
Hal paling gila yang pernah Amira lakukan dalam mimpi adalah memimpikan hal aneh. Ini terlalu aneh kalau disandingkan dia pernah bermimpi menjadi seorang unicorn ketika saat kecil dulu. Masalahnya dalam mimpinya adalah dia berciuman mesra dengan Alkan.
Ketika matanya baru di pagi hari, dia langsung menyadari sesuatu hal yang sangat absurd. Rasanya dia sudah berdosa karna memimpikan seseorang dengan sebagai objek hal yang tidak senonoh. Rasanya Amira ingin menghapus ingatannya soal mimpi itu. Tapi itu seriusan mimli kan? Bukan kenyataan?
Amira mendudukan dirinya di sandaran kasur. Menatap kosong depannya, bagaimana cara dia tidur di kasur? Walau masih dalam keadaan menggunakan dress yang tadinya mau Ami pakai dinner.
"Ah, paling tidur sendiri ke kasur? Iya, kan? Jawab iya please!!!" teriaknya pada dirinya sendiri. Sebut saja gadis ini sudah gila.
Amira lalu mengusak rambutnya dengan kesal, dia berjalan ke arah cermin untuk melihat penampilannya.
Lipsticknya sudah luntur, entah karna minuman atau karna?
Jari Amira meraba bibirnya lalu bayangan sekelibat ciumannya dengan Alkan terasa nyata. Ini keterlaluan, bibirnya seperti sungguhan merasakan bibirnya Alkan. Sial, sial, sial.
"Ini cuman karna mabuk, kan? Makanya lipsticknya udah luntur."
Mabuk asmara mungkin iya.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar membuat Amira berjalan menuju pintu kamar hotelnya. Mengintip siapa yang datang, disana Alkan sedang menunggu Amira dengan pakaian santainya.
Jantungnya berdegup kencang, entah mengapa dia jadi takut untuk menemui Alkan. Rasa bersalahnya menjalar karna seperti sudah menodai pria itu.
"Ami?" panggil Alkan dari luar sana.
Amira mulai membuka pintu sedikit tidak membuka lebar agae pria itu tidak usah masuk ke dalam.
"Kenapa?"
Alkan mengernyitkan keningnya merasa aneh pada Amira karna gadis itu tidak menatapnya, dia malah menatap lantai dibanding melihat Alkan yang berada di depannya.
"Breakfast?" ajak Alkan mengingat sudah jam untuk memulai sarapan.
"Duluan aja. Aku belum mandi." alibinya. Padahal dia tidak mau berdekatan dengan Alkan.
"Gak usah mandi. Nanti aja pas kita check out sekalian pulang."
Siang ini kepulangan mereka. Masih bingung, rasanya dia liburan ke Singapore ini seperti sia-sia.
"Ayok? Nanti kita shopping." bujuknya seperti daddy sugar yang sedang membujuk sugar babynya dengan tawaran shopping.
Kalau Amira ditawari begitu sih, ya jelas mau. Tapi masalahnya rasa malunya masih merambat ke dalam dirinya. Jadi mau tidak mau dia berlagak jual mahal.
"Gak mau. Kamu sarapan aja duluan."
__ADS_1
Alkan tidak menjawab, malah mendekat ke arah Amira membuat gadis itu mundur jadinya pintu semakin terbuka lebar membuat lelaki itu bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Aku tungguin kamu mandi. Gih sana."
Lelaki itu berjalan dengan santai menuju sofa, SOFA! Ya, sofa! Tempat mereka berciuman dalam mimpinya.
Amira langsung berjalan dengan cepat menahan tubuh Alkan yang akan duduk disana.
"Jangan!" teriaknya membuat Alkan kaget.
"Kenapa? Ada apa sih?" Alkan semakin keheranan melihat tingkah Amira pagi ini.
"Jangan, pokoknya jangan duduk disini. Di kasur aja." tunjuknya pada kasur yang sudah sedikit acak-acakan karna ya bekas tidurnya, iya kan?
"Emangnya kenapa kalau di sofa?" tanyanya dengan alis yang sudah terangkat.
"Gapapa! Udah pokoknya duduk disitu aja." setelah mengatakan itu, Amira mendorong tubuh Alkan agar pria itu duduk di sana dengan anteng.
