atau mungkin Mbaknya Dan Personal Asistennya Alkan pun sedang menahan tawa dari ledekan itu.
Ami berdecak kesal, "Maksudnya? Saya beneran mirip kambing?"
"Iya. Kambing kan lucu. Kamu juga lucu berarti." Katanya dengan senyuman yang menyebalkan.
__ADS_1
Ami tidak membalas lagi, sekarang dia benar-benar fokus pada makanannya.
"Ibu kamu sakit apa, Alkan? Aku gak tau kalau Tante Kirana sakit. Dia di rawat dimana? Nanti aku mau jenguk."
"Ibu saya gak di rawat di rumah. Dia lagi gak bisa dikunjungi oleh siapa pun selain kerabat." Jelasnya.
"Oh, begitu ya. Kalau gitu aku titip salam ya? Aku kangen ketemu Ibu kamu, udah lama banget gak ketemu." Katanya dengan wajah terlihat sedih.
"Kamu bisa ketemu nanti kalau ibu saya udah sembuh."
"Boleh. Sama kamu ya? Kita nanti makan bareng."
"Oke, saya juga akan ajak Ami. Kamu mau kan?" Tanyanya pada Ami sambil memegang kepala Ami yang tadinya sedang menunduk, menyuapkan makanan.
Ami melirik kedua orang itu dengan raut kebingungan mau menjawab apa, terlebih dia merasa tidak enak dengan Sesil. Gadis itu baik padanya, tapi Alkan sangat menyebalkan.
"Gak bisa. Aku sibuk." Jawabnya dengan melepaskan tangan pria itu yang berada di atas kepalanya.
"Gitu ya? Astrid kamu bisa nanti tolong luangkan jadwal Ami kalau saya mau ngajak dia bertemu?"
Mbak Astrid yang dari tadi sedabg sibuk memainkan Tabnya langsung mendongak menatap manusia yang berada di depannya. "Eh, ya boleh diatur kok, hahaha."
Ami heran ini manusia kenapa sih? Batu sekali, rasanya Ami ingin menimpuki orang ini dengan sumpit yang sedang dia pegang atau dia guyur saja pakai minuman yang ada di depannya ini.
"Dari tadi Pak Alkan nyoba deketin Ami terus, suka Ami, Pak?" Langga yang asalnya dari tadi tidak peduli. Sekarang malah bertanya dengan rasa keingin tahuannya itu.
"Saya dan Ami kan saling kenal, jadi ya begitu deh. Iyakan, Mi?" Katanya masih menatap Ami.
Ami mulai gugup, ketakutan Alkan akan membocorkan kejadian kemarin ketika mereka bertemu kedua kalinya. Bahkan Mbak Astrid juga menatap Ami dengan wajah keheranan, apalagi Ami ini type orang yang susah berkenalan dengan orang.
"Kenal dari mana?" Tanya Mbaknya.
"Pas di Bali kemarin." Jawabnya dengan enteng sedangkan Ami sudah kalang kabut, kebingungan sekaligus resah.
"Loh? Pas dimananya?"
"Pas acara Pak Brata. Saya juga hadir disana." Ami rasanya ingin menutup mulut pria di sampingnya ini, agar diam.
"Oiya? Saya gak nyangka kalian kenalan. Kok bisa? Padahal Ami itu typical susah diajak berkenalan."
__ADS_1
Alkan tidak menjawab langsung, melainkan menatap Ami terlebih dahulu dengan waktu singkat. "Kenapa ya? Menurut kamu kenapa, Ami?" Pertanyaan itu di lemparkan kepada Ami.
Ami memutar otaknya mencari ide untuk berbohong.
Ya Tuhan, maafkan Ami telah berbohong dalam waktu terdesak ini.
"Karna dia ganteng." Katanya spontan, otak dan mulutnya tidak bisa diajak kerja sama memang.
Alkan tertawa dengan renyah memasuki telinga Ami dengan sopan. Tangannya mengelus rambut Ami tanpa izin, jika Ami bisa mengumpat maka dia akan berkata kasar di depan wajah tampan yang tampan itu.
"Ami anak ceroboh." Katanya untuk penutupan setelah mereka selesai makan lalu berencana untuk pulang atau melanjutkan perkejaan yang berbeda-beda.
......................
Mereka berjalan beriringan sedangkan Ami tertinggal di belakang, di depannya Alkan yang sedang mengobrol dengan asistennya, mengobrolkan jadwal meeting mereka selanjutnya.
Alkan melirik ke belakang, melihat Ami yang sedang berjalan sambil melirik-lirik sekitarnya. Dia menyuruh menyuruh asistennya berjalan duluan karna dia ingin berjalan sejajar dengan Ami.
"Kamu bisa ditinggalin sama Manager kamu, kalau jalannya lama begini." Kata Alkan menyadarkan lamunan itu.
Dia melirik Alkan sebentar lalu kembali melihat ke arah lain. "Biarin."
"Biar bisa kabur lagi?" Tebaknya.
"Apa sih?" Ami memulai kejutekannya.
Alkan tersenyum remeh, "Ami." Panggilnya tanpa langsung ke intinya.
"Kenapa?"
"Kamu lupa ya? Saya megang rahasia kamu. Saya bisa aja nyebarin kejadian kemarin, kalau saya mau."
Ami kali ini menatap Alkan dengan serius, "Kamu mau menghancurkan karir aku?"
"Kamu mau?"
"Alkan, aku tau kita emang gak sekenal itu. Tapi aku tau kamu orang baik. Jadi, tolong, tetap rahasiakan ya? Please."
"Kalau gitu. Berhenti bersikap dingin di depan saya." Pintanya lalu melenggang pergi menyusul asistennya itu.
__ADS_1
Ami menatap punggung pria itu yang mulai menjauh. Dia mengusap pelan wajahnya karna kejadian kemarin, itu sangat membuatnya semakin sial.