
Jalanan ternyata ramai, tidak salah memang Amira memakai baju serba menutup dirinya agar tidak dikenali. Amira ini cukup profesional dalam perjalanan berpergian alias kabur sendiri. Amira selalu menyiapkan dirinya ketika berpergian keluar tanpa asisten karna pasti akan repot jadi dia sebisa mungkin menutup dirinya agar tidak terlihat orang.
Sungguh, jadi artis adalah penyesalan Amira seumur hidupnya. Dia hidup tak bebas, selalu terkekang, hidupnya bagai tanpa privasi. selalu ada yang mengikutinya, bahkan ada saja yang membencinya padahal dia diam saja. Apalagi wartawan yang haus akan informasi yang siap mereka jual kepada media. Namun, dari sana juga Amira bisa mengambil arah positifnya, dia mempunyai orang yang selalu membuatnya semangat yaitu para fansnya yang selalu mendukungnya dengan bangga mereka akan selalu melindunginya juga.
Sudah cukup membicarakan soal kehidupannya, mari lihat ekspresi Alkan saat pertama kali menginjakan kakinya di kaki lima. Amira kira pria ini akan lebay atau mungkin akan ogah-ogahan. Persepsinya ternyata salah, dia berbanding balik dengan apa yang Amira harapkan. Lelaki itu dengan semangat ingin mencoba mencicipi seluruh makanan yang dijual di sana.
Amira jadi bingung, dia orang kaya betulan kan? Wajahnya menampilkan bahkan dia tidak sabar ingin mencoba satu persatu makanan yang berjejer disana dengan gerobak yang saling mengepulkan asap akibat dari masakan yang sedang mereka masak itu.
"Kita mau makan apa?" Tanyanya dengan nada tidak sabaran.
Amira menatap pria di sampingnya dengan cengo, "Euh... gak tau. Kamu mau makan apa?"
"Saya penasaran sama makanan yang itu, ayam goreng kan itu? Wanginya enak tuh, saya belum pernah nyoba makan dari penjual gini. Mau?" Alkan menunjuk angkringan yang menjual ayam goreng dan tubuh ayam lainnya.
"Boleh, enak loh. Yuk!" Dengan semangat Alkan mengikuti Amira di belakang. Berjalan santai menuju penjual angkringan itu.
Angkringan itu sederhana, memakai tikar lalu diberi meja lumayan kecil untuk para pelanggan makan nanti.
"Kita... makannya duduk di bawah?" Bisiknya dengan wajah kebingungan.
Ini sangat lucu, Amira ingin memotret pria itu kalau boleh. Mengabdikan momen seorang Alkan yang termasuk list orang terkaya makan di pinggir jalan. Wah, bisa ditebak bagaimana para respon netizen, mereka pasti akan semakin mengagungkan seorang Alkan, sudah tampan, cerdas, orangnya sederhana pula! Pasti akan begitu.
"Iya, kenapa? Mau cari tempat lain?" Tawar Amira sebelum mereka benar-benar memesan.
"Ngga, ayok!"
Sepertinya rasa penasaran dia mengalahkan rasa aneh makan sambil duduk di bawah, di tambah pinggiran jalan.
Mereka mengantri untuk memilih apa yang diinginkan, Alkan melirik-lirik ke depan sepertinya lelaki ini benar-benar penasaran.
"Mereka jual apa aja sih, Mi?"
"Ada lele, bebek, sama ayam." Jelasnya karna dia sudah biasa memesan makanan ini dari gofood atau saat kuliah dulu, dia sering mampir kemari.
"Oiya? Saya kira ayam goreng."
__ADS_1
Akhirnya giliran mereka, diberi wadah dan sumpitan untuk mengambil bahan untuk di goreng. Wajah Alkan kembali cengo membuat Amira tergelak.
Mungkin, menurut Alkan apalagi profesinya seorang dokter. Ini terlalu mengerikan apalagi dia teriasa makan yang sudah jadi, tapi ini dia melihat mentahannya walaupun sudah dibumbui, tetap saja membuatnya bergidik ditambah banyak jeroan (organ-organ ayam) disana yang bisa digoreng.
"Kenapa?" Tanya Amira menyadarkan lamunan pria itu.
"Ami."
"Huh?"