"Aku mau mandi dulu," katanya sambil mengambil pakaian ganti karna ada Alkan disini, otomatis dia harus memakai baju di kamar mandi.
"Ami," panggil Alkan ketika baru saja Amira mau memasuki kamar mandi itu.
"Kenapa? Kalau laper banget duluan aja."
Detik itu juga Amira ingin menjadi patung singa yang memancurkan air di Negri ini.
...----------------...
Mulut gadis itu dari tadi diam. Bahkan tersentuh sedikit saja langsung menjauh bagai Alkan ini adalah makhluk najis yang tidak boleh bersentuhan.
Mereka sedang berbelanja, lebih tepatnya Amira yang berbelanja dan Alkan mengikuti gadis itu di belakang.
"Mau beli apa?" tanya Alkan membuka suara masih berusaha melancarkan obrolan mereka karna dari tadi Amira hanya menjawab dengan seadanya saja.
"Parfum."
Mereka memasuki store Expensive, Yves Saint Laurent langsung menuju tempat yang terletak jejeran parfum disana.
Tangan Amira ingin mengambil Ysl Mon Paris namun langsung terhenti gerakannya oleh Alkan. "Jangan yang itu."
Amira melirik sekilas tanpa bertanya mengapa karna setelah itu Alkan menjelaskan alasannya.
"Gak cocok. Yang lain aja."
__ADS_1
Masalahnya, aroma Mon Paris itu condong wangi seperti anak remaja atau gadis yang imut-imut begitu dan itu adalah parfum andalan Jia. Sedangkan Amira adalah typical wanita dewasa yang cuek-cuek ramah begitu dan memiliki aura sexy.
"Kenapa? Karna itu wanginya Jia banget, ya?"
Lho? Kenapa Amira jadi sensi?
Gadis itu tahu kalau parfum Jia adalah Mon Paris karna ketika mereka jalan bersama aromanya menguar tercium ke penciuman Amira dengan santun.
"Bukan gitu, astaga. Fitnah banget."
Amira tidak memperdulikan omongan Alkan. Dia langsung mengambil parfum Ysl Libre dan ingin langsung membayarnya segingga dia duluan mau meninggalkan Alkan.
Alkan mengikuti Amira dari belakang sengan sabar.
Ketik di kasir, Amira akan menyodorkan kartunya malah langsung ditangkis oleh Alkan yang mengeluarkan black card. Sedangkan, Amira hanya kartu biasa yang sedang disandingkan oleh kartu mahal.
Kasir itu malah mengambil kartu dari Alkan. Sepertinya tahu kalau uang Alkan jelas lebih banyak daripada Amira, kasirnya tidak ingin mengambil resiko kalau isi dari rekning Amira kekurangan walaupun akan pastinya terbayar.
Ketika acara transaksi pembayaran itu selesai, mereka berdua langsung berjalan keluar dari store itu.
"Mau kemana lagi? Belanja tas? Baju? Atau apa?"
"Nggak. Langsung pulang aja." walaupun banyak uang, Amira bukan type yang suka berfoya-foya belanja, kecuali sedang kesurupan biasanya dia suka memborong.
"Kamu tadi maen ambil parfum aja tanpa tau wanginya enak atau nggak."
Amira langsung mengeluarkan Parfum dari paper bag-nya. Lalu menyemprotkan parfum ke titik dimana dia suka menyemprotkan; di pergelangan tangan, bahu, dan lehernya.
"Udah! Enak kan?" tanyanya dengan nada yang euh tidkak ramah pokonya.
""Nggak kecium." alibinya malah mendekati area leher Amira lalu mengendus disana membuat Amira menahan nafasnya saat itu juga lalu dia mendorong tubuh Alkan agar menjauh.
"Apaan sih?!" tanyanya dengan sewot padahal sedang merasa salah tingkah.
Alkan terkekeuh bukannya merasa bersalah telah membuat anak gadis orang dilanda kegelisahan.
"Iya wangi. Ayok kita pulang atau mau cari makan dulu?" tawarnya padahal mereka habis sarapan di hotel tadi walau pun sedikit tapi Amira kenyang.
"Langsung pulang aja. Aku mau tiduran."
"Iya, aku juga mau ikutan."
Mendengar hal itu Amira langsung menyiku lengannya pada perut Alkan untuk menegur.
__ADS_1