"Saya ngeri." Katanya dengan pelan sambil berbisik.
"Kenapa?"
"Saya jadi ingat ruang operasi."
Amira detik itu juga tertawa. Dia melihat tatapan Alkan pada jeroan ayam itu. Sepertinya walau pun dia bukan dokter hewan, namun tetap saja itu mengingatkannya.
"Udah gak usah diinget-inget. Ini enak, kamu mau apa? Biar saya yang ambilin." Penawarannya, sepertinya malam ini Amira berubah menjadi jail dan juga baik hati.
"Saya mau ayam biasa aja, gak pakai jeroannya." Katanya dengan lirih takut terdengar orang lain.
Amira dengan cepat mengambil bagian yang dia inginkan lalu menyerahkan pada penjualnya untuk digoreng segera. Wangi bumbu dari penggorengan itu menyeruak ditambah angin yang terapung-apung membuat si aroma bumbu ikut terbang.
Amira mengajak Alkan duduk di meja kosong. Mereka duduk agak pojokan, di belakang mereka adalah lapangan kosong entah suka dipakai apa namun lapangan itu terpagar oleh benteng berwarna hitam tinggi.
"Ini seriusan enak kan? Kalau gak enak saya minta tanggung jawab, ya."
Tanggung jawab apanya? Memangnya dia menghamili pria ini apa sampai meminta tanggung jawab segala.
"Tanggung jawab sendirilah! Kan kamu yang mau ikut-ikut saya kesini."
"Saya kan gak tau kamu mau kesini. Saya kira kamu ngajak makan di hotel."
"Yaudah salah sendiri."
__ADS_1
"Saya jadi tau kalau penampilan kamu kaya gini berarti kamu mau keluar dari kandang," Katanya membuat Amira bingung.
"Maksudnya?"
"Saya jadi inget pas kamu di bali, ikut sembunyi ke mobil saya. Penampilan kamu kaya maling yang ngendap-ngendap, sekarang maling serba hitam lebih ke kaya ninja mungkin, ya?" Jelasnya.
Amira tergelak mendengar itu, Amira jarang tertawa ketika di dekat Alkan. Atau bahkan memang tidak pernah sebelumnya? Namun, kali ini dia baru menyadari kalau suara tawa Amira sangat renyah, rasanya dia selalu ingin mendengarnya berulang kali, bagai rekaman suara yang akan dia selalu putar ketika dia menginginkannya.
Makanan mereka datang dengan cepat, Amira langsung berterima kasih pada penjual yang telah mengantarkannya.
Nasi, ayam, sambal dan lalapannya. Sudah lengkap tinggal makan. Amira jadi ingin buru-buru makan.
"Saya tau kamu gak suka jeroan, tapi aku sengaja ngambil usus. Kamu harus coba usus goreng ini, enak tau. Serius, kalau bohong aku berani bayar deh." Katanya sambil meletakan sate usus itu pada wadah makan Alkan.
Alkan tersenyum menerimanya, lalu mencobanya. Dia mengangguk-anggukan kepalannya layaknya seperti sedang meresapi rasa dalam usus itu. "Enak ternyata, makasih ya," Senyumnya masih mengembang.
Amira mengangguk, "Okay, mari makan."
"Tunggu, sendoknya mana?" Tanyanya ketika menyadari bahwa tidak ada sendok selain sendok dalam wadah sambal.
Amira langsung tertawa kembali, "Makannya gak pakai sendok, pakai tangan, bisa gak?" Tantangnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Seriusan? Nanti cuci tangannya gimana?"
"Ya, pakai airlah."
"Emang ada wastafel disini? tempat cuci tangan?" Tanyanya dengan wajah polos.
"Ngga, pakai air biasa. Air di kobokan ini," Amira menunjuk wadah yang terisi air itu.
Alkan kira air itu untuk mereka minum, ternyata itu kobokan untuk mereka cuci tangan? Lalu, mana untuk mereka minum?
"Kalau minum?"
"Minumnya ini, teh anget." Amira mengambil teko lalu menuangkan ke dalam gelas, terisi teh penuh teh ke dalam gelas itu lalu menyimpannya di depan Alkan.
__ADS_1
"Teh manis?"
"Teh anget tawar." Katanya dengan senyum meyakinkan, bahwa makan ini akan seru